Kisah di Balik Nisan Makam Massal Korban Pembantaian Usai G30S Plumbon Semarang

Kisah di Balik Nisan Makam Massal Korban Pembantaian Usai G30S Plumbon Semarang

Afzal Nur Iman - detikJateng
Sabtu, 01 Okt 2022 08:01 WIB
Suasana di makam massal tragedi 1965, Kampung Plumbon, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang, Rabu (24/8/2022).
Suasana di makam massal tragedi 1965, Kampung Plumbon, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang, Rabu (24/8/2022). Foto: Afzal Nur Iman/detikJateng
Semarang -

Makam massal tragedi tahun 1965 di Plumbon, Kota Semarang, resmi diberi nisan pada 2015 lalu. Pemasangan nisan makam yang berada di tengah hutan itu ternyata memiliki cerita panjang.

Disebut makam massal Plumbon karena letaknya yang berada di Dusun Plumbon. Tepatnya berada di bukit lahan milik PT Perhutani yang masuk wilayah RT 07/RW03, Kelurahan Wonosari.

Penginisiasi pemasangan nisan makam itu merupakan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Semarang, Yunanto Adi. Dirinya saat itu mendapat informasi adanya makam massal di situ dari sebuah forum di kampus Unika Semarang pada Juni 2014.


"Dulu Unika itu punya semacam diskusi, forum tapi hanya beberapa hari, dalam beberapa hari itu ada mahasiswa itu memberi info," kata Yunanto saat ditemui di rumahnya di Simongan, Semarang, Rabu (28/9/2022).

Awalnya, dirinya tak terlalu memperhatikan informasi yang sampai kepadanya itu. Hingga pada September di tahun itu, Yunanto terlibat dalam pekan HAM di Semarang.

"Sekitar empat bulan kemudian kita mengadakan peringatan pekan 10 tahun meninggalnya Munir, aktivis HAM. Akhirnya banyak kasus HAM dalam sepekan itu kita bahas dalam bedah-bedah buku, diskusi, seminar, dalam sepekan itu, termasuk bahas kekerasan 65-66," jelasnya.

Suasana di makam massal tragedi 1965, Kampung Plumbon, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang, Rabu (24/8/2022).Suasana di makam massal tragedi 1965, Kampung Plumbon, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang, Rabu (24/8/2022). Foto: Afzal Nur Iman/detikJateng

Baru setelah itu, dirinya berpikir untuk memberi nisan kepada makam itu. Yunanto terinspirasi kepada pemugaran makam massal di Wonosobo pada era Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden.

Ide awalnya, makam itu bisa digali dan dilakukan tes DNA kepada keluarga sebelum kembali dimakamkan dan diberi nisan. Namun, karena segala pertimbangan, dipilih alternatif untuk mendirikan nisan di makam yang sebelumnya hanya ada gundukan batu sebagai penanda.

"Karena tidak ada pihak negara pun yang mau dokumentasi, penggalian itu gagal. Artinya tanpa ada pendokumentasian negara, itu tidak bisa, karena kita bisa dianggap merusak barang bukti kalau kita gali-gali sendiri," ujarnya.

Proses Pendirian Nisan

Yunanto merupakan ketua panitia dalam proses pendirian makam tersebut. Hal pertama yang dia lakukan untuk mendirikan nisan itu adalah berkoordinasi dengan berbagai pihak terutama yang diprediksi akan memberikan penolakan.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...