Round-Up

Jejak Berdarah 'Lubang Buaya Jogja'

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 29 Sep 2022 05:50 WIB
Museum Pahlawan Pancasila di Kentungan Sleman, Rabu (28/9/2022).
Museum Pahlawan Pancasila di Kentungan Sleman, Rabu (28/9/2022). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng
Sleman -

Selain Lubang Buaya di Jakarta Timur, ada pula lubang di Kabupaten Sleman, DIY, yang menyimpan sejarah kelam Gerakan 30 September 1965 (G 30 S). Di lubang yang berada di Dusun Kentungan, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok itu jenazah Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono ditemukan usai dibunuh pada 2 Oktober 1965.

Dirangkum dari liputan tim detikJateng, Rabu (28/9/2022), berikut 5 hal yang jarang diketahui mengenai 'lubang buaya Jogja' tersebut.

1. Di Kompleks Batalyon 403

Lubang dengan kedalaman sekitar 70 sentimeter itu berada di kompleks Batalyon 403, di Dusun Kentungan, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY. Untuk mengenang sejarah kelam G 30 S, lubang itu diabadikan menjadi Museum Monumen Pahlawan Pancasila.


Sebelumnya, museum ini dikenal dengan sebutan monumen 'Lubang Buaya Jogja'. Lubang itu berukuran sekitar 180 x 120 sentimeter, dinaungi bangunan joglo.

Dasar lubangnya masih berujud tanah rata, adapun dinding lubangnya disemen. Lubang itu dikelilingi rantai pembatas.

Di joglo itu terdapat pula papan di bawah lambang Garuda yang bertuliskan 'Lubang Tempat Diketemukan Kedua Pahlawan Revolusi'.

2. Jenazah 2 Perwira

Penjaga museum, Malis Ari Juliyanto, mengatakan di lubang itu jenazah petinggi Batalyon 403 ditemukan, yaitu Komandan Komando Resort Militer 072/Pamungkas Brigadir Jenderal (anumerta) Katamso dan bawahannya, Kasrem 072/Pamungkas Kolonel Infanteri (anumerta) Sugiyono.

"Jadi peristiwanya di sini, di lubang ditemukan dua pahlawan revolusi yang dibunuh yaitu Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono," kata Malis saat ditemui detikJateng, Rabu (28/9).

Seperti 7 Pahlawan Revolusi yang ditemukan di sumur Lubang Buaya di Jakarta, Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono juga menjadi korban peristiwa G 30 S. Keduanya dibunuh pada 2 Oktober 1965.

"(Jasad) Kedua pahlawan itu dimasukkan ke dalam lubang. Jadi kepala menghadap ke barat dan timur dan kaki bertemu di tengah," ucap Malis.

3. Ditimbun, Ditanami Pohon

"Untuk menghilangkan jejak, pada waktu itu yang mengeksekusi ada tiga orang, karena lubang ini di pinggir kawat berduri, jadi jalannya itu lurus menghubungkan Jalan Kaliurang dan Condongcatur. Waktu itu juga jalan pintas untuk warga, makanya untuk menghilangkan jejak ditanami ubi jalar dan pohon pisang," ujar Malis.

4. Tercium Bau Busuk

Jenazah Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono baru bisa ditemukan sekitar tiga minggu setelah kejadian.

"Lama-kelamaan, karena kedalaman 70 sentimeter, tercium bau busuk. Katanya ada warga lewat mencium bau busuk terus memberitahu anggota Suryosumpeno, Kodam, kok ada bau busuk di pinggir kawat berduri, barulah ketemu di sini," ucap Malis.

5. Kenaikan Pangkat

Katamso Darmokusumo dan Sugiyono yang gugur dalam tragedi '65 tersebut kemudian dinaikkan pangkatnya setingkat secara anumerta.

Dua sosok perwira militer tersebut kemudian dianugerahi penghargaan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Revolusi.



Simak Video "Kafe Tak Berizin di Babarsari Disegel, Sempat Terjadi Perlawanan"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/sip)