Kisah Kelam dan Bau Busuk Jembatan Bantengan Klaten Tempat Eksekusi PKI

Terpopuler Sepekan

Kisah Kelam dan Bau Busuk Jembatan Bantengan Klaten Tempat Eksekusi PKI

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 01 Okt 2022 10:54 WIB
Jembatan Bantengan di Jalan Klaten-Karanganom, Kecamatan Karanganom, Klaten, Selasa (27/9/2022).
Jembatan Bantengan di Jalan Klaten-Karanganom, Kecamatan Karanganom, Klaten, Selasa (27/9/2022). (Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Jembatan Bantengan di Jalan Klaten-Karanganom wilayah Desa Tarubasan, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, menyimpan cerita kelam seputar peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Konon jembatan itu menjadi tempat eksekusi orang-orang yang dituduh anggota atau partisipan Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Dulu kalau tidak salah ada sekitar seratusan, 127 orang kalau tidak keliru. (Eksekusi) Di barat jembatan dan timur jembatan yang sisi utara dan selatan," kata sesepuh Desa TarubasanBani (73) warga setempat kepada detikJateng, Rabu (21/9).

Diceritakan Bani, saat itu usianya baru sekitar 16 tahun. Calon-calon korban, kata Bani, dibawa ke area jembatan itu pada sekitar usai isya.


"(Eksekusi) Habis isya biasanya, truk diparkir di selatan desa lalu orang-orang itu dibawa ke bawah jembatan. Ada yang ditembak, ada yang tidak," ucap Bani.

Saat proses eksekusi berlangsung, ujar Bani, sebagian warga sekitar Jembatan Bantengan menyaksikan dari kejauhan.

"Ada yang ditembak di pojok lapangan (Kadirejo) awalnya. Kalau sore mau ada kiriman (orang-orang yang akan dieksekusi) warga biasanya kumpul, menonton," terang Bani.

Bani mengatakan, orang-orang yang dieksekusi itu bukan warga sekitar Karanganom, tapi orang dari jauh yang tak dikenal oleh warga sekitar. Setelah dieksekusi, mayatnya dikuburkan oleh teman mereka sendiri.

"Yang mengubur juga bukan warga sini. Yang menguburkan ya tahanan PKI sendiri yang tidak dieksekusi, PKI yang sudah menyerah," papar Bani.

Menurut ingatan Bani, eksekusi di Jembatan Bantengan itu terjadi pada akhir Oktober 1965. "Kanan kiri jembatan itu dulu tidak rata, ada cekungan dalam dan jembatan masih kecil dengan alas papan kayu. Mereka diminta turun ke lubang yang sudah dipondasi itu, lalu ditembak dari atas," kenang dia.

Dua dasawarsa kemudian, sekitar tahun 1978, Jembatan Bantengan dibangun menjadi seperti sekarang. ''Saat jembatan dibangun, yang di selatan jembatan itu tulang belulang muncul. Lalu dirawat, dibuatkan peti, dan dikubur lagi di utara," kata Bani.

Warga lain, Komari (90) mengatakan proses eksekusi pada 1965 itu juga dilakukan di selatan jembatan, dekat dengan sawah yang digarapnya.

"Sawah saya di selatan tapi sisi barat, yang untuk nembaki yang sisi timur. Dulu jembatan masih sesek (papan kayu), belum dibangun seperti sekarang," kata Komari kepada detikJateng.

Komari mengenang dirinya bersama warga lain biasa menonton proses eksekusi itu. "(Mereka) Dijajar di bawah jembatan. Orangnya dari jauh, dari sana," ujar Komari sambil menunjuk ke arah Gunung Merapi.

Secara terpisah, Kaur Keuangan Desa Tarubasan, Karanganom, Sugiarto mengaku mendengar cerita tentang eksekusi para tokoh PKI di sekitar Jembatan Bantengan itu dari cerita orang-orang tua.

"Menurut cerita orang-orang tua memang untuk itu (eksekusi). Tapi saya tidak menyaksikan langsung karena saat itu saya baru umur 1 tahun," kata Sugiarto kepada detikJateng di kantornya.

Pantauan detikJateng, arus lalu lintas di Jembatan Bantengan sepanjang sekitar 30 meter itu cukup ramai. Jembatan itu berada di tengah persawahan antara Desa Tarubasan, Karanganom, dengan Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen.

Jembatan Bantengan itu berjarak sekitar 200 meter dari permukiman Desa Tarubasan dan sekitar 400 meter dari Desa Tempursari. Di kanan kiri ujung jembatan itu ada tebing dan rumpun bambu. Sedangkan di sisi timur bagian utara jembatan digunakan untuk tempat pembuangan sampah.

Tentang Bau Busuk yang Menyeruak Kala Itu

Seorang warga setempat, Sartono (70), menceritakan Jembatan Bantengan dulunya terbuat dari bambu dan kayu. Jalannya menurun dan sering untuk memandikan kerbau.

"Saya tidak tahu pasti, tapi mungkin karena untuk memandikan kerbau jadi disebut Bantengan. Dulu jembatan sesek bambu," imbuh Sartono.

Warga lain, Priyo Suharjo (74) menuturkan jembatan itu dulunya jalan menurun dan terbuat dari bambu.

Simak lebih lengkap di halaman berikutnya...



Simak Video "Belasan Pasangan di Klaten Ikut Nikah Massal, Pengantin Tertua 80 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]