Jabar Hari Ini: Horor Pembantaian Kucing hingga Eks Walkot Banjar Divonis 7 Tahun Bui

Jabar Hari Ini: Horor Pembantaian Kucing hingga Eks Walkot Banjar Divonis 7 Tahun Bui

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 03 Okt 2022 22:01 WIB
Polisi melakukan penggalian terhadap kuburan kucing di pasar Indihiang Tasikmalaya.
Polisi usut kasus pembantaian kucing di Tasikmalaya (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar).
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini. Dari mulai vonis eks Walkot Banjar lebih tinggi satu tahun dari tuntutan hingga aksi pembantaian puluhan kucing di Tasikmalaya diusut polisi.

Berikut rangkuman beritanya:

Eks Walkot Banjar Herman Sutrisno Divonis 7 Tahun Bui

Mantan Wali Kota Banjar Herman Sutrisno divonis 7 tahun penjara. Herman dinyatakan bersalah usai melakukan korupsi pengaturan lelang di Kota Banjar.


Vonis terhadap Herman dibacakan majelis hakim Pengadilan Tipikor Bandung dalam sidang pada Senin (3/10/2022). Herman dinyatakan bersalah sesuai Pasal 12 huruf b UU Tipikor Jo Pasal 65 ayat (1) sebagaimana dakwaan ke satu pertama dan Pasal 12 B UU Tipikor Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

"Mengadili, menyatakan terdakwa Herman Sutrisno dipidana penjara selama tujuh tahun," ujar hakim Eman Sulaeman saat mebacakan amar putusannya hari ini.

Hakim juga menjatuhi hukuman denda sebesar Rp 350 juta subsidair satu tahun penjara.

"Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang dijalani terdakawa, dikurangkan hukuman pidana yang dijatuhkan," kata hakim.

Vonis terhadap Herman lebih besar ketimbang tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa KPK menuntut Herman dengan hukuman 6 tahun penjara.

Atas vonis tersebut, Herman mengambil sikap pikir-pikir. Hal itu diungkapkan Dedi Suhadi kuasa hukumnya. "Terdakwa nanti berbicara, kalau banding saya siap. Terdakwa pikir-pikir," katanya.

Sebelumnya sebagaimana dakwaan, Mantan Wali Kota Banjar Herman Sutrisno meraup duit hingga Rp 2,2 miliar lebih selama menjabat sebagai kepala daerah. Duit itu diduga dari hasil Herman mengatur pemenang lelang proyek pekerjaan di Kota Banjar.

Dalam dakwaannya, jaksa menyebut Herman menerima duit selama menjabat sebagai Wali Kota dari 2008 sampai 2013.

Duit tersebut didapat Herman dari Rahmat Wardi selaku direktur CV Prima. Perusahaan tersebut diketahui bergerak di bidang jasa konstruksi. Adapun Herman dan Rahmat Wardi sudah saling mengenal saat keduanya aktif di salah satu organisasi masyarakat.

"Padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya," kata JPU.

Polisi Usut Horor Pembantaian Kucing di Tasikmalaya

Aparat Polres Tasikmalaya Kota mulai turun tangan menyelidiki kasus pembantaian kucing di pasar Indihiang dan pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya.

Polres Tasikmalaya Kota menerjunkan tim Inafis untuk menggali dan mengidentifikasi bangkai 7 ekor kucing yang ditemukan di pasar Indihiang hari ini.

Tim Inafis dan aparat Polsek Indihiang melakukan penggalian untuk memastikan keberadaan bangkai 7 ekor kucing yang ditemukan dan dikuburkan oleh warga pada Sabtu (1/10) lalu.

Hasilnya ditemukan bangkai kucing sesuai dengan foto yang beredar sebelumnya. Ada 7 ekor kucing yang dimutilasi. Polisi kemudian melakukan pemeriksaan dan mengambil dokumen, sebelum akhirnya bangkai kucing itu dikuburkan kembali. Ada 4 bangkai anak kucing dan 3 bangkai kucing dewasa.

Kapolsek Indihiang AKP Iwan mengatakan penyelidikan ini dilakukan menyusul adanya pengaduan dari komunitas pecinta kucing di Tasikmalaya. "Ya dalam laporan memang ada belasan atau puluhan kucing yang dibunuh di pasar Cikurubuk dan pasar Indihiang. Yang di Indihiang ini merupakan wilayah kami sehingga kami ikut melakukan penyelidikan mendampingi tim Inafis," kata Iwan.

Dia menegaskan pihaknya serius menangani perkara ini. "Sedang kami selidiki mudah-mudahan bisa segera terungkap. Mohon doa dan dukungan masyarakat," kata Iwan.

Terkait motif dari pelaku, Iwan mengaku belum bisa menyampaikan karena proses penyelidikan masih dilakukan. "Belum, masih kami selidiki. Mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi-saksi," kata Iwan.

Dia menjelaskan perbuatan menyakiti atau membunuh hewan merupakan tindak pidana. Hal itu diatur dalam pasal 302 KUHP.

"Untuk pasal belum bisa kami sampaikan karena perkaranya belum terungkap. Tapi untuk sementara memang di KUHP pasal 302 diatur bahwa perbuatan menyakiti hewan sampai mati bisa dipidana dengan ancaman 9 bulan penjara," kata Iwan.

Dia mengakui bahwa temuan kasus ini relatif tak lazim. Karena pembantai kucing ini terjadi di dua tempat berbeda dengan pola yang memiliki kemiripan. Lokasinya sama-sama di pasar dan sama-sama dimutilasi dengan organ dalam dan darahnya hilang.