Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria ikut beri tanggapan terkait rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang ingin menutup program studi (prodi) yang tak relevan dengan industri. Ia menyebut langkah yang menjadi bagian dari transformasi pendidikan tinggi ini sudah tepat.
"Saya kira transformasi pendidikan tinggi, saran saya kepada Pak Brian (Menditisaintek) itu sudah tepat," kata Arif kepada wartawan dalam BRIN 5.0: Inovasi untuk Negeri, di Ruang Jirap, Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026).
Pendidikan Tinggi Harus Ditransformasi
Arif menyebut survei LinkedIn menyatakan kebutuhan skill akan berubah dalam waktu lima tahun secara signifikan. Untuk itu, skill yang relevan pada industri akan berbeda saat mahasiswa masuk dan lulus kuliah. Skill yang relevan disebut Arif akan tersisa 60 persen.
"Jadi mahasiswa masuk kuliah, kemudian lulus, ilmunya gak relevan lagi. Bayangkan, itu yang terjadi," ungkapnya.
Dalam menghadapi hal itu, Arif menilai pendidikan tinggi harus bertransformasi. Termasuk, dalam hal menghadirkan prodi-prodi yang relevan dengan perkembangan industri.
"Sehingga apa yang digagas oleh Pak Mendikti itu memang dalam rangka untuk menyelamatkan pendidikan tinggi kita, agar tidak jauh tertinggal dari kecepatan industri," jelasnya lagi.
Proses riset dan development di Indonesia dijelaskan Arif kini berjalan dengan cepat. Ketika, sumber daya manusia (SDM) Indonesia kurang andal, ketertinggalan menjadi suatu hal yang tak terhindarkan.
Kini penyeimbangan kemampuan mahasiswa dengan industri diwujudkan dalam model kuliah mikrokredensial. Mikrokredensial adalah suatu pendekatan yang membuat mahasiswa belajar sesuai dengan perkembangan ilmu dan teori terkini yang relevan dengan kepentingan industri.
Pendekatan ini diberikan oleh banyak perusahaan. Ketika menyelesaikannya, seseorang akan mendapatkan sertifikasi yang disebut Arif kadang-kadang lebih bermakna daripada sekedar ijazah.
"Karena orang yang mendapatkan sertifikasi, 6 bulan ngambil kursus di lembaga-lembaga itu, ketika lulus, maka itu lebih powerful daripada kita," katanya.
Berdasarkan hal itu, ia kembali menegaskan bila dunia pendidikan harus bisa beradaptasi dengan perkembangan industri yang cepat. Meskipun ia menyadari merubah kurikulum atau sistem yang ada sangatlah berat.
"Merubah kurikulum itu susah sekali. Kenapa? Karena memang harus berbasis pada riset. Tapi kalau kita gak tegas demi menyelamatkan masa depan, yang terjadi (bisa) ketinggalan semua," tegas Arif.
Pentingnya Menyiapkan Orang yang Mau Belajar
Arif menambahkan, pendidikan tinggi harus bisa menyiapkan orang yang pembelajar (mau belajar). Saat ini, manusia menghadapi tantangan kecepatan, perubahan, dan ketidakpastian.
Ketika seseorang memiliki mentalitas pembelajar, mereka akan cepat belajar berbagai hal dan bisa diterima pada kondisi apa pun. Salah satu upaya mewujudkannya yakni melalui transformasi pendidikan tinggi.
"Jadi memang saya kira transformasi itu menjadi keharusan dan menyiapkan prodi-prodi yang sesuai dengan tren ke depan, sesuai dengan kebutuhan industri juga harus," tandasnya.
Simak Video "Video Universitas Indonesia Belum Pernah Tutup Program Studi"
(det/nah)