Pakai AI, Begini Cara Rifaldy Bikin Riset Palsu untuk Ikut Konferensi Dunia

ADVERTISEMENT

Pakai AI, Begini Cara Rifaldy Bikin Riset Palsu untuk Ikut Konferensi Dunia

fahri zulfikar - detikEdu
Rabu, 03 Jun 2026 17:59 WIB
Rifaldy Bikin Riset Palsu dengan mencatut Universitas Muhammadiyah Bulukumba untuk Ikut Konferensi Internasional.
Foto: Tangkapan Layar Instagram @lp2m_umbulukumba/Rifaldy Bikin Riset Palsu dengan mencatut Universitas Muhammadiyah Bulukumba untuk Ikut Konferensi Internasional.
Jakarta -

Rifaldy Fajar mengakui telah mencatut Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) di dalam 51 karya 'riset palsu' yang disertakan untuk konferensi internasional. Rifaldy menyebut 15 di antaranya ada nama ibu kandungnya, Elfiany Syafruddin, dengan afiliasi Universitas Muhammadiyah Bulukumba.

"Pertama-tama, saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Universitas Muhammadiyah Bulukumba karena telah melakukan kesalahan saya, yaitu mencatut Universitas Muhammadiyah Bulukumba tanpa melakukan konfirmasi kepada Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Bulukumba secara langsung. Saya akui menjadi salah satu kesalahan saya dalam proses pencatutan UMB di beberapa karya yang saya lakukan," ucapnya dalam unggahan Instagram @lp2m_umbulukumba, Rabu (3/6/2026).

"Di sini saya ingin mengakui bahwa sejauh ini setelah saya rekap di 2-3 hari terakhir ini sebelum saya ke UMB, total karya yang menyangkut nama ibu kandung saya dan juga Universitas Muhammadiyah Bulukumba, kalau ditotal, yang nama pertama (sebagai peneliti) itu ada sekitar 15 nama. Kemudian yang sebagai nama kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya itu ada sekitar 36 nama, sehingga totalnya itu sekitar 51 karya," lanjutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rifaldy mengatakan bahwa penggunaan UMB dan ibu kandungnya dilakukan untuk mendapatkan travel grant atau bantuan dana untuk konferensi ke luar negeri. Ia melakukan pencatutan nama UMB sejak 2024.

"Jadi, memang UMB itu terpakai dari 2024 sampai 2025, tetapi ada beberapa konferensi yang daftarnya itu sampai 2025 akhir, tapi di diadakan di awal 2026," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Cara Rifaldy Daftar Konferensi Internasional: Riset dengan Buatan AI

Secara singkat, Rifaldy menjelaskan bahwa kebanyakan konferensi yang dilakukan hanya dengan mengirim abstrak (karya). Namun, pembuatan karya tersebut diakui Rifaldy, sangat berlebihan.

Ia juga mengakui bahwa riset yang dibuat tidak perlu memakai data asli. Kebanyakan Rifaldy hanya mengandalkan koding yang meminta langsung ke AI untuk diproses menjadi riset.

"Kita akui ada penggunaan AI yang sangat berlebihan di sini dan dalam proses riset saya ini karena memang mostly dominan koding-kodingnya kita minta langsung dari AI, seperti itu. Tapi kalau riset saya sendiri itu kan model matematika atau machine learning dan segala macam itu memang tidak perlu yang namanya tuh data asli. Kadang juga kita ada data asli langsung kita masukkan ke ChatGPT atau langsung juga kita minta koding yang sesuai untuk proses data ini, ataupun kalau model matematika itu lebih ke bagaimana menggunakan angka parameter tertentu yang kita pilih untuk kita masukkan ke model kita," ungkapnya.

Dia juga mengatakan menggunakan proof of concept atau dummy data/resampling data. Dengan ini, Rifaldy perlu data yang super lengkap atau asli.

"(Tidak perlu data asli) tapi bagaimana kita meniru dari sebuah sistem, seperti itu. Jadi, lebih ke banyak kombinasi sekali memang di sini, tapi memang kami sangat dibantu AI, begitu. Jadi, ya, itu agak susah juga untuk menjelaskan, karena memang saling terkombinasi, begitu," imbuhnya.

UMB Minta Abstrak Ditarik, Tapi...

Dalam klarifikasinya, Rifaldy juga mengakui telah melanggar kode etik. Semua ia lakukan demi kepentingan pribadi.

"Saya mengakui bahwa itu kesalahan saya dan memang saya tidak mengikuti kode etik yang ada karena semua kesewenang-wenangan dari diri saya untuk mencantumkan UMB tanpa melakukan konfirmasi. Itu semata-mata memang bisa dibilang juga lebih ke memikirkan diri saya pribadi karena sifatnya untuk mencari grant dan sebagainya. Saya memohon maaf akan hal itu dan saya bersiap juga untuk bagaimana proses dari UMB itu sendiri," katanya.

Sementara itu, UMB meminta Rifaldy menarik semua abstrak yang mencatut nama kampus. Namun, sejauh ini, langkah yang dilakukan hanya sebatas mengirim email ke penyelenggara konferensi dan baru direspons dua karya.

"Kemudian juga, sejauh ini kalau untuk publish yang full paper itu belum ada karena memang sifatnya sejauh ini masih sebatas abstrak yang muaranya itu lebih ke poster ataupun oral, tapi lebih kebanyakan poster memang," jelasnya.

"Sebenarnya saya sudah melakukan beberapa proses withdraw atau retraction (menarik kembali) di email beberapa konferensi juga. Sejauh ini sudah ada dua respons dari beberapa karya itu, tetapi memang istilahnya sudah berlalu, apalagi yang ada sudah 2 tahun dari 2024 ya, tapi saya tetap mengupayakan dulu, mengusahakan dulu bagaimana jalan keluar terkait ini," tuturnya.

Kasus Riset Palsu di Konferensi Internasional

Sebelumnya, nama Rifaldy Fajar tengah menjadi pembicaraan usai viral di media sosial melakukan pemalsuan riset demi mengikuti konferensi internasional di luar negeri. Setelah terbongkar, terkuak berbagai afiliasi palsu yang mencatut berbagai nama dan institusi, termasuk UMB.




(faz/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads