Makan malam terlalu dekat dengan waktu tidur sering kali dianggap sepele. Padahal kebiasaan ini bisa membuat tubuh belum selesai mencerna makanan ketika kita sudah terlelap.
Tak heran jika sebagian orang kemudian mengalami perut terasa penuh, tidak nyaman, atau tidur kurang nyenyak. Sebenarnya berapa lama sebaiknya memberi jeda antara makan malam dan waktu tidur.
Spesialis jantung di Narayana Hospital, Jaipur, India, dr Devendra Kr Shrimal, mengatakan, langsung tidur setelah makan malam umumnya tidak akan menyebabkan masalah jantung secara langsung, tetapi dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama pada orang yang mengalami refluks asam lambung.
"Makan tepat sebelum tidur tidak secara langsung menyebabkan serangan jantung atau penyakit jantung. Tetapi tidur segera setelah makan besar atau larut malam dapat mempengaruhi pencernaan, tidur, dan refluks asam. Makan sangat larut dan memiliki pola tidur yang tidak teratur juga dapat menyebabkan faktor risiko metabolik dan kardiovaskular seiring waktu," katanya dikutip detikHealth dari laman Hindustan Times.
Baca juga: 6 Kebiasaan yang Bisa Bikin Diet Gagal |
Menurut dr Shrimal, refluks asam lambung menjadi salah satu masalah utama yang perlu diperhatikan. Berbaring tidak lama setelah makan malam membuat asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan, terutama setelah mengonsumsi makanan dalam porsi besar, berlemak, atau pedas.
"Gravitasi tidak ada untuk menahan isi perut agar tetap di bawah saat Anda berbaring sesaat setelah makan. Hal ini dapat menyebabkan asam lambung mengalir kembali ke kerongkongan, terutama setelah makan makanan yang banyak, berlemak, atau pedas. Mereka yang sudah menderita asam lambung atau penyakit refluks gastroesofageal (GERD) mungkin akan mengalami mulas, rasa asam di mulut, batuk, atau kesulitan tidur di malam hari," jelasnya.
Dari sisi kesehatan jantung, ia mengatakan bahwa hal yang lebih perlu diperhatikan adalah pola makan terlalu larut, kualitas tidur yang buruk, dan rutinitas yang tidak teratur, bukan sekadar tidur segera setelah makan malam dalam satu kesempatan. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi metabolisme, tekanan darah, dan aspek lain yang berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular.
"American Heart Association melaporkan bahwa jadwal tidur dan makan yang tidak teratur mungkin terkait dengan faktor risiko kardiometabolik seperti obesitas, resistensi insulin, dan tekanan darah tinggi. Namun, para ilmuwan masih berupaya menentukan sejauh mana waktu makan benar-benar meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dari waktu ke waktu," kata dr Shrimal.
Dokter tersebut juga menjelaskan bahwa makanan dan tidur memiliki hubungan dua arah. Mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak atau dengan komposisi yang tidak seimbang menjelang tidur dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu kualitas tidur.
Sebaliknya, kurang tidur dapat memengaruhi nafsu makan, pilihan makanan, dan kesehatan metabolik.