6 Kebiasaan yang Bisa Bikin Diet Gagal

6 Kebiasaan yang Bisa Bikin Diet Gagal

Elmy Tasya Khairally - detikSumut
Minggu, 20 Sep 2026 08:01 WIB
Ilustrasi stres
Ilustrasi stres. (Foto: Getty Images/D-Keine).
Jakarta -

Penurunan berat badan kerap kali dihubungkan dengan pembatasan asupan kalori sehari-hari. Padahal, pola hidup secara keseluruhan juga bisa berperan dalam menentukan keberhasilan upaya menurunkan berat badan.

Dilansir detikHealth dari Hindustan Times, ahli nutrisi asal India, Sudiksha, yang berfokus pada penurunan berat badan dan kesehatan tiroid, mengungkapkan enam kebiasaan yang terlihat sepele namun bisa menghambat upaya menurunkan berat badan.

"Ketika berat badan saya berlebih hingga 30 kg, saya terus menyalahkan makanan. Tapi kenyataannya? Bukan apa yang saya makan, melainkan bagaimana saya hidup," katanya dalam media sosialnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lemak perut dan pinggul pada wanita jarang disebabkan oleh kalori. Hampir selalu disebabkan oleh hormon, stres, dan kebiasaan sehari-hari yang membuat tubuh Anda tetap dalam mode penyimpanan lemak," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Berikut beberapa kebiasaan yang bisa membuat diet gagal:

1. Melewatkan Waktu Makan

Banyak yang percaya bahwa melewatkan makan dapat membantu menurunkan berat badan lebih cepat. Tapi, hal ini adalah kesalahpahaman yang pada akhirnya dapat menjadi bumerang.

"Tubuh Anda memasuki mode bertahan hidup, kortisol meningkat, dan lemak disimpan di sekitar perut dan pinggul sebagai perlindungan," katanya.

2. Tidur Setelah Jam 12 Malam

Kebiasaan menunda waktu tidur dapat memengaruhi lebih dari sekadar kualitas tidur, tingkat energi, dan fokus pada hari berikutnya.

Melanggar jam biologis tubuh juga bisa mengganggu ritme metabolisme. Pada gilirannya, hal itu bisa memengaruhi hormon yang mengatur fungsi tubuh utama.

"Begadang mengganggu ritme sirkadian Anda dan memperlambat hormon pembakar lemak seperti leptin dan tiroid," katanya.

3. Stres Kronis

Stres kronis bisa bikin kadar kortisol tetap tinggi dalam jangka waktu lama dan mengganggu keseimbangan hormonal alami tubuh. Ketika kortisol kehilangan ritme harian normalnya, kondisi ini bisa mengganggu cara tubuh menyimpan dan memproses lemak.

"Stres mental sama dengan kortisol fisik. Dan titik penyimpanan pertama kortisol adalah lemak perut," katanya.

4. Mengonsumsi Camilan "Sehat" dengan Kandungan Gula Tinggi

Sejumlah produk olahan dan kemasan yang dipasarkan sebagai "camilan sehat" mungkin punya kalori tersembunyi, gula tambahan, serta bahan-bahan lain yang kurang bergizi. Meski bisa menjadi pilihan praktis, terlalu bergantung pada produk-produk ini bisa menghambat tujuan penurunan berat badan.

"Granola, protein bar, biskuit, semuanya meningkatkan kadar insulin dan sepenuhnya menghambat penurunan lemak."

5. Makan karena Emosi

Dilansir dari laman Healthline, stres dapat menyebabkan makan karena emosi sebagai mekanisme penanggulangan. Kombinasi antara keinginan yang dipicu stres, dan konsumsi makanan kaya kalori dapat berkontribusi pada penambahan berat badan.

"Tubuh Anda mencoba meredakan stres dengan makanan, terutama karbohidrat. Ini bukan karena kurang disiplin, tetapi karena sistem saraf mengalami kelebihan beban."

6. Tidak Memberi Waktu bagi Sistem Saraf untuk Tenang

Punya beberapa cara sehat untuk mengelola stres dan menenangkan diri sepanjang hari merupakan hal penting.

"Jika saraf vagus Anda tidak pernah tenang, tubuh tidak akan melepaskan lemak yang tersimpan, sebersih apa pun pola makan Anda," kata Sudiksha.

Ahli gizi itu menyimpulkan, "Tubuh Anda bukan keras kepala. Tubuh sedang melindungi Anda. Ubah kebiasaan-kebiasaan ini, dan hormon Anda juga akan berubah."



(dhm/dhm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads