Mengenal Bongsang, Kerajinan Bambu Wadah Tahu Sumedang

Mengenal Bongsang, Kerajinan Bambu Wadah Tahu Sumedang

Nur Azis - detikJabar
Minggu, 25 Sep 2022 10:11 WIB
Bongsang, wadah untuk Tahu Sumedang
Bongsang, wadah untuk Tahu Sumedang (Foto: Nur Azis/detikJabar)
Sumedang -

Tahu Sumedang merupakan salah satu ikon kuliner bagi Kabupaten Sumedang. Selain bentuk dan rasanya yang lezat, ciri khas lainnya yakni dikemas dengan sebuah wadah yang namanya bongsang.

Bongsang adalah sebuah keranjang kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Wadah ini digunakan bagi mereka yang membeli tahu Sumedang.

Eksistensi bongsang boleh dibilang tidak terlepas dari kepopuleran tahu Sumedang. Atau dapat diibaratkan seperti botol dengan tutupnya.


Seperti dikutip dari buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang oleh M. Luthfi Khair A, Rusydan Fathy (2021 :120), Bungkeng dan tahu Sumedang sejatinya juga membawa berkah bagi pelaku usaha lain. Perajin keranjang bongsang (wadah yang digunakan ketika membeli tahu Sumedang yang terbuat dari anyaman bambu) dapat hidup karena adanya tahu Sumedang.

Tahu Sumedang, dengan demikian, mampu menggerakkan ekonomi lokal masyarakat, ekonomi kerakyatan yang mana bagi Indonesia, juga merupakan tumpuan bagi ekonomi nasional.

Salah satu pengurus UMKM Bongsang Jembar Sawargi di Dusun Cinungku, Desa Cikonengkulon, Ade Sukiman menjelaskan, Desa Cikoneng dan Desa Cikonengkulon merupakan salah satu sentra para perajin bongsang.

"Desa Cikonengkulon terbagi ke dalam tiga dusun, yakni Cinungku, Nagrak dan Cimareme dan dari tiga dusun itu yang masih banyak perajinnya di Desa Cikonengkulon yaitu Dusun Cinungku dan Nagrak," terang Ade kepada detikjabar, Sabtu (24/9/2022).

Ade sendiri menampung bongsang tidak hanya dari dusunnya saja. Akan tetapi menampung dari dusun yang ada di sekitarnya.

"Kita juga menampung bongsang dari perajin bongsang dari dusun lainnya seperti dari Dusun Cijengkol di Desa Cikoneng dan dusun lainnya," ujarnya.

Ade menuturkan, ada sekitar 30 perajin di bawah naungan UMKM Bongsang Jembar Sawargi. Para perajin ini dalam satu minggunya rata-rata mampu menyetorkan sekitar 3 sampai 4 kontet (1 kontet berisi 100 bongsang).

"Atau satu bulan rata-rata mampu menjual sekitar 300 kontet," ujarnya.

Ade menyebut, permintaan bongsang akan meningkat jika akan menghadapi hari-hari besar, seperti Idul Fitri, Idul Adha dan hari besar lainnya.

"Dalam sebulan bisa sampai 1.500 kontet permintaannya," ujarnya.

Bongsang-bongsang hasil para perajin Dusun Cinungku sendiri banyak diminati oleh sejumlah konsumen baik lokal atau luar daerah.

"Untuk sekarang-sekarang ini penjualan bongsang untuk luar daerah seperti ke Kalimantan, Sumatera seperti Jambi dan daerah lain disana, Kuningan, Jakarta, Sukabumi dan daerah lainnya," terangnya.

"Kenapa di Kalimantan, Sumatera atau daerah lainnya banyak konsumen bongsang, karena di daerah-daerah itu banyak orang Sumedang yang sukses mendirikan pabrik tahu, jadi disana pun sama buat wadah tahu," Ade menambahkan.

Harga bongsang Cinungku sendiri untuk satu kontetnya dihargai pada kisaran Rp 43 ribu.



Simak Video "Menikmati Berbagai Kuliner Khas Kota Sumedang"
[Gambas:Video 20detik]