Sejarah Bandung: Negeri 30 Rumah yang jadi Pusat Pemerintahan Kolonial

Sudirman Wamad - detikJabar
Jumat, 23 Sep 2022 07:00 WIB
ugu 0 KM Bandung menjadi saksi perkembangan Kota Kembang dari masa ke masa. Sejak era kolonial hingga saat ini.
Tugu 0 KM Bandung menjadi saksi perkembangan Kota Kembang dari masa ke masa. Sejak era kolonial hingga saat ini. (Foto: Sudirman Wamad/detikJabar)
Bandung -

Tepat pada 25 September nanti, usia Kota Bandung genap 212 tahun. Bandung punya sejarah panjang. Dari kebun kopi hingga jadi ibu kota pemerintahan.

Dikutip dari jurnal Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung yang disusun Nandang Rusnandar yang berjudul 'Sejarah Kota Bandung "Bergedessa" (Desa Udik) Menjadi Bandung "Heurin Ku Tangtung" Metropolitan, yang terbit di Pantajala Vol 2 No 2 Tahun 2010, awalnya pada tahun 1641, seorang Mardijker bernama Julian de Silva melaporkan yang tertuang dalam dagregister --catatan harian--.

Julian menyatakan ungkapan "Aen een negorij genaemt Bandong, bestaende uijt 25 'a 30 huysen.....". Ungkapan itu memiliki arti ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri dari 25 sampai 30 rumah.


Singkatnya, Bandung berkembang. Kedatangan tiga orang Eropa, salah satunya tentara yang dibuang mengubah Bandung. Membangun jalan untuk pengiriman kopi. Ini terjadi seabad setelah Mardijker bernama Julian de Silva tiba di Bandung.

Kemudian, pada era Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808 - 1811), dibangun jaringan jalan di Pulau Jawa sepanjang 1.000 km, dari Anyer di ujung barat Pulau Jawa (sekarang Provinsi Banten) hingga Panarukan di ujung timur Pulau Jawa.

Jalur jalan Anyer-Panarukan ini, ketika memasuki daerah Bandung tidak melewati Ibu kota Kabupaten Bandung, Karapyak (Dayeuh Kolot Sekarang) yang pada waktu itu terletak 11 km ke arah selatan dari jalurnya. Kenyataan ini membuat Gubernur Jenderal Daendels menerbitkan Surat Keputusan tertanggal 25 Mei 1810, yang memerintahkan kepada Bupati Bandung dan Bupati Parakan Muncang agar memindahkan ibu kotanya masing-masing ke tepi jalan raya.

Berdasarkan surat keputusan tersebut, maka Bupati Bandung RA Wiranatakusumah II (1794-1829) memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari Karapyak, ke daerah sebelah utara Jalan Raya Pos (De Grote Postweg), dalam rangka usaha dan persiapan membangun ibu kota baru di tepi Sungai Cikapundung. Wilayah yang dekat Jalan Raya Pos sedang dibangun. Hal ini ditetapkan setelah beberapa kali pemilihan daerah yang dianggap cocok untuk sebuah pendopo. Biasanya pemilihan lahan untuk dijadikan tempat tinggal atau didirikannya sebuah bangunan masih berpegang teguh pada tatali karuhun atau kearifan lokal.

Tempat yang harus dipilih, selain letak geografinya strategis, juga harus memenuhi syarat yang bersifat mistik. Menurut kepercayaan tradisional masyarakat Sunda, tempat yang baik untuk dijadikan dayeuh (pusat pemerintahan) harus taneuh garuda ngupuk, bahè ngalèr-ngètan, deukeut pangguyangan badak putih (tanah yang menyerupai burung garuda mengibaskan sayapnya di tanah, landai ke arah timur-laut, dekat kubangan badak putih).

"Makna ungkapan itu adalah, lahan untuk ibu kota harus baik dari berbagai segi, baik letaknya maupun kondisi dan potensinya serta dekat dengan sumber air. Persyaratan bahwa lahan untuk pemukiman harus landai ke arah timur-laut memang masuk akal, karena lahan dengan kondisi seperti itu banyak menerima cahaya matahari pagi yang dapat menyehatkan kehidupan," tulis Nandang dalam jurnalnya.

"Klasifikasi pemilihan lahan dilihat dari nilai-nilai tradisi yang dipedomaninya, begitu pula dengan tata letak harus diperhatikan dengan benar, gedung yang dibangun harus menghadap ke arah mana dan di sekelilingnya harus mendukung sehingga nantinya gedung itu membawa keberkahan bagi pengisinya," kata Nandang menambahkan dalam jurnalnya itu.

Sementara itu, dikutip dari situs Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DMBTR) Jabar menyebutkan titik 0 KM Kota Bandung adalah sejarah berdirinya Pemerintah Kota Bandung. Saat sampai di titik yang kini menjadi tugu 0 KM Bandung. Daendels saat itu menancapkan kayu sembari mengucapkan kalimat. "Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd," kata Daendels seperti ditulis laman resmi Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jabar.

Arti dari ucapan Daendels itu adalah, "Coba usahakan, bila aku datang kembali di tempat ini telah dibangun sebuah kota," tulis dalam situs tersebut.

Tepat pada 25 September 1810, masih di tahun yang sama saat Daendels mengunjungi kawasan Jalan Asia Afrika, Bupati Bandung RA Wiranatakusumah II mendapat surat terkait pusat pemerintahan kota atau kabupaten. Lokasinya tepat di mana Daendels menancapkan tongkatnya.

Nyaris dua abad setelah kisah tongkat Daendels menancap hingga kemunculan surat tentang pusat pemerintahan Kota Bandung, tugu 0 KM Bandung akhirnya diresmikan, tepatnya pada 2004. Saat itu diresmikan Gubernur Jabar Danny Setiawan. Tak hanya tugu, di tempat itu kini dibangun monumen mesin penggilingan ( stoomwals ) kuno yang disertai sebuah batu prasasti sejarah. Tugu dan moumen ini didekasikan untuk rakyat priangan yang menjadi korban pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan.

Tepat setelah 12 tahun peresemian, di tahun 2016 tugu 0 KM kemudian dipercantik dengan empat tokoh pemimpin saat itu. Dikutip dari situs resmi Pemkot Bandung, di Kota Bandung, jalan yang merupakan jejak atau sentuhan dari Daendels adalah Jalan Jendral Sudirman - Jalan Asia Afrika - Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya.

Kota Bandung diresmikan sebagai ibu kota baru Kabupaten Bandung dengan besluit (surat kelulusan) Tanggal 25 September 1810. Hal ini berarti, selama belum ditemukan sumber lain yang menunjukkan fakta lebih akurat mengenai berdirinya Kota Bandung, maka tanggal 25 September 1810 dapat dipertanggungjawabkan validitasnya sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

(sud/yum)