Siapa yang Paling Berhak Menerima Infaq dalam Islam?

Siapa yang Paling Berhak Menerima Infaq dalam Islam?

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Rabu, 04 Feb 2026 17:00 WIB
Siapa yang Paling Berhak Menerima Infaq dalam Islam?
Ilustrasi Infaq (Foto: Getty Images/Noah Saob)
Jakarta -

Memberikan sebagian harta kepada orang lain merupakan bentuk kepedulian sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam. Melalui infaq, seorang muslim tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga menumbuhkan empati serta menjaga keseimbangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagaimana dikutip dari buku Baitul Maal wat-Tamwil dan Kontra-Hegemoni karya Kelik Wardiono, infaq merupakan ibadah yang disyariatkan Allah SWT selain zakat. Artinya, setelah menunaikan kewajiban zakat, umat Islam tetap dianjurkan untuk berinfaq sebagai bentuk ketaatan dan kepedulian sosial.

Anjuran ini juga ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW dari hadits Abu Hurairah RA, Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hai anak Adam berinfaqlah niscaya Aku akan berinfaq untukmu" (HR. Bukhori).

Dalam pelaksanaannya, infaq tidak dapat diberikan secara sembarangan. Islam memberikan pedoman yang jelas mengenai pihak-pihak yang lebih diutamakan untuk menerima infaq. Al-Qur'an dan hadits mengatur adanya prioritas penerima, terutama mereka yang berada dalam kondisi membutuhkan dan berhak menerima bantuan dari harta yang dikeluarkan.

ADVERTISEMENT

Apa Itu Infaq?

Sebagaimana dinukil dari Buku Ajar Strategi Perlindungan Anak Melalui Hibah Menurut Hukum Adat Batak dan Hukum Islam karya Dr. Anwar Sadat Harahap dkk, istilah infaq berasal dari kata anfaqo-yunfiqu yang bermakna membelanjakan atau membiayai harta.

Makna infaq menjadi lebih khusus ketika dikaitkan dengan pelaksanaan perintah Allah, yaitu sebagai bentuk pengeluaran harta dalam rangka ketaatan kepada-Nya.

Secara konseptual, infaq mencakup pengeluaran harta baik yang bersifat zakat maupun non-zakat. Dalam terminologi syariat, infaq diartikan sebagai tindakan mengeluarkan sebagian harta atau penghasilan untuk kepentingan yang dianjurkan atau diperintahkan dalam ajaran Islam.

Berbeda dengan zakat, infaq tidak memiliki ketentuan nisab atau batas minimal jumlah harta yang harus dikeluarkan. Selain itu, infaq juga tidak dibatasi hanya untuk mustahiq tertentu, melainkan dapat diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan, seperti orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, maupun musafir yang kehabisan bekal.

5 Golongan yang Paling Berhak Menerima Infaq

Dikutip dari buku Santripreneur: Ngaji Ayat-Ayat Ekonomi & Bisnis karya Nurochman Assayyidi, terdapat lima golongan mustahiq yang diprioritaskan dalam pemberian infaq dibandingkan mustahiq lainnya.

Mustahiq adalah orang atau golongan yang berhak menerima zakat, infaq, atau sedekah sesuai dengan ketentuan dalam ajaran Islam. Adapun golongan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kedua Orang tua

Orang tua menempati posisi utama dalam penerimaan infaq, khususnya apabila berada dalam kondisi sangat membutuhkan. Mengutamakan orang tua merupakan bagian dari praktik birrul walidain (berbakti).

Setelah kewajiban menyembah Allah, seorang muslim diwajibkan untuk memuliakan orang tua, termasuk dengan memberikan bantuan materi sebagai bentuk penghormatan dan tanggung jawab.

2. Kerabat

Golongan berikutnya adalah kerabat dekat yang memiliki hubungan darah. Yang termasuk dalam kategori ini antara lain orangtua, mertua, kakak, adik, serta anak dari kakak atau adik. Memberikan infaq kepada kerabat tidak hanya bernilai sedekah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi dalam keluarga.

3. Anak Yatim

Anak yatim adalah anak yang telah kehilangan orang tuanya dan hidup tanpa penopang keluarga, serta belum mencapai usia dewasa atau belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Mereka menjadi salah satu golongan yang sangat dianjurkan untuk mendapatkan perhatian dan bantuan.

4. Orang Miskin

Orang miskin adalah mereka yang memiliki penghasilan rendah atau penghasilannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Kondisi keterbatasan tersebut menjadikan mereka termasuk golongan mustahiq yang berhak menerima infaq.

5. Ibnu Sabil

Ibnu sabil adalah orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Perjalanan yang dimaksud bukanlah perjalanan untuk tujuan maksiat, melainkan perjalanan yang dibenarkan dalam syariat, seperti perjalanan ibadah atau urusan kebaikan lainnya.

Kelima mustahiq tersebut juga telah ditegaskan dalam firman Allah SWT pada surah Al Baqarah ayat 215 yang berbunyi,

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Latin: Yas'alūnaka māżā yunfiqūn(a), qul mā anfaqtum min khairin falil-wālidaini wal-aqrabīna wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīl(i), wa mā taf'alū min khairin fa innallāha bihī 'alīm(un).

Artinya: Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, "Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan membutuhkan pertolongan)." Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (Al-Baqarah: 215)

Manfaat Berinfaq dalam Islam

Berdasarkan buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari dari Kandungan hingga Kematian karya Dr. Muh. Hambali, infaq memiliki sejumlah manfaat penting bagi kehidupan seorang muslim.

1. Mendapatkan Ampunan dan Doa dari Malaikat

Orang yang gemar berinfaq berpeluang memperoleh ampunan atas dosa-dosanya. Selain itu, para malaikat senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka yang ikhlas mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah.

2. Meringankan Beban Sesama dan Menumbuhkan Kepedulian Sosial

Infaq berfungsi sebagai sarana untuk membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Melalui infaq, beban hidup sesama menjadi lebih ringan dan hubungan sosial dalam masyarakat dapat terjalin dengan lebih baik.

3. Menjadi Bekal Kebaikan di Akhirat

Selain memberikan manfaat di dunia, infaq juga bernilai sebagai amal ibadah yang akan menjadi bekal bagi seorang muslim di akhirat kelak.

Meskipun demikian, berinfaq bukanlah perkara yang mudah. Terdapat beberapa sikap yang dapat menghilangkan pahala infaq, seperti mengungkit pemberian, menyakiti perasaan penerima, serta berinfaq dengan niat riya' atau mengharapkan pujian. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk menjaga keikhlasan dan menghindari sikap-sikap tersebut agar pahala infaq tetap terjaga.




(inf/inf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads