3 Macam Tauhid dalam Islam: Pengertian, Jenis, dan Hikmahnya

3 Macam Tauhid dalam Islam: Pengertian, Jenis, dan Hikmahnya

Hanif Hawari - detikHikmah
Kamis, 29 Jan 2026 08:45 WIB
3 Macam Tauhid dalam Islam: Pengertian, Jenis, dan Hikmahnya
Ilustrasi mengesakan Allah. Foto: Getty Images/iStockphoto/ninitta
Jakarta -

Sebagai inti ajaran Islam, tauhid menempatkan keesaan Allah SWT sebagai poros sekaligus tujuan mutlak dalam setiap ibadah. Pemahaman ini merupakan fondasi akidah yang menuntun setiap langkah hidup seorang muslim.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tauhid secara harfiah berarti keesaan-sebuah keyakinan teguh bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Tunggal. Namun, untuk mendalami maknanya, para ulama membagi tauhid dalam beberapa kategori. Apa sajakah pembagian tauhid yang wajib dipahami oleh umat Islam?

Pengertian Tauhid

Merujuk pada buku Esa-Kanlah Aku karya Wismanto, secara bahasa tauhid berarti upaya untuk menyatukan atau mengesakan sesuatu. Namun, dalam konteks syariat, tauhid berarti mengesakan Allah SWT dalam segala hal yang menjadi hak eksklusif-Nya, mencakup aspek rububiyyah, uluhiyyah, serta asma wa sifat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsep ini menegaskan bahwa tidak ada entitas lain yang layak disembah atau ditaati selain Allah. Tauhid juga membangun keyakinan bahwa dengan kekuasaan dan ilmu-Nya yang tak terbatas, Allah adalah satu-satunya Zat yang berhak mengatur seluruh roda kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.

Macam-macam Tauhid

Mengutip buku Al-Qur'an dan Hadis karya Muhaemin, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tauhid dalam Islam diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu:

ADVERTISEMENT

1. Tauhid Asma wa Sifat

Jenis yang pertama adalah tauhid asma wa sifat, yakni sebuah keyakinan teguh terhadap nama-nama serta sifat-sifat Allah SWT. Melalui aspek ini, seorang muslim mengimani bahwa setiap sifat yang dimiliki Allah adalah kebenaran yang mutlak, sempurna, tanpa celah sedikit pun.

Dengan mendalami tauhid asma wa sifat, umat Islam diarahkan untuk mengenal Sang Pencipta sesuai dengan hakikat yang ditetapkan-Nya sendiri. Penegasan mengenai hal ini tertuang dalam firman Allah SWT melalui surah Thaha ayat 8:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى - ٨

Artinya: "(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik."

2. Tauhid Uluhiyah

Selanjutnya adalah tauhid uluhiyah, yaitu prinsip yang menekankan pengesaan Allah SWT dalam setiap aktivitas peribadatan. Ibadah tersebut mencakup salat, zakat, puasa, serta berbagai amal ibadah lainnya yang ditujukan semata-mata kepada Allah.

Penerapan tauhid uluhiyah berfungsi untuk memastikan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Zat yang layak menerima sembah dan puja. Prinsip ini dijelaskan dalam banyak dalil Al-Qur'an, salah satunya terdapat dalam surah An-Nahl ayat 36.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ - ٣٦

Artinya: "Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut', kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)."

3. Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah mengandung makna keyakinan mutlak bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Zat yang menciptakan, memiliki, sekaligus mengatur seluruh alam semesta. Dengan memahami konsep ini, seorang hamba akan menyadari betapa besarnya keagungan Allah SWT di setiap sendi kehidupan.

Prinsip tersebut dipertegas melalui firman Allah SWT dalam surah Al-Mu'minun ayat 86-87, yang memberikan kesaksian nyata atas kekuasaan-Nya yang tak terbatas atas segala sesuatu.

قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ - ٨٦ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ - ٨٧

Artinya: "Katakanlah, 'Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki 'Arsy yang agung?' Mereka akan menjawab, '(Milik) Allah.' Katakanlah, 'Maka mengapa kamu tidak bertakwa'?"

Hikmah Tauhid dalam Kehidupan

Sebagaimana dipaparkan dalam buku Pendidikan Tauhid dalam Perspektif Konstitusi karya Zainul Bahri, tauhid bukan sekadar prinsip keagamaan, melainkan fondasi yang menyimpan peranan krusial serta hikmah mendalam bagi kehidupan manusia.

Tauhid berfungsi untuk menjalankan dan membimbing prinsip keilahian yang telah tertanam dalam diri manusia sejak lahir, sehingga manusia memiliki arah spiritual yang jelas dalam menjalani hidup.

Di sisi lain, tauhid menjadi sumber ketenangan batin karena agama dipandang sebagai kebutuhan fitrah manusia untuk mencari makna hidup dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Dengan memegang teguh prinsip tauhid, seseorang akan menjadikan agama sebagai kompas kehidupan yang meyakinkan, disertai kepercayaan penuh bahwa Allah selalu membimbing setiap langkahnya.

Wallahu a'lam.




(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads