Di tengah berbagai amalan Nisfu Syaban seperti membaca surat Yasin dan sholat sunnah, terdapat satu amalan yang kerap dilakukan oleh sebagian umat Islam, yakni mengamalkan surat Shad ayat 54.
Ayat yang menjelaskan tentang rezeki Allah yang tidak pernah habis ini, diyakini memiliki keutamaan khusus jika diamalkan pada saat Nisfu Syaban. Salah satu tradisi yang cukup masyhur adalah menulis ayat tersebut pada kertas sebagai simbol doa dan permohonan kelancaran rezeki kepada Allah SWT.
Namun, bagaimana cara mengamalkan surat Shad ayat 54 saat Nisfu Syaban yang tepat menurut tradisi para ulama? Apakah amalan ini memiliki landasan dalam syariat? Berikut penjelasannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bacaan Surat Shad Ayat 54
Berikut bacaan surat Shad ayat 54 lengkap Arab, latin, dan artinya:
اِنَّ هٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهٗ مِنْ نَّفَادٍۚ
Ina hāżā larizqunā mā lahū min nafād(in).
Artinya: "Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki (dari) Kami yang tidak habis-habisnya."
Tafsir Surat Shad Ayat 54
Dalam tafsir Kemenag surat Shad ayat 54 menjelaskan bahwa segala macam kenikmatan yang terdapat di surga, itulah yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang bertakwa, yang pasti datang setelah manusia seluruhnya dibangkitkan kembali dari kubur, dan diadili di Padang Mahsyar. Allah menegaskan bahwa nikmat yang ada di surga, itu bukan sembarang kenikmatan, melainkan nikmat yang abadi.
Sementara menurut Tafsir Ibnu Katsir, surat Shad ayat 54 memiliki makna yang sama dengan beberapa surat dalam Al-Qur'an, yakni surat-surat berikut:
Surat An-Nahl ayat 96:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقِ
Artinya: "Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Kami pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.
Surat Hud ayat 108:
عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُودٍ
Artinya: "Sebagai karunia yang tidak putus-putusnya."
Surat Fussilat ayat 8:
أكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَ عُقْبَى الْكَفِرِينَ النَّارُ
Artinya: "Senantiasa berbuah dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa. Sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka."
Cara Mengamalkan Surat Shad Ayat 54 Saat Nisfu Syaban
Salah satu bentuk mengamalkan surat Shad ayat 54 saat Nisfu Syaban adalah dengan menuliskannya di kertas. Hal tersebut berdasarkan dengan penjelasan dari Habib Muhammad bin Husein Al-Habsy Solo sebagaimana dikutip dari Dikutip dari Jurnal Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon yang berjudul Penulisan Surat Shad Ayat 54 Pada Tradisi Malam Nisfu Syaban Di Desa Tegalgubug Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon oleh Lailatul Azizah.
Habib Muhammad bin Husein mengatakan, terdapat amalan lain yang tidak diketahui saat malam Nisfu Syaban tiba, umat Islam dianjurkan untuk menulis surat Shad ayat 54 di kertas dengan menghadap kiblat dan dalam keadaan suci (telah berwudhu).
Setelah selesai menulis, kertas di simpan di tempat penyimpanan uang sampai dengan tahun depan, jangan dibuka dan dibaca, maka Allah SWT akan selalu melancarkan rezeki orang yang melakukannya sepanjang tahun.
Terkait amalan tersebut, detikhikmah tidak menemukan penjelasan akan anjuran melakukannya. Meski begitu, sebagian orang ada yang menganggap bahwa amalan tersebut merupakan tradisi yang berasal dari ajaran ulama dan merupakan bagian dari warisan budaya. Ada juga yang menganggap bahwa ajaran tersebut bid'ah dan tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Amalan Nisfu Syaban Lainnya
1. Sholat Sunnah Nisfu Syaban
Pada dasarnya tidak terdapat hadits shahih terkait sholat sunnah khusus Nisfu Syaban. Meski begitu, umat Islam dapat melakukan sholat qiyamul lail pada malam Nisfu Syaban seperti pada malam-malam lainnya.
Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakan sholat qiyamul lail, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 79:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Artinya: "Pada sebagian malam lakukanlah sholat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Keutamaan sholat malam juga disebutkan dalam hadits, sebagaimana dikutip dalam kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ} أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.
Artinya: "Dan dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam'." (HR Muslim dalam Shahih Muslim)
2. Membaca Al-Qur'an
Sebagian ulama salaf, seperti Anas bin Malik, mengatakan kaum muslim banyak membaca Al-Qur'an ketika memasuki bulan Syaban. Mereka juga mengeluarkan zakat untuk orang miskin dan tidak mampu agar kuat berpuasa di bulan Ramadan.
Hadits di atas diriwayatkan berdasarkan sanad yang dhaif. Meski begitu, umat Islam dapat membaca Al-Qur'an pada malam Nisfu Syaban seperti pada malam-malam lainnya, tanpa mengkhususkan malam tersebut.
3. Membaca Surat Yasin
Syeikh Muhammad bin Darwisy dalam Asna al-Mathalib menjelaskan keutamaan membaca surat Yasin 3 kali saat Nisfu Syaban. Dikutip dari laman NU Jatim, berikut penjelasannya:
وأما قراءة سورة يس ليلتها بعد المغرب والدعاء المشهور فمن ترتيب بعض أهل الصلاح من عند نفسه قيل هو البوني ولا بأس بمثل ذلك أسنى المطالب في أحاديث مختلفة المراتب ص
Artinya: "Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nisfu Syaban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al-Buni dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk."
4. Memperbanyak Doa
Setelah selesai membaca surat Yasin, umat Islam dapat melanjutkannya dengan membaca doa. Berikut bacaan doanya:
اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِينَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمَّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمَّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِي، وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سَعِيدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ
Allâhumma yâ dzal manni wa lâ yumannu 'alaik, yâ dzal jalali wal ikrâm, yâ dzat thawli wal in'âm, lâ ilâha illâ anta zhahral lâjîn wa jâral mustajîrîn wa ma'manal khâ'ifîn. Allâhumma in kunta katabtanî 'indaka fî ummil kitâbi syaqiyyan aw mahrûman aw muqtarran 'alayya fir rizqi, famhullâhumma fî ummil kitâbi syaqâwatî wa hirmânî waqtitâra rizqî, waktubnî 'indaka sa'idan marzûqan muwaffaqan lil khairât. Fa innaka qulta wa qawlukal haqqu fî kitâbikal munzal 'alâ lisâni nabiyyikal mursal, "yamhullâhu mâ yasyâ'u wa yutsbitu, wa 'indahû ummul kitâb" wa shallallahu 'alâ sayyidinâ muhammad wa alâ âlihî wa shahbihî wa sallama, walhamdu lillâhi rabbil 'alamîn.
Artinya: "Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, 'Allah menghapus dan menetapkan apa yang la kehendaki. Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.' Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah SWT."
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026