Pohon stroberi di dalam polibag putih itu memanjang di atas gundukan tanah. Sejumlah wisatawan wira-wiri di antara barisan tanaman stroberi jepang tersebut. Sesekali para pelancong itu merunduk, mengamati stroberi, lalu memetik buah tersebut jika dirasa sudah matang.
Kebun stroberi seluas 5 hektare tersebut terletak di Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Bangli Bali. La Fresa merupakan nama dari objek wisata petik stroberi tersebut.
Indra Sanjaya menuturkan nama La Fresa diambil dari bahasa Spanyol yakni fresa yang berarti stroberi. "La Fresa artinya kumpulan stroberi," tutur pengelola tempat pelesiran itu kepada detikBali, Kamis (14/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
detikBali berkesempatan melali (jalan-jalan) ke La Fresa Kamis lalu. Tiket masuk objek wisata bersuhu sejuk itu sebesar Rp 35 ribu. Karcis tersebut bisa ditukar dengan produk olahan La Fresa seperti stroberi kering lapis cokelat putih dan susu dengan selai stroberi.
Pegawai La Fresa mengolah stroberi menjadi jus, milk shake stroberi, hingga selai. Semua makanan dan minuman tersebut diolah di sana. "Kami buat produk olahan karena tidak semua stroberi terpetik oleh tamu," tutur Indra.
Rasa stroberi kering lapis cokelat putih cukup lezat. Manisnya cokelat putih berpadu dengan stroberi kering yang rasanya asam terasa pas di lidah. Perpaduan manis dan kecut juga ada di susu dengan selai stroberi yang dikemas dalam botol.
detikBali pun berkeliling kebun La Fresa. Berjalan di antara tanaman stroberi, mengamati, memilah buah mana yang cukup besar dan ranum, lalu memetiknya memberi keasyikan tersendiri. Biasanya buah tersebut hanya ditemukan saat dijajakan di toko maupun di sejumlah objek wisata di kaki gunung.
Stroberi yang dipetik bisa ditaruh di keranjang. Pengunjung juga tak perlu khawatir kepanasan selama berkeliling kebun La Fresa dan memetik stroberi karena bisa memakai caping bergambar stroberi.
Kebun bunga dan stroberi di objek wisata La Fresa, Bangli, Bali, Kamis (14/5/2026). Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Pengunjung dikenakan Rp 25 ribu per 100 gram stroberi yang dipetik. Menurut Indra, harga stroberi tersebut sepadan dengan rasa stroberi jepang dan risiko pengembangan buah tersebut. Stroberi jepang rentan gagal panen karena mudah terkena penyakit seperti fungi dan tumbuhnya bergantung dengan curah hujan.
Stroberi jepang terasa lebih empuk dan berair dibandingkan stroberi lokal. Rasanya pun tidak terlalu kecut dan ukurannya lebih besar dibandingkan stroberi lokal.
La Fresa, Indra berujar, menggunakan sistem pola tanam. Tujuannya, agar selalu ada stroberi yang bisa dipetik pelancong. "Kami tidak menanam stroberi serentak agar habisnya tidak serempak," tutur pria berusia 31 tahun tersebut.
La Fresa mendatangkan bibit stroberi langsung dari Jepang. Benih itu lalu dikembangkan di lahan pembibitan di Bandung sebelum ditanam di Kintamani.
Tanaman stroberi, Indra melanjutkan, juga harus dirawat. Tangkai kosong, daun tua, dan gulma rutin dibuang dua pekan sekali agar tidak mengganggu pertumbuhan buah itu.
La Fresa tidak hanya mengelola kebun stroberi, tapi juga menanam beragam bunga seperti lavender, seribu bintang, cosmos, hingga bunga matahari. detikers bisa berfoto di antara bunga-bunga tersebut maupun pohon stroberi.
La Fresa juga membangun playground yang bisa dijadikan tempat bermain anak-anak. Pengelola menyediakan ayunan dan perosotan di hamparan rumput. Anak-anak bisa berlarian di lahan yang jembar tersebut.
Selain itu, terdapat kandang kelinci yang bisa dikunjungi oleh bocah-bocah. Anak-anak bisa memberi makan hewan tersebut dengan wortel yang dijual Rp 10 ribu oleh pengelola.
La Fresa mulai dibuka untuk umum pada Juli 2022. Pengelola objek wisata itu melihat ada potensi agrowisata di Kintamani karena pelancong yang berkunjung ke dataran tinggi tersebut terus meningkat. "Wisatawan ke Kintamani terus tumbuh, kafe dan penginapan juga mulai banyak," tutur Indra.
Menurut Indra, pada hari biasa jumlah pengunjung La Fresa sekitar 50 pelancong. Namun, saat akhir pekan atau libur panjang jumlah wisatawan bisa dua kali lipatnya. "Kami berharap bisa terus mengikuti perkembangan pariwisata di Kintamani," ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangli I Wayan Dirga Yusa menuturkan jumlah pelancong ke Kintamani terus meningkat dari rerata 1.000-an pelancong menjadi 1.200-an turis per hari. Kintamani memiliki sejumlah objek wisata seperti Gunung Batur, Danau Batur, Desa Trunyan, hingga pemandian air hangat.
Menurut Dirga, Dinas Pariwisata sementara akan mengawasi standar operasional dan perizinan agrowisata di Bangli. Alasannya, pengelolaan objek wisata agrowisata cenderung privat. "Kolaborasi dengan Pemda masih tipis," imbuhnya kepada detikBali, Minggu (17/5/2026).
Sensasi Petik Anggur di Gumi Panji Sakti
Lain di Bangli, lain pula di Buleleng. Kabupaten di utara Pulau Dewata dan berjuluk Gumi Panji Sakti itu memiliki agrowisata petik anggur. Salah satunya berada di Desa Gerokgak.
detiBali pernah merasakan serunya petik anggur dan menyantapnya langsung di kebunnya beberapa waktu lalu. Saat itu, detikBali, ditemani oleh Ketut Ariawan Totok. Warga Banjar Gerokgak, Desa Gerokgak, tersebut merupakan petani anggur yang menjaga kebun buah itu.
Anggur akademik di objek wisata petik anggur di Gerokgak, Buleleng, Bali, beberapa waktu lalu. Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Tanaman anggur merambat di kebun seluas 1 haktare. Terdapat dua jenis anggur yang ditanam di sana yaitu anggur akademik (buahnya ungu kehitaman) dan anggur transfigurasi (buahnya hijau dan di ujungnya kemerahan).
Ariawan menerangkan kebun anggur tersebut berdiri sejak 2021. Pemiliknya merupakan warga Seririt yang menyewa tanah warga setempat selama 12 tahun senilai Rp 320 juta.
Pelancong dikenakan tiket masuk Rp 10 ribu per orang. Sedangkan untuk anak-anak gratis. Para wisatawan bisa mencoba anggur secukupnya dan hanya bisa dimakan di kebun. "Anggur yang dibawa pulang bisa dibeli Rp 100 ribu per kilogram," tutur Ariawan beberapa waktu lalu.
detikers akan ditemani oleh pemandu saat berkeliling dan ingin memetik anggur. Pemandu akan mencarikan anggur yang ranum dan siap dipetik. Pemetikan anggur perlu didampingi agar kebun tetap menghasilkan anggur berkualitas.
Pemandu membawa gunting yang digunakan untuk memotong tangkai anggur. detikBali pun sempat mencoba anggur sebelum memetik buah itu dengan menggunting tangkainya. Rasa anggur transfigurasi lebih manis dibandingkan dengan anggur akademik.
Pengunjung juga mendapatkan informasi seputar tanaman anggur selama berwisata. Buah yang sudah dipetik lalu akan ditimbang dan dimasukkan ke dalam kotak plastik.
Anggur transfigurasi di objek wisata petik anggur di Gerokgak, Buleleng, Bali, beberapa waktu lalu. Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Menurut Ariawan, perlu waktu 90-100 hari untuk bisa panen anggur. Pohon anggur kemudian digunduli setelah buah dipanen. Dua pekan setelahnya, bunga akan tumbuh dan anggur mulai muncul.
Kebun anggur seluas 1 hektare itu bisa memanen hingga 4,5 ton anggur. Panen bisa tiga kali dalam setahun. Pengelola kebun akan memberitahu kapan kebun bisa dikunjungi oleh wisatawan.
Ariawan berpendapat wisata petik anggur mulai diminati wisatawan. Saat libur panjang seperti Idulfitri, kebun anggur bisa dipadati pelancong, sedangkan saat week days bisanya hanya 15 pengunjung per hari.
"Orang-orang ingin merasakan sensasi petik anggur karena selama ini mereka tahunya beli di toko," imbuhnya.
(gsp/gsp)













































