detikBali

18 Bencana Terjang Lembata Sejak Awal Januari

Terpopuler Koleksi Pilihan

18 Bencana Terjang Lembata Sejak Awal Januari


Yurgo Purab - detikBali

Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata meletus 114 kali, Selasa (20/1/2026).
Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata meletus 114 kali, Selasa (20/1/2026). (Foto: Dok. PVMBG)
Lembata -

Sebanyak 18 bencana terjadi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak awal tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lembata mencatat belasan bencana tersebut lebih banyak diakibatkan oleh cuaca ekstrem.

Kalak BPBD Lembata, Andris Koban, mengungkapkan bencana alam itu tersebar di delapan kecamatan, yakni Kecamatan Wulandoni, Atadei, Ile Ape Timur, Ile Ape, Nubatukan, Buyasuri, Omesuri, dan Lebatukan. Data tersebut dihimpun dari 1-24 Januari 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebanyak 18 kejadian yakni cuaca ekstrem (9), angin kencang (6), longsor (1), kebakaran rumah (1) dan erupsi gunung (1)," kata Andris Koban kepada detikBali, Sabtu (24/1/2026).

Andris merinci bencana alam di Lembata mengakibatkan talud penahanan sekolah rusak. Selain itu, ada pula atap rumah hancur, pohon tumbang menimpa gedung sekolah, hingga erupsi Gunung Ile Lewotolok.

ADVERTISEMENT

Menurut Andris, sebanyak 42 desa di Lembata terdampak erupsi Gunung Ile Lewotolok. Abu vulkanik menyebabkan air bersih, sayuran, hingga buah-buahan tercemar. Selain itu, aktivitas warga di luar rumah juga terganggu.

"Beberapa desa yang rumahnya dari sumur dan air tadah hujan benar-benar mengalami kesulitan air bersih ," tandasnya.

28 Rumah di Flores Timur Rusak gegara Angin Kencang

Bencana juga menerjang sejumlah wilayah di Flores Timur, NTT. BPBD Kabupaten Flores Timur mencatat sebanyak 28 rumah rusak akibat angin kencang sejak awal Januari 2026.

"Kelurahan Pohon Bao (7) Ekasapta (7), Sarotari Tengah (3), Titehena (2), Tanjung Bunga (4), Sarotari (3), Lokea (2)," kata Kalak BPBD Flores Timur, Fredy Moat Aeng, Sabtu.

Fredy mengatakan BPBD Flores Timur telah menangani puluhan rumah di desa-desa di Kecamatan Titehena dan Kecamatan Tanjung Bunga. Menurut dia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur sedang mengkaji anggaran untuk penanggulangan cuaca ekstrem tersebut.

"Rumah tertimpa pohon, kita turun dengan peralatan. Kita sensor kayu yang ada, kita catat berapa rumah rusak dan berapa lembar seng yang harus kita bantu," ujar Fredy.

"Untuk penggunaan dana di bencana ini kita harus dengan kajian, harus dengan rapat dan keputusan bupati. Kami sudah ajukan," pungkasnya.




(iws/iws)












Hide Ads