detikBali

5 Teks Khutbah Jumat Tema Isra Mi'raj dan Keutamaan Bulan Rajab

Terpopuler Koleksi Pilihan

5 Teks Khutbah Jumat Tema Isra Mi'raj dan Keutamaan Bulan Rajab


Arga Fahreza - detikBali

Ilustrasi khutbah Jumat
Khutbah jumat tentang isra miraj. Foto: Freepik
Daftar Isi
Denpasar -

Isra Miraj 1447 H jatuh bertepatan dengan hari Jumat, 16 Januari 2026. Hari Jumat merupakan hari istimewa. Pada hari tersebut dilaksanakan ibadah salat Jumat sebagai pengganti salah zuhur. Salat jumat merupakan kewajiban bagi laki-laki muslim yang tidak sedang bepergian atau musafir.

Dalam salat jumat dikenal adanya khutbah yang dilakukan sebelum melaksanakan salat 2 raka'at. Berikut ini detikBali rangkum 5 khutbah Jumat tema terkait dengan Isra Miraj atau Bulan Rajab. Simak selengkapnya.

1. Menjaga Diri dari Dosa di Bulan Rajab

لْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah


Puji syukur, alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah swt berikan kepada kita semua, mulai dari nikmat Islam, sehat, dan nikmat sempat untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa mengalir kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad saw;

ADVERTISEMENT

اَللّٰهُمَ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،

Semoga kita semua termasuk umat yang dibanggakan olehnya, dan termasuk umat yang berada di barisan orang-orang yang akan mendapatkan syafaat darinya. Amin ya Rabbal alamin.

Selanjutnya, sudah menjadi kewajiban bagi kami sebagai khatib untuk senantiasa menyampaikan wasiat takwa. Maka dengan ini, kami mengajak diri sendiri dan kepada seluruh jamaah yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt.

Berusaha untuk meningkatkan takwa artinya kita harus terus berupaya untuk tetap konsisten dalam menjalankan segala perintah-perintah-Nya, dan berkomitmen untuk menjauhi segala larangan-Nya.

Tetapi juga perlu diingat, bahwa takwa tidak hanya perihal ibadah saja, ia juga harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari kita, terutama dalam cara kita bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang lain.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Perlu kita sadari bersama, bahwa saat ini kita sedang berada di salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam, yaitu bulan Rajab. Bulan yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah swt, dan termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan.

Maka sudah sepantasnya bagi kita, menjadikan bulan Rajab ini sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan, membersihkan hati, serta menjauhkan diri dari segala bentuk dosa dan perbuatan zalim, baik zalim kepada Allah dengan melanggar perintah-Nya, maupun zalim kepada diri sendiri dengan menjerumuskan diri pada perbuatan dosa. Allah swt berfirman dalam surat at-Taubah ayat 36;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

Artinya, "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu)." (QS. QS At-Taubah [9]: 36).

Pada ayat di atas, Allah menegaskan bahwa terdapat dua belas bulan dalam satu tahun, dan di antara yang dua belas itu terdapat empat bulan haram yang sangat dimuliakan, yaitu (1) Dzulqa'dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Kemudian setelah Allah menyatakan terdapat empat bulan yang sangat mulia, Allah juga menegaskan larangan kepada kita agar tidak merusak nilai-nilai kemuliaan dan keagungan yang terdapat dalam bulan haram, termasuk bulan Rajab, dengan menzalimi diri mereka sendiri. Akan tetapi, apa yang dimaksud menzalimi diri sendiri pada ayat di atas?

Menurut Syekh Syihabuddin al-Alusi dalam kitab Tafsir Ruhul Ma'ani, jilid VII, halaman 222, yaitu merusak dan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang telah Allah haramkan di dalamnya, serta meremehkan nilai kesuciannya dengan melanggar batas-batas syariat,

فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ بِهَتْكِ حُرْمَتِهِنَّ وَارْتِكَابِ مَا حُرِّمَ فِيْهِنَّ

Artinya, "Maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (bulan haram), yaitu dengan merusak kehormatannya dan melakukan apa yang diharamkan di dalamnya." Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Mungkin timbul pertanyaan di benak kita, mengapa larangan menzalimi diri sendiri ini secara khusus ditujukan pada bulan-bulan haram, termasuk bulan Rajab yang sedang kita jalani saat ini? Bukankah perbuatan dosa dan maksiat dilarang dalam setiap waktu dan kesempatan? Menurut Syekh Syihabuddin al-Alusi dalam penjelasan lanjutannya, bahwa pengkhususan larangan ini pada bulan-bulan haram adalah karena kemuliaan dan keagungan bulan-bulan tersebut. Allah memiliki hak untuk memuliakan sebagian waktu atas waktu yang lain. Karena itu, melakukan perbuatan maksiat di bulan-bulan haram dosanya akan jauh lebih besar dan lebih berat dibandingkan dengan melakukannya di bulan-bulan lainnya,

وَتَخْصِيْصُهَا بِالنَّهْيِ عَنِ ارْتِكَابِ ذَلِكَ فِيْهَا مَعَ أَنَّ الِارْتِكَابَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ مُطْلَقًا لِتَعْظِيْمِهَا وَلِلَّهِ سُبْحَانَهُ أَنْ يُمَيِّزَ بَعْضَ الْأَوْقَاتِ عَلَى بَعْضٍ فَارْتِكَابُ الْمَعْصِيَةِ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ وِزْرًا

Artinya, "Dan dikhususkannya larangan melakukan kezaliman itu di dalamnya (bulan-bulan haram), padahal melakukan (maksiat) dilarang secara mutlak, adalah karena keagungannya. Dan Allah berhak membedakan sebagian waktu atas sebagian waktu yang lain. Maka melakukan kemaksiatan pada bulan-bulan itu lebih besar dosanya."

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Oleh sebab itu, mari kita jaga diri kita dari perbuatan dosa dan kezaliman di bulan Rajab yang mulia ini. Menjaga diri berarti menahan lisan dari keburukan, menjaga perbuatan dari kemaksiatan, tidak menggunakan tangan untuk menyakiti dan mengganggu orang lain, serta tidak meninggalkan ketaatan yang telah Allah perintahkan. Sebab sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa setiap kebaikan dan ketaatan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya, sekecil apapun amal itu. Begitu juga sebaliknya, perbuatan buruk dan kemaksiatan yang dilakukan pada bulan yang dimuliakan ini juga akan dibalas dengan balasan yang lebih berat.

Karenanya, bulan Rajab sudah seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ketaatan, dan menahan diri dari segala bentuk dosa dan kezaliman, agar kemuliaan bulan ini benar-benar menjadi jalan keselamatan bagi kita, bukan justru menjadi sebab penyesalan di kemudian hari.

Demikianlah khutbah Jumat perihal menjaga diri dari perbuatan dosa dan zalim di bulan Rajab yang mulia. Semoga khutbah ini menjadi pengingat yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua, serta menjadi bekal untuk meningkatkan ketakwaan di bulan yang penuh kemuliaan ini. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

2. Mari Menanam Amal di Bulan Rajab

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِينِهِ وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَي وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى. أَمَّا بَعْدُ : فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِِلَّا الَّذِینَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya yang telah diberikan kepada kita, seperti nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan untuk hadir di masjid ini guna melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah. Semoga Allah menjadikan pertemuan ini sebagai amal yang diterima di sisi-Nya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, teladan kita dalam setiap aspek kehidupan. Semoga kita termasuk umat yang selalu istiqamah mengikuti sunnah beliau dan mendapatkan syafaat beliau pada hari kiamat nanti. Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya memberikan wasiat kepada diri saya sendiri dan seluruh jamaah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur'an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقّٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam." (QS. Ali Imran: 102).

Mari kita awali khutbah Jumat pada hari ini dengan doa yang sering dibaca oleh Baginda nabi ketika memasuki bulan Rajab: اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ Artinya, "Ya Allah berikan kami keberkahan di bulan Rajab dan Sya'ban juga sampaikan kami pada bulan Ramadhan." (HR Ath-Thabrani dalam kitab Ad-Du'a) Semoga kita semua selalu mendapat keberkahan dari Allah SWT dengan istiqamah membaca doa ini.


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah


Begitu mulianya bulan Rajab untuk memperbanyak amal saleh, bahkan salah satu ulama terkemuka pada zamannya, Syekh Dzunnun Al-Mishri, mengatakan sebagaimana yang dinukil oleh Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam kitabnya Al-Ghunyah jilid 1 halaman 326 :


وَقَالَ ذُو النُّوْنِ المِصْرِي رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: رَجَبُ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الحَصَادِ، وَكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ، وَيُجْزَي مَا صَنَعَ، وَمَنْ ضَيَّعَ الزِّرَاعَةَ نَدِمَ يَوْمَ حَصَادِهِ، وَأَخْلَفَ ظَنُّهُ مَعَ سُوْءِ مَعَادِهِ


Artinya, "Dan berkata Syekh Dzunnun Al-Mishri radhiyallahu 'anhu, 'Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya'ban adalah bulan untuk menyiram, dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen. Setiap orang akan memanen apa yang telah dia tanam dan akan dibalas sesuai dengan apa yang telah dia perbuat. Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktu menanam, dia akan menyesal pada hari pemanenannya, dan harapannya akan sia-sia dengan akibat yang buruk'."


Dari keterangan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa Rajab merupakan bulan yang menjadi tolak ukur kesalehan seorang hamba. Bulan Rajab dipandang oleh para ulama sebagai bulan untuk menanam amal kebaikan. Oleh karena itu, jika seseorang tidak mau menanam amal kebaikan, maka jangan harap ia dapat memanen buah berupa rahmat Allah dan ganjaran-Nya.


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah


Bulan Rajab merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ini adalah waktu yang baik untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Dalam kitab yang sama, Al-Ghunyah jilid 1 halaman 326 karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, beliau mengatakan:

رَجَبُ شَهْرُ التَّوْبَةِ، شَعْبَانُ شَهْرُ المَحَبَّةِ، رَمَضَانُ شَهْرُ القُرْبَةِ


Artinya, "Rajab adalah bulan tobat, Sya'ban adalah bulan kasih sayang, dan Ramadhan adalah bulan untuk mendekatkan diri kepada Allah." Maknanya adalah bahwa Rajab merupakan bulan tobat, yaitu bulan untuk membersihkan diri dari segala kotoran maksiat guna mempersiapkan diri menyambut cinta di bulan Sya'ban, yang merupakan bulan kasih sayang. Hingga nanti, di bulan Ramadhan, kita bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan bekal kepantasan sebagai seorang hamba.


Tobat itu ibarat pondasi utama untuk amal-amal lainnya. Bahkan, sebagian ulama mengatakan, "Ibadah tanpa didahului tobat bagaikan membangun rumah di atas tanah lumpur," yang artinya, bangunan itu mudah sekali roboh. Begitu juga dengan ibadah tanpa tobat, ibadah itu akan mudah roboh dan sulit diterima, karena tobat adalah proses pemantasan diri seorang hamba agar ibadahnya benar-benar diterima oleh Allah SWT.


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, Selain tobat, di bulan Rajab kita juga sangat dianjurkan untuk berpuasa. Bahkan, dikatakan bahwa puasa sunnah satu hari di bulan Rajab setara dengan pahala puasa sunnah tiga puluh hari. Maka tidak heran jika ulama kita, KH Maimoen Zubair, pernah mengatakan, "Seseorang terlihat saleh atau tidaknya bisa dilihat dari bagaimana ia beramal di bulan Rajab." Puasa itu memiliki keutamaan yang luar biasa dibandingkan dengan amal ibadah lainnya, karena dalam puasa terkandung hikmah yang agung yang dapat mengokohkan kesalehan seorang mukmin. Hal ini juga dijelaskan dalam kitab I'anatuth Thalibin jilid 2 halaman 299 :

وَالصَّوْمُ مِنْ أَبْلَغِ الأَشْيَاءِ فِي رِيَاضَةِ النَّفْسِ، وَكَسْرِ الشَّهْوَةِ، وَاسْتَنَارَةِ القَلْبِ، وَتَأْدِيْبِ الجَوَارِحِ وَتَقْوِيْمِهَا وَتَنْشِيْطِهَا لِلْعِبَادَةِ. وَفِيْهِ الثَّوَابُ العَظِيْمُ، وَالجَزَاءُ الكَرِيْمُ الَّذِي لَا نِهَايَةَ لَهُ


Artinya, "Puasa adalah salah satu cara yang paling efektif dalam melatih jiwa, mematahkan nafsu, menerangi hati, mendidik anggota tubuh, serta memperbaiki dan menguatkannya untuk beribadah. Dalam puasa terdapat pahala yang sangat besar dan balasan yang mulia, yang tidak ada akhirnya." Ma'asyiral muslimin rahimakumullah Semoga dengan mengisi bulan Rajab dan bulan-bulan lainnya dengan memperbanyak tobat dan puasa, kita dapat menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, sehingga kita layak mendapatkan rahmat-Nya. Aamiin, ya rabbal alamin.



بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

3. Rajab dan Maksimalisasi Masjid untuk Ibadah


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزَّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الْأَجْرُ وَالْحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِي بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْأَنَامِ فِي أَنْحَاءِ الْبِلَادِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ، فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ


Maasyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah


Sebuah keniscayaan bagi kita semua untuk terus menguatkan rasa syukur dan juga takwa kepada Allah swt yang telah menganugerahkan hidup dan kehidupan di jalan yang benar dan diridhai-Nya yakni berada dalam nikmatnya iman dan Islam. Semua anugerah ini harus kita syukuri dengan terus menguatkan takwa berupa menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.


Dengan menguatkan takwa, Allah akan memberikan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang kita hadapi. Dengan bersyukur, Allah akan senantiasa menambah nikmat yang telah dianugerahkan. Bersyukur adalah cerminan jika kita adalah orang yang tahu diri dan tahu berterimakasih.

Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya mengungkapkan kisah tentang bersyukur:


وَفِي الْمُسْنَدِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِهِ سَائِلٌ فَأَعْطَاهُ تَمْرَةً، فَتَسَخَّطها وَلَمْ يَقْبَلْهَا، ثُمَّ مَرَّ بِهِ آخَرُ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا، فَقَبِلَهَا وَقَالَ: تَمْرَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَمَرَ لَهُ بِأَرْبَعِينَ دِرْهَمًا، أَوْ كَمَا قَالَ


Artinya: "Diriwayatkan oleh Imam Ahmad al-Musnad ada seorang pengemis yang diberi sebutir kurma oleh Nabi, namun pengemis tersebut menolak karena merasa pemberian itu hanya sebutir biji kurma. Datang pengemis lain, Nabi berikan sebutir biji kurma. Terdengar ucapan terima kasih dan rasa syukur mendapat pemberian dari Nabi meski hanya sebutir kurma. Mendengar rasa syukur pengemis kedua ini, maka Nabi tambahkan 40 dirham untuknya."

Maasyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Terkait dengan syukur ini, mari kita juga bersyukur pada Allah karena telah memberikan kita umur panjang dan bisa bertemu kembali dengan bulan Rajab. Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram atau Asyhurul Hurum yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah karena Rajab disebut sebagai bulannya Allah swt. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:


رَجَبُ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ


Artinya, "Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku." (HR ad-Dailami).

Jika menyebut kata Rajab, maka kita akan teringat peristiwa agung yang menambah keimanan kita yakni Isra' Mi'raj Nabi Muhammad. Dalam perjalanan spiritual tersebut, Rasulullah mendapatkan 'oleh-oleh' yang diberikan Allah untuk umat Islam yakni kewajiban shalat lima waktu. 'Oleh-oleh' shalat ini menjadi inti perjalanan Isra' Mi'raj dan merupakan fardhu ain atau kewajiban setiap individu umat Islam yang lebih utama jika dilakukan secara berjamaah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar disebutkan:


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً


Artinya, "Diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah bersabda, 'Shalat jamaah lebih baik daripada shalat sendirian dengan pahala 27 derajat'." (HR Al-Bukhari).

Maasyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Jika kita menyebut ibadah shalat berjamaah, pasti terlintas dalam pikiran kita tempat suci rumah ibadah kita yakni masjid. Dari keterhubungan ini, Rajab menjadi momentum tepat bagi kita untuk memaksimalkan ibadah shalat berjamaah kita di masjid. Masjid merupakan tempat yang paling dicintai Allah di muka bumi ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah:


أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا


Artinya: "Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah pada masjid-masjidnya."

Dengan melaksanakan shalat berjamaah di masjid, hubungan vertikal kita dengan Allah juga akan semakin dekat. Selain itu, hubungan horizontal dengan orang lain juga akan semakin erat yakni dengan intensitas bertemu dan berinteraksi saat berada di masjid. Sehingga dari hal ini kita bisa memahami bahwa keberadaan masjid memiliki banyak fungsi, selain sebagai tempat untuk shalat.

Pada zaman Rasulullah, masjid merupakan simbol persatuan umat Islam dan menjadi pusat peradaban umat. Selain sebagai tempat ibadah berjamaah seperti shalat, zikir, dan i'tikaf, Rasulullah SAW memanfaatkan masjid sebagai tempat pendidikan dengan kajian ilmu agama dan pengajaran Al-Qur'an di dalamnya. Masjid juga difungsikan sebagai tempat sosial untuk membantu kaum dhuafa, pemberdayaan ekonomi, dan tempat untuk bermusyawarah.

Dari teladan Nabi tentang pemanfaatan fungsi masjid ini, kita diajarkan untuk menjaga keseimbangan ibadah dan muamalah. Rasulullah rajin melaksanakan shalat di masjid sebagai bentuk ketundukan dan kepatuhan kepada Allah namun juga aktif membantu umat, mendamaikan perselisihan, dan memperjuangkan keadilan.

Terlebih jika kita bisa menjaga kualitas ibadah shalat kita, pasti akan melahirkan sikap kepribadian yang peduli terhadap lingkungan sosialnya. Oleh sebab itu, fungsi masjid sebagai pusat ibadah harus terus dioptimalkan untuk membentuk pribadi-pribadi yang saleh secara individu dan kolektif.

Allah berfirman dalam surat Al-'Ankabut ayat 45:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya: "Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Oleh karena itu, Maasyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah Marilah kita memanfaatkan bulan Rajab ini untuk meningkatkan amal ibadah, menjaga shalat sebagai penyejuk hati, dan menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah yang membawa kebaikan dan kemaslahatan lebih luas bagi kita. Semoga Allah senantiasa memberikan kita umur panjang dan hidayah agar bisa terus beribadah kepada Allah swt. Amin.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنا وَتَقَبَّلْ دُعاءِ، بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ

4. Hikmah Terjadinya Isra Miraj

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ وَالْاِحْسَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ، اَلْكَرِيْمِ الَّذِيْ تَأَذَّنَ بِالْمَزِيْدِ لِذَوِي الشُّكْرَانِ. أَحْمَدُهُ حَمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحِسْبَانَ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ، عَالِمِ الظَّاهِرِ وَمَا انْطَوَى عَلَيْهِ الْجَنَانُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Alhamdulilah, puji syukur kepada Allah swt yang masih berkenan memberikan kita semua keimanan dan ketakwaan dalam hati, sehingga bisa terus istiqamah dalam menunaikan ibadah shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga terus mengalir kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw yang telah sukses dalam menyebarkan Islam dengan penuh rahmat dan kasih sayang. Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, dengan memperbanyak ibadah dan kebajikan, serta menjauhi semua larangan-Nya. Sebab, tidak ada bekal yang lebih baik untuk dibawa menuju akhirat selain ketakwaan.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Salah satu peristiwa luar biasa yang terjadi pada bulan ini adalah Isra Mi'raj. Perjalanan yang sangat jauh dan sulit untuk digambarkan dengan akal, namun bisa Rasulullah tempuh dengan tempo waktu yang sangat singkat, bahkan akal tidak bisa menerima kenyataan itu jika tidak dilandasi dengan keimanan yang matang. Isra adalah peristiwa ketika Allah swt memperjalankan Rasulullah dari Masjidil Haram, Makkah, menuju Masjidil Aqsha di Paletina. Sedangkan yang dimaksud dengan Mi'raj adalah peristiwa berikutnya, yaitu dinaikkannya Rasulullah melintasi lapisan-lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau pengetahuan malaikat, manusia, maupun jin. Semua itu terjadi dalam satu malam. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Artinya, "Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS Al-Isra' [17]: 1).


Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah


Ayat tersebut menjelelaskan bahwa hikmah adanya isra mi'raj adalah Allah hendak memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada nabi. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Syekh at-Thanthawi dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Wasith lil Qur'anil Karim, halaman 259, untuk menunjukkan betapa mulianya Nabi Muhammad di sisi Tuhannya, sekaligus untuk menambah keyakinannya dalam menyampaikan risalah dan amanahnya.

Tanda-tanda kebesaran Allah itu di antaranya, Rasulullah mampu melihat malaikat Jibril dengan wujudnya yang asli, ia memiliki enam ratus sayap hingga bisa menutup langit. Allah juga memperlihatkan surga, neraka, dan beberapa keajaiban lainnya.

Selain untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, terdapat hikmah lain yang juga sangat penting untuk kita ketahui bersama, yaitu untuk menenangkan dan membahagiakan Rasulullah dari kesedihan yang menimpanya.

Kejadian itu sebagaimana dikisahkan oleh Syekh Ali Muhammad as-Shalabi dalam kitab Sirah Nabawih-nya, ia mengatakan bahwa sebelum peristiwa isra mi'raj, Rasulullah mendapatkan ujian bertubi-tubi. Di antaranya, pada tahun ketujuh setelah hijrahnya nabi, orang Quraisy membuat kesepakatan untuk tidak menjalin hubungan dengan nabi.

Kemudian nabi pindah ke Syi'ib (lembah) Abi Yusuf untuk berkumpul dengan kerabat dan keluargnya. Di lembah itu nabi hidup terlonta-lonta, karena orang Quraisy berupaya keras agar tidak ada bahan makanan yang sampai pada tempat tersebut. Di tempat inilah Rasulullah menjalani hidup selama tiga tahun.

Tiga tahun setelah itu, orang Quraisy sepakat untuk membatalkan kesepakatan tersebut. Mereka merobek piagam perjanjian yang tergantung di Ka'bah. Dengan kesepakatan tersebut, akhirnya Rasulullah keluar dari lembah pada tahun kesepuluh nubuah.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Sudahkah ujian Rasulullah saat itu? Ternyata tidak ma'asyiral muslimin. Pamannya, Abu Talib yang selalu mendukung dakwahnya dan menjaganya dari gangguan orang-orang Quraisy wafat. Dua bulan setelah itu, istri Rasulullah Sayyidah Khadijah, wanita yang sangat membantu perjuangan dakwahnya juga wafat. Dari sinilah undangan isra mi'raj datang dari Allah kepada Rasulullah:

فَجَائَتْ ضِيَافَةُ الْاِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ تَكْرِيْمًا مِنَ اللهِ وَتَجْدِيْدًا لِعَزِيْمَتِهِ وَثَبَاتِهِ

Artinya, "Maka datanglah undangan Isra Mi`raj setelah itu, sebagai penghormatan Allah, sekaligus penyegaran tekad dan keteguhannya." Dengan demikian, hikmah dari terjadinya isra mi'raj ini adalah untuk menenangkan dan menguatkan tekad dakwah Rasulullah setelah ujian yang datang silih berganti kepadanya.

Demikian khutbah Jumat perihal hikmah terjadinya Isra dan Mi'raj. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab untuk meneladani Rasulullah dalam bertindak, berucap, dan berbuat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

5. Empat Pelajaran Dalam Peristiwa Isra Miraj


اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم}، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ


Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk beribadah di bulan Rajab yang mulia ini. Pada kesempatan ini kita kembali memperingati peristiwa besar dan istimewa, yaitu peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Karena itu, sebagai umat Islam, kita harus mengetahui apa makna Isra' Mi'raj, bagaimana kisah perjalanan Nabi dalam Isra' Mi'raj? Dan apa pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam?

Isra' Mi'raj adalah peristiwa yang agung, yaitu Allah subhanahu wata'ala memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratil Muntaha untuk menghadap Allah subhanahu wata'ala sang pencipta Alam semesta. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala dalam surat Isra' ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Imam Bukhari mengisahkan perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam Shahih Bukhari, Juz 5 halaman 52. Intisarinya adalah, suatu ketika Nabi berada di dalam suatu kamar dalam keadaan tidur, kemudian datang malaikat mengeluarkan hati Nabi dan mencucinya, kemudian memberikannya emas yang dipenuhi dengan iman.

Kemudian hati Nabi dikembalikan sebagaimana semula. Setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra' Mi'raj dengan mengendarai Buraq dengan diantar oleh malaikat Jibril hingga langit dunia, kemudian terdapat pertanyaan,

"Siapa ini?"
Jibril menjawab: "Jibril."
"Siapa yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad".
"Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi."

Di langit dunia ini, Nabi bertemu dengan Nabi Adam 'alaihissalam, Jibril menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi. Jibril memohon kepada Nabi Muhammad untuk mengucapkan salam kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam 'alaihissalam, sebaliknya Nabi Adam juga membalas salam kepada Nabi Muhammad. Perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua, di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Yusuf 'alaihissalam, di langit keempat, Nabi bertemu dengan Nabi Idris, di langit kelima Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Harun 'alaihissalam, di langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa, Nabi Musa menangis karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi Musa sendiri. Dan terakhir di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratul Muntaha, tempat Nabi bermunajat dan berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala. Kemudian Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu baitullah di langit ketujuh yang arahnya lurus dengan Ka'bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk untuk berthawaf di dalamnya. Kemudian Nabi disuguhi dengan arak, susu, dan madu. Nabi kemudian mengambil susu, Jibril mengatakan: "Susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad dan umatnya."

Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad bertemu dengan Allah subhanahu wata'ala. Allah mewajibkan kepada Nabi untuk melaksanakan shalat fardlu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan kemudian kembali pulang, dalam perjalanan, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bertemu dengan Nabi Musa 'alaihissalam. Nabi Musa mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa mengatakan, umatku telah membuktikannya. Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali pada Allah subhanahu wata'ala, mohonlah keringanan untuk umatmu.

Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali. kemudian Nabi Muhammad kembali kepada Nabi Musa, dan Nabi Musa mengingatkan sebagaimana yang pertama. Kembali Nabi menghadap Allah hingga dua kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu. Nabi Muhammad kembali pada Nabi Musa, Nabi musa tetap mengatakan bahwa umatmu tidak akan kuat wahai Nabi Muhammad, Nabi Muhammad menjawab, saya malu untuk kembali menghadap pada Allah. Saya ridho dan pasrah kepada Allah.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah, Sirah Nabawiyah, Juz 2 halaman 94 menceritakan, keesokan harinya, Nabi menyampaikan peristiwa tentang Isra' Mi'raj terhadap kaum Quraisy. Mayoritas orang Quraisy inkar terhadap kisah yang disampaikan Nabi Muhammad, bahkan sebagian kaum muslimin ada yang kembali murtad karena tidak percaya terhadap kisah yang disampaikan Nabi. Melihat hal tersebut, Abu Bakar bergegas untuk membenarkan kisah Isra' Mi'raj Nabi, beliau mengatakan: sungguh aku percaya terhadap berita dari langit, apakah yang hanya tentang berita Baitul Maqdis aku tidak percaya? Sejak saat itu sahabat Abu Bakar dijuluki Nabi dengan sebutan Abu Bakar As-Shiddiq, Abu Bakar yang sangat jujur.

Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari peringatan Isra' Mi'raj? Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: 'Irdlu Waqâi' wa Tahlîl Ihdats, juz 1 halaman 209 menjelaskan, pertama, Isra' Mi'raj adalah kemuliaan dan keistimewaan dari Allah kepada hambanya tercinta, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Nabi baru saja mengalami hal yang amat menyedihkan, yaitu wafatnya Siti Khodijah sebagai istri tercinta, yang selalu mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi, serta wafatnya paman tercinta yaitu Abu Thalib, yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy.

Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah subhanahu wata'ala. Sehingga hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan Agama Allah subhanahu wata'ala. Ini memberikan pelajaran kepada kita, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, dan menegakkan agama, seperti dengan memakmurkan masjid, memakmurkan majlis ilmu, dzikir dan tahlil, Allah akan memberikan kebahagiaan dan keistimewaan baginya.

Kedua, kewajiban menjalankan shalat lima waktu bagi setiap muslim. Musthofa As Siba'i dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, jilid 1 halaman 54 menjelaskan bahwa jika Nabi melakukan Isra' Mi'raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat, sebuah keharusan bagi tiap Muslim menghadap (mi'raj) kepada Allah subhanahu wata'ala lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyu'. Dengan shalat yang khusyu', seseorang akan merasa diawasi oleh Allah subhanahu wata'ala, sehingga ia malu untuk menuruti syahwat dan hawa nafsu, malu untuk berkata kotor, malu untuk mencaci orang lain, malu untuk berbuat bohong, dan sebaliknya lebih senang dan mudah untuk melakukan banyak kebaikan. Hal tersebut demi untuk mengagungkan keesaan Allah, kebesaran Allah, sehingga dapat menjadi makhluk Allah yang terbaik di muka bumi ini.

Ketiga, Isra' Mi'raj adalah mukjizat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dengan perjalanan beliau dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha. Dalam sejarah, Itu adalah perjalanan pertama manusia di dunia menuju luar angkasa, dan kembali menuju bumi dengan selamat. Jika hal ini telah terjadi di zaman Nabi, 1400 tahun yang lalu, hal tersebut memberikan pelajaran bagi umat Islam agar mandiri, belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, sosial, politik, dan ekonomi, namun juga harus melek terhadap sains dan teknologi. Perjalanan menuju ke luar angkasa adalah sains dan teknologi tingkat tinggi yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan sebuah umat dan bangsa.


Keempat, dalam perjalanan Isra' Mi'raj, terdapat penyebutan dua masjid umat Islam, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal tersebut memberikan pelajaran bagi kita bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam. Membela Masjidil Aqsha dan sekelilingnya sama saja dengan membela agama Islam. Wajib bagi tiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk selalu berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan keselamatan Masjidil Aqhsa Palestina. Baik dengan diplomasi politik, bantuan sandang pangan, maupun dengan harta. Semoga kita selalu menjadi umat yang selalu dapat mengambil hikmah dan dari peristiwa Isra' Mi'raj ini dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Allahumma Aamin.


جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمانِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْ إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ




(nor/nor)










Hide Ads
LIVE