detikBali

Francisca Casparina Fanggidaej, Perempuan Pejuang yang Terasing dari Tanah Air

Terpopuler Koleksi Pilihan

Francisca Casparina Fanggidaej, Perempuan Pejuang yang Terasing dari Tanah Air


Arga Fahreza - detikBali

Francisca Casparina Fanggidaej adalah nenek Reza Rahadian
Francisca Casparina Fanggidaej. Foto: Dok. IISG Amsterdam
Kupang -

Mempertahankan keutuhan negara bukan hanya dilakukan oleh sekelompok pejuang militer, tetapi juga oleh mereka yang berada di jalur diplomasi. Salah satunya Francisca Casparina Fanggidaej, seorang perempuan kelahiran Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mungkin nama Francisca tidak seterkenal pejuang lain, tetapi kisahnya semasa revolusi kemerdekaan tetap patut dikenang. Terlebih memperingati Hari Kartini 21 April.

Francisca menghembuskan napas terakhirnya di negeri Belanda sebagai seorang eksil. Selain itu, Francisca Casparina ternyata nenek aktor Reza Rahardian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana kisah hidup Francisca Fanggidaej? Simak selengkapnya!

Masa Muda Francisca

ADVERTISEMENT

Francisca Casparina Fanggidaej adalah perempuan kelahiran Pulau Timor pada 16 Agustus 1925. Dirinya lahir dan besar dari keluarga yang memiliki status sosial tinggi. Ayahnya, Gottlieb Fanggidaej adalah kepala pengawas di Burgerlijke Openbare Werken (BOW) atau semacam dinas pekerjaan umum masa Hindia Belanda.

Keluarganya menikmati privilege berupa pengakuan status hukum sama dengan orang kulit putih. Mereka mempekerjakan orang sebagai pekerja di rumah dan memberi hormat yang sama seperti pada tuan dan noni Belanda. Penghormatan berlebihan ini membuat Francisca merasa ganjil dengan perlakuan dari saudara sebangsanya.

Pendudukan Jepang mengubah segala hak istimewa yang dulu dimilikinya. Keluarganya memilih berjualan produk seperti sabun dan kue yang dibuat sendiri di Surabaya. Francisca kemudian berkenalan dengan keluarga Siwabessy dan bergabung dengan kelompok belajar Pemuda Indonesia Maluku (PIM). Sejak itu Ia mulai terlibat dalam pergerakan para pejuang.

Peran Francisca dalam Revolusi Kemerdekaan

Francisca ikut dalam gegap gempita kemerdekaan, Ia turun ke jalan dan menempelkan pengumuman "sita" di gedung-gedung kolonial. Masih di tahun 1945, Fancisca ikut bergabung dan aktif dalam Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Dari organisasi tersebut dirinya belajar tentang pers dan penerbitan artikel.

Pada tahun 1947-1948, Francisca melakukan lawatan ke berbagai negara. Kegiatan safari dilakukan untuk menghadiri beberapa konferensi seperti International University Student, World Federation of Democratic Youth, dan Konferensi Kalkuta.

Ketika pecah peristiwa 30 September 1965, dirinya sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Francisca mengecam peristiwa tersebut dan menolak kehadiran delegasi Indonesia ke Kuba. Akibat protes kerasnya itu, paspor yang dimiliki olehnya tidak diakui hingga Ia dan rekannya tidak bisa kembali ke Indonesia.

Hidup Sebagai Eksil di Luar Negeri

Akibat kehilangan kewarganegaraan oleh pemerintah Orde Baru, Francisca dilarang datang dan tidak bisa bertemu dengan keluarganya. Suaminya, Supriyo, ditangkap dan rumahnya ikut dijarah. Anak-anaknya diungsikan ke keluarga terdekat. Hidup dalam pengasingan membuatnya harus menutup identitas aslinya. Dengan paspor pemberian Kuba, Francisca pergi ke Tiongkok dan menetap di sana.

Francisca menetap selama 20 tahun di Tiongkok dan kemudian pindah ke Belanda hingga akhir hayatnya. Ia baru dapat bertemu dengan anak-anaknya pada tahun 1993, dan baru dapat kembali ke Indonesia pada tahun 2003 atas dukungan Presiden Gus Dur. Francisca memilih menetap di Kota Zeist, Belanda hingga tutup usia pada 13 November 2013.

Kisah hidup Francisca Fanggidaej dapat ditelusuri pada buku "Memoar Perempuan Revolusioner" yang ditulis oleh Hersri Setiawan. Buku tersebut ditulis dari wawancara dengan Francisca di kediamannya tahun 2005.



(nor/nor)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads