detikBali

Balasan Menohok Projo ke JK yang Klaim Jokowi Jadi Presiden karena Dirinya

Terpopuler Koleksi Pilihan

Balasan Menohok Projo ke JK yang Klaim Jokowi Jadi Presiden karena Dirinya


Tim detikNews - detikBali

Wakil Presiden ke 10 dan 12 RI Jusuf Kalla (tengah) didampingi Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Hamid Awaluddin (kiri) dan Juru Bicara Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019 Husein Abdullah, dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/2026).
Wakil Presiden ke 10 dan 12 RI Jusuf Kalla (JK). (Foto: Gilang Faturahman/detikFoto)
Jakarta -

Pernyataan Jusuf Kalla (JK) yang menyebut Joko Widodo (Jokowi) bisa menjadi Presiden karena dirinya memantik polemik. Relawan Jokowi, Projo, langsung membantah dan menegaskan kemenangan Jokowi adalah kehendak rakyat.

Dirangkum detikcom, Senin (20/4/2026), pernyataan itu disampaikan JK saat merespons tuduhan Rismon Sianipar yang menuding dirinya mendanai kasus ijazah Presiden ke-7 RI Jokowi. Dalam konteks itu, JK menyinggung perannya di balik perjalanan politik Jokowi.

Awal Mula Pernyataan JK

Pernyataan ini disampaikan JK ketika dia ditanya perihal adanya laporan polisi mengenai video ceramahnya tentang 'mati syahid' di UGM. JK ditanya apakah dia merasa dipolitisasi atau tidak dengan adanya kasus ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, JK menjawab dengan mengatakan dirinya tidak mau berspekulasi. Namun, dia merasa masalah ini muncul setelah dia melaporkan Rismon Sianipar ke polisi terkait tudingan mendanai kasus ijazah Jokowi.

ADVERTISEMENT

JK Kesal Dituding

JK mengungkapkan dia beberapa kali dihubungi oleh Rismon dan Roy Suryo, namun selalu dia tolak, karena dia ingin berada di posisi netral, mengingat kasus tudingan ijazah palsu Jokowi sedang ramai. Dia pun mengungkapkan kekesalannya tentang masalah ijazah palsu ini yang berlarut-larut sehingga menyeret sejumlah nama.

"Ini soal Rismon ini sudah melibatkan semua orang, dituduhlah saya, dituduh Puan, dituduh SBY, dituduh siapa. Itu pengalihan saja. Jadi saya marah kenapa? Apalagi saya dituduh kasih Rp 5 M, mana saya kasih Rp 5 M? Ketemu aja tidak tahu saya, kenal pun tidak. Ini buktinya WA-nya. Tidak saya bilang," kata JK saat jumpa pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

JK Klaim Peran untuk Jokowi

Di tengah kekesalannya, JK lalu menyinggung perannya dalam karier politik Jokowi. Dia menyebut dirinya sebagai pihak yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta hingga akhirnya maju di panggung nasional.

JK mengatakan dia yang menyodorkan nama Jokowi ke Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri di pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta. Bahkan, dia menegaskan Jokowi menjadi Presiden ke-7 RI karena dirinya.

"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya," tegas JK.

JK juga mengatakan Jokowi jadi calon presiden saat itu karena dirinya yang menjadi calon wakil presidennya. Menurutnya, Megawati tidak mau menandatangani pencalonan Jokowi jika bukan JK yang mendampingi.

"Nah dua tahun dia Gubernur, oke silakan, saya tidak campur, saya tidak pernah datang waktu Gubernur. Tiba-tiba jadi Presiden, saya bilanglah, 'Eh belum cukup pengalaman jangan, nanti rusak negeri ini', Ah tapi Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken kalau saya tidak wakilnya," katanya.

Menurut JK, saat itu Megawati ingin dirinya membimbing Jokowi.

"'Kenapa Bu saya mesti wakil?', 'karena Pak JK yang paling berpengalaman, bimbinglah dia'. Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilang 'Jangan, Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf'. Ya bukan saya minta, bukan. Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi karena beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba. Minta maaf ya, kasih tahu semua itu buzzer-buzzer itu. Dia tidak jadi Gubernur kalau bukan saya, ngerti?" imbuh JK.

Projo Membantah

Relawan Projo langsung menepis klaim tersebut. Lewat Sekjennya, Freddy Damanik, Projo menegaskan Jokowi menjadi Presiden karena kepercayaan rakyat, bukan peran individu.

"Kami menghormati Bapak Jusuf Kalla sebagai tokoh bangsa yang memiliki kontribusi nyata dalam perjalanan demokrasi Indonesia, termasuk dalam Pilpres 2014. Namun demikian, kami menegaskan bahwa kemenangan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia adalah hasil dari kehendak dan kepercayaan rakyat Indonesia," kata Sekretaris Jenderal Projo Freddy Alex Damanik dalam keterangannya, Minggu (19/4).

Freddy mengatakan demokrasi merupakan kerja kolektif berbagai elemen bangsa. Ia juga menilai rekam jejak Jokowi menjadi faktor utama kepercayaan publik.

"Keberhasilan Joko Widodo tidak dapat dilepaskan dari rekam jejak kepemimpinan beliau yang lahir dari bawah, kerja nyata, serta kedekatan dengan rakyat. Faktor inilah yang menjadi fondasi utama kepercayaan publik," ucap dia.

Freddy juga menyinggung peran PDIP sebagai partai pengusung Jokowi dalam Pilpres 2014.

"Projo sebagai organisasi relawan yang sejak awal berdiri untuk mengawal kepemimpinan rakyat, melihat bahwa dukungan relawan, partai politik seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, serta partisipasi aktif masyarakat luas merupakan pilar penting dalam kemenangan tersebut," ujar dia.

Atas dasar itu, Freddy mengajak semua pihak menjaga narasi kebangsaan yang sehat dan tidak mengklaim proses demokrasi secara personal.

"Oleh karena itu, kami mengajak semua pihak untuk menjaga narasi kebangsaan yang sehat, tidak menyederhanakan proses demokrasi menjadi klaim personal, serta tetap menjunjung tinggi semangat persatuan. Demokrasi Indonesia adalah milik rakyat, dan setiap kemenangan dalam proses tersebut adalah kemenangan bersama, bukan milik individu," ujar dia.

Jubir JK Jelaskan Latar Belakang

Jubir JK, Husain Abdullah, turut menjelaskan latar belakang pernyataan tersebut. Ia menyebut JK kerap dituding tidak tahu berterima kasih kepada Jokowi.

"Penjelasan Pak JK yang sempat disampaikan dengan nada tinggi, untuk meyakinkan loyalis Jokowi yang kerap menarasikan JK tidak tahu balas budi padahal sudah diangkat jadi Wapres oleh Jokowi. Tidak punya rasa terima kasih kepada Jokowi. JK tidak juga emosi. Tapi sudah lama JK menahan diri tidak buka-bukaan soal ini," kata Husain saat dihubungi, Minggu (19/4).

Husain mengatakan JK akhirnya mengungkap perannya dalam mendorong Jokowi maju di Pilgub DKI Jakarta 2012.

"Akhirnya JK pun terpaksa mengungkapkan perannya, bagaimana dia mengantarkan Jokowi ke Ibu Mega agar dicalonkan jadi Gubernur DKI. JK sadar bahwa kemudian saat kontestasi Pilpres telah berproses, banyak pihak kemudian yang terlibat. Tapi awal mula Jokowi dipromosikan ke Ibu Mega 'manggung' di Ibu Kota sebagai calon Gubernur DKI, tidak lepas dari peran yang dilakonkannya," ucap dia.

Ia menyebut langkah awal Jokowi di Jakarta menjadi pintu menuju Pilpres 2014.

"Jadi yang disampaikan JK adalah ketika langkah awal Jokowi berkiprah di Jakarta yang membuka pintu bagi Jokowi kemudian menjadi Presiden RI. Tanpa ini, kemungkinan nasibnya beda lagi. Sebab sesudah jadi Gubernur, selanjutnya, Jokowi dicalonkan jadi Presiden oleh Ibu Mega," jelasnya.

"Tapi saat itu, Ibu Mega tidak bersedia mengesahkan pencalonan Jokowi kalau bukan JK sebagai wakilnya. Sebab Jokowi dianggap belum berpengalaman sekalipun elektabilitasnya tinggi untuk bersaing dengan Prabowo. Maka jadilah Pak JK sebagai Wapres Jokowi," lanjutnya.

Husain menegaskan JK menjadi pasangan Jokowi atas permintaan Megawati, bukan keputusan Jokowi.

"Catatan pentingnya di sini, bukan Jokowi yang menetapkan JK sebagai pasangannya, melainkan langsung atas permintaan Ibu Mega selaku Ketua Umum PDIP kepada JK agar mendampingi Jokowi (yang dianggapnya belum berpengalaman pada saat itu). Sekali lagi, Ibu Mega tidak mau menandatangani pencalonan Jokowi kalau tidak berpasangan dengan M. Jusuf Kalla. Jadi siapa sebenarnya yang berhutang budi? Apalagi sepanjang pemerintahan mendampingi Jokowi, dalam beberapa moment krusial JK kerap pasang badan buat Jokowi," tuturnya.




(dpw/dpw)











Hide Ads