Sebarkan Hoax di YouTube, Ketua KSU Lombok Dibui

Sebarkan Hoax di YouTube, Ketua KSU Lombok Dibui

Tim detikBali - detikBali
Sabtu, 09 Apr 2022 15:03 WIB
penyebar berita hoax
Kabid Humas Polda NTB Kombes Artanto (Foto : IST)
Mataram -

Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) menetapkan Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Rinjani, Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) Sri Sudarjo sebagai tersangka.

Sudarjo dijadikan tersangka dan ditahan atas dugaan menyebarkan informasi bohong atau hoax tentang bantuan pemerintah melalui video di akun YouTube.

Kabid Humas Polda NTB, Kombes Artanto, mengatakan Sri Sudarjo telah ditahan sejak Jumat (8/4) kemarin, dalam waktu dekat akan dilimpahkan ke Kejaksaan.


"Betul hari Jumat yang bersangkutan ditahan oleh Polda NTB. Rencana dalam waktu dekat segera dilaksanakan tahap II oleh penyidik ke Kejaksaan," ujar Kombes Artanto.

Artanto menjelaskan, tersangka Sri Sudarjo menyebarkan informasi hoax pemerintah menyembunyikan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan menggagalkan program pemerintah tentang bantuan 3 ekor sapi untuk satu anggota KSU Rinjani dengan anggaran Rp 100 juta.

"Padahal justru kenyataannya, program pemerintah tentang bantuan 3 ekor sapi untuk satu anggota KSU Rinjani dengan anggaran Rp 100 juta memang tidak ada dalam anggaran pemerintah daerah atau pemerintah pusat," jelas Artanto.

Atas perbuatannya itu, Sri Sudarjo ditetapkan sebagai tersangka oleh Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda NTB dan dijerat Pasal 14 ayat 1, 2, dan Pasal 15 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, yang mengatur tentang sangkaan pidana penyebar berita bohong dengan ancaman maksimal 10 tahun.

Selain sangkaan tersebut, penyidik kepolisian juga menerapkan Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 19/2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ancaman pidana dari dugaan itu tertera dalam Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan hukuman paling berat 6 tahun penjara dan denda Rp1 miliar.

Artanto menyampaikan konten YouTube diduga milik Sri Sudarjo berjudul 'Konferensi Pers KSU Rinjani' menjadi alat bukti. Dalam konten tersebut, Sudarjo diduga menuding pemerintah menyembunyikan penyaluran dana PEN untuk masyarakat senilai Rp 2 triliun.

Hal demikian yang kemudian menjadi motif SS menyebutkan program penyaluran KSU Rinjani yang menjanjikan bantuan tiga ekor sapi dengan anggaran Rp 100 juta untuk setiap anggota, terhambat.

Unggahan itu menimbulkan reaksi dari sejumlah anggota KSU Rinjani, melakukan unjuk rasa ke Pemprov NTB, menuntut agar program tiga ekor sapi dari dana PEN itu segera disalurkan.

"Dalam waktu dekat akan diserahkan ke kejaksaan (tahap 2). Pelaksanaannya dikoordinasikan dengan JPU," ujarnya.

Lebih jauh Artanto mengatakan, selain kasus hoaks dana PEN, Sri Sudarjo juga berpotensi terjerat kasus lain seperti penipuan terhadap nasabah koperasi dengan menarik iuran untuk program tersebut.



Simak Video " Heboh Siswa SD di Sidrap Ngaku Nyaris Diculik Ternyata Rekayasa"
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)