Siswi kelas XI sekolah menengah pertama (SMP), NM (14), korban penyekapan dan pemerkosaan selama sembilan hari di Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), alami trauma berat seusai kejadian.
Kondisi psikologis NM berubah drastis. Remaja yang sebelumnya ceria, ramah, dan mudah tersenyum, kini menjadi gelisah takut dan trauma bertemu dengan orang baru, terutama pada laki-laki yang seumuran dengan pelaku.
"Kondisi korban mengalami trauma berat. Ketika kami bertanya, dia harus mikir dulu tidak langsung respons," kata Kepala Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Dompu, Utari Rahmawati, saat ditemui detikBali, Jumat (24/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Utari, perubahan kondisi korban disebabkan oleh ancaman pembunuhan yang selalu ditujukan kepadanya oleh pelaku penyekapan. Selama sembilan hari disekap, korban selalu dihantui ancaman menggunakan senjata tajam jenis parang.
Petugas konselor psikolog dari DP3A Dompu, lanjut Utari, masih terus melakukan pendampingan terhadap NM untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya yang berubah drastis.
NM kini dititipkan pada Rumah Aman Anak selama menjalani proses hukum terhadap laporan di Polres Dompu. NM akan mendapatkan layanan, pemeriksaan kesehatan, pendampingan, pemeriksaan psikolog oleh tenaga ahli dan bantuan spesifik serta kebutuhan dasar.
"Kemarin datang memasukan pengaduan, saat ini sudah diinapkan di Rumah Aman Anak sampai selesai proses BAP di polres baru kami pulangkan kembali ke rumahnya," tutur Utari.
Diberitakan sebelumnya, siswi kelas IX SMP di Dompu, NTB, inisial NM, diculik oleh pria yang dikenalnya lewat WhatsApp. Remaja berusia 14 tahun itu kemudian disekap selama sembilan hari di sebuah rumah kosong.
NM mengungkapkan telah tiga kali diperkosa dan dilecehkan oleh pelaku selama disekap di rumah kosong. Ia diancam akan dibunuh jika tidak menuruti hawa nafsu pelaku.
(dpw/dpw)










































