detikBali

Mengapa Masyarakat Desa Sade Rutin Mengepel Lantai Rumah Pakai Kotoran Sapi?

Terpopuler Koleksi Pilihan

Mengapa Masyarakat Desa Sade Rutin Mengepel Lantai Rumah Pakai Kotoran Sapi?


Devie Vyatri Permata Cahyadi - detikBali

Desa Sade di Lombok Tengah
Desa Sade di Lombok Tengah. Foto: dok. Kemenparekraf
Lombok Tengah -

Mengepel lantai rumah dengan air dan cairan pembersih mungkin sudah biasa. Namun, bagaimana jika kegiatan tersebut justru menggunakan kotoran sapi? Meski terdengar tidak lazim bagi sebagian orang, tradisi ini benar-benar ada di Desa Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Belulut merupakan tradisi yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat suku Sasak dan telah diwariskan secara turun-temurun. Keunikan inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Berikut sejumlah fakta menarik di balik tradisi Belulut yang sarat akan makna filosofis yang patut dilestarikan. Yuk, simak ulasan selengkapnya yang dirangkum dari berbagai sumber!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fakta-fakta Menarik Tradisi Belulut

Sebagai kearifan lokal yang unik dan sulit ditemukan di daerah lain, tradisi Belulut menjadi bukti bahwa kebiasaan masyarakat yang tetap lestari di tengah arus modernisasi menyimpan nilai tradisional sekaligus filosofis yang patut diapresiasi. Adapun fakta menariknya adalah sebagai berikut:

ADVERTISEMENT

1. Perawatan Khusus untuk Lantai Rumah

Dikutip dari detikTravel, tradisi Belulut dilakukan bukan tanpa alasan. Bagi masyarakat setempat, kotoran sapi digunakan sebagai perawatan khusus lantai rumah yang disebut bale, yang terbuat dari campuran tanah liat dan sekam padi.

Meski terdengar kuno, tradisi ini dinilai efektif karena memberikan berbagai manfaat, seperti memperkuat lantai rumah, mengurangi debu, menjaga suhu ruangan tetap hangat, serta membantu mengusir nyamuk.

2. Memiliki Peranan Penting Dalam Ritual Adat yang Sakral

Masyarakat Suku Sasak, khususnya di Desa Sade, tergolong sangat aktif. Dari generasi muda hingga lanjut usia, memiliki semangat yang kuat dalam melestarikan peninggalan leluhur.

Hal ini juga terlihat pada tradisi Belulut yang terjaga keasliannya. Tradisi tersebut ruin dilakukan oleh masyarakat desa, terutama menjelang kegiatan penting atau upacara adat yang bersifat sakral.

Tradisi ini dimaknai sebagai upaya menyucikan rumah, yang mencerminkan kesederhanaan serta keharmonisan dengan alam.

3. Kotoran Sapi Didapat Dari Lingkungan Sekitar

Dikarenakan tradisi Belulut sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari, kotoran sapi pun dapat diperoleh dengan mudah. Dilansir dari berbagai sumber, Desa Sade didominasi oleh masyarakat dengan mata pencaharian sebagai petani dan peternak.

Oleh karena itu, masyarakat memanfaatkan kotoran sapi atau kerbau dari lingkungan sekitar mereka sendiri. Dalam praktiknya, kotoran yang telah dikumpulkan dari pagi hari biasanya disimpan terlebih dahulu dalam wadah atau kantong, untuk kemudian digunakan mengepel lantai maupun melapisi dinding rumah.

4. Aroma Tak Sedap Tidak Mengganggu Aktivitas Masyarakat

Pembersihan lantai rumah dengan kotoran sapi tidak dilakukan setiap hari, melainkan cukup seminggu sekali. Meski terdengar aneh dan menjijikkan, masyarakat Suku Sasak di Desa Sade mengaku tidak terganggu oleh aroma tidak sedapnya.

Bahan utama yang digunakan adalah kotoran ternak yang masih segar, yaitu yang dikeluarkan pada pagi hari yang sama. Setelah itu, kotoran akan disimpan terlebih dulu hingga mengering. Agar tidak menimbulkan bau, kotoran tersebut dicampur dengan bahan lain seperti tanah, air, dan abu kayu bakar sebelum dioleskan ke lantai.

Itulah beberapa fakta menarik tentang tradisi Belulut di Lombok Tengah, yang harus kamu tahu. Semoga informasinya bermanfaat ya, detikers!




(nor/nor)










Hide Ads