Teror dialami NM (14), siswi kelas IX sekolah menengah pertama (SMP) di Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Berawal dari perkenalan lewat WhatsApp, ia justru diculik, disekap selama sembilan hari di rumah kosong, lalu diperkosa berulang kali oleh pelaku.
Selama dalam sekapan, NM hidup dalam ancaman. Ia dipaksa menuruti keinginan pelaku dengan ancaman pembunuhan jika melawan atau berteriak.
"Sebanyak tiga kali (diperkosa). Dia selalu mengancam akan membunuh saya jika berteriak," ungkap NM di Polres Dompu, Rabu (22/5/2026) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkenalan Berujung Petaka
NM awalnya dihubungi nomor tak dikenal melalui WhatsApp. Ia tidak mengetahui identitas pelaku, hanya mengenalnya dengan nama panggilan Reka.
Komunikasi yang intens membuat pelaku kemudian mengajak NM jalan-jalan dan mentraktir bakso bersama teman-temannya. Tanpa curiga, korban menyanggupi dan meminta dijemput di sebuah gang dekat rumahnya.
Namun, alih-alih menuju tempat makan, pelaku membawa NM ke rumah kosong di dekat sawah yang hanya dihuni dirinya seorang diri. Di sanalah awal penyekapan terjadi.
"Katanya pergi makan bakso, ada teman saya juga yang sudah tunggu. Tetapi, justru saya dibawa ke rumahnya di dekat sawah. Saya selalu diancam kalau berusaha kabur," ungkap NM.
Disekap di Bawah Ancaman Parang
Selama sembilan hari, NM tak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga hidup dalam tekanan dan ketakutan. Pelaku terus mengancam akan menganiaya bahkan membunuh jika korban mencoba kabur.
Pelaku kerap membawa senjata tajam jenis parang saat mengawasi korban. Ponsel milik NM disita, membuatnya tak bisa meminta bantuan.
"Mandi saja saya selalu diawasi sehingga saya tidak berani kabur. Dia selalu ada. Tiga kali saya dipaksa untuk melayaninya," ujar NM.
Momen Lolos dari Sekapan
Penyekapan itu berakhir saat warga mendatangi rumah tersebut setelah mencurigai pelaku menculik NM. Di tengah ketakutan, NM bersembunyi di dalam lemari.
Ia sempat mengira suara di luar adalah pelaku, hingga akhirnya mengenali suara kakak kandungnya.
"Saya ketakutan dan bersembunyi di dalam lemari. Sempat saya tarik pintu lemari dari dalam karena saya mengira itu adalah pelaku, ternyata ada suara kakak saya sehingga saya buka dan langsung memeluknya," jelas NM.
Saat penggerebekan berlangsung, pelaku melarikan diri melalui pintu belakang. NM pun berhasil diselamatkan dan kemudian melapor ke Polres Dompu.
Sempat Dilaporkan Hilang
Sebelum ditemukan, NM sempat dilaporkan hilang oleh keluarganya ke Polsek Kempo. Ia tak pulang sejak Jumat (10/4/2026) siang sepulang sekolah.
"Pada hari Jumat korban tak pulang sampai malam sehingga keluarga langsung melaporkan ke polsek," kata penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Rakyat (LERA), Firmansyah, kepada detikBali Kamis (23/22/2026).
Keluarga terus melakukan pencarian dan sempat mendapat informasi bahwa NM dijemput seorang pria dari kecamatan yang sama.
Ditemukan di Rumah Kosong, Pelaku Kabur
Pada Senin (20/4/2026) pagi, keluarga mengetahui keberadaan pelaku di rumah kosong dekat sawah. Bersama warga, mereka menggerebek lokasi tersebut dan menemukan NM bersembunyi di dalam lemari.
"Keluarga berhasil menemukan korban di rumah pelaku. Sayangnya, saat itu pelaku berhasil kabur," jelas Firmansyah.
LSM LERA menyatakan akan mendampingi korban agar mendapatkan perlindungan dan keadilan.
"Hari ini kami telah membantu korban mengajukan pengaduan pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPP PA) agar mendapatkan perlindungan baik mental maupun pada proses hukumnya," ujar Firman.
Polisi Benarkan Laporan Kehilangan
Kapolsek Kempo, Iptu Agustamin, membenarkan laporan kehilangan korban.
"Iya benar, ada anak yang dilaporkan hilang selama 10 hari. Kemudian, ditemukan di dalam sebuah rumah," tutur Agustamin.
(dpw/dpw)