Udara Palembang Sempat Berbahaya, Pagi Ini Tidak Sehat

Sumatera Selatan

Udara Palembang Sempat Berbahaya, Pagi Ini Tidak Sehat

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Senin, 19 Okt 2026 09:30 WIB
Kota Palembang masih berselimut kabut asap pagi ini.
Foto: Kota Palembang masih berselimut kabut asap (A Reiza Pahlevi)
Palembang -

Kualitas udara di Kota Palembang, mulai menunjukkan perbaikan pada pagi hari setelah sempat berada pada level berbahaya saat dini hari. Angka partikulat halus yang tercatat di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang sempat mencapai 531 µg/m³ pukul 04.00 WIB. Namun, pukul 08.00 WIB tercatat 127,3 µg/m³.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan kondisi udara sedikit membaik, meskipun masih berada pada level tidak sehat. Kondisi ini masih akan terus terjadi sepanjang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus terjadi.

"Pagi ini sedikit membaik, terpantau dari data PM2.5 yang tercatat 127,3 µg/m³ (tidak sehat). Namun, saat dini hari sempat tercatat di atas 500 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB dan 05.00 WIB," ujarnya, Senin (19/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Membaiknya kondisi udara ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, imbas dari pelaksanaan OMC dry ice dan NaCl yang terus dilakukan hingga faktor angin.

"Pagi ini sepertinya lebih kepada faktor angin. Dan info dari tim Manggala Agni juga selalu ada progres pemadaman di daerah sumber karhutla," katanya.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, dampak OMC dry ice terjadi setelah penyemaian dilakukan pada rentang pagi hingga sore. Namun, kiriman asap karhutla yang masih terjadi membuat polusi udara kembali pekat saat malam hingga dini hari.

"Jika disesuaikan waktu penaburan dan turunnya grafik PM2.5 cukup linier. Rata-rata (kualitas udara) harian juga menurun sejak adanya dry ice," ungkapnya.

"Namun, faktor atmosfer seperti arah dan kecepatan angin juga cukup signifikan membantu. Sayangnya, memang dari sumbernya tidak berkurang banyak karena laju pemadaman kalah cepat dengan laju terbentuknya asap," sambung Wandayantolis.

Meski mengalami perbaikan, perubahan kualitas udara tersebut tetap perlu menjadi perhatian. Sebab, konsentrasi PM2.5 yang tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

"Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap menggunakan masker karena kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu. Kemudian memperbanyak minum air putih, vitamin, dan mengurangi aktivitas luar ruangan," imbuhnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads