Sumatera Selatan memiliki potensi ekonomi besar di sektor perkebunan, pertanian, pertambangan hingga perikanan. Potensi tersebut didorong agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Salah satu program yang didorong untuk pengembangan berbagai potensi sumber daya alam itu melalui penciptaan 100.000 Sultan Muda. Sebanyak 10 ribu lebih Sultan Muda sudah terbentuk dalam 1,5 tahun terakhir.
Fokus penciptaan para pengusaha muda yang digagas Gubernur-Wakil Gubernur Sumsel Herman Deru-Cik Ujang, meraih detikSumatera Awards 2026 dalam kategori Penguatan Ekonomi Generasi Muda pada Anugerah Ekonomi Terpuji pada Jumat (27/8/2026) malam di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deru mengungkapkan, jika satu Sultan Muda mampu mempekerjakan sedikitnya 5 orang. Secara sederhana, terdapat potensi sekitar 50 ribu tenaga kerja yang dapat terserap. Namun, angka tersebut berpotensi lebih besar karena terdapat pelaku usaha yang telah memiliki puluhan pekerja.
"Lebih dari itu, bahkan ada Sultan Muda yang memiliki tenaga kerja 50-90 orang. Keberadaan Program Sultan Muda ini diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah," ujar Gubernur Sumsel Herman Deru.
Deru mengaitkan program tersebut dengan capaian indikator pembangunan Sumsel. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Sumsel saat ini tercatat 3,59 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional.
Di sisi lain, tingkat kemiskinan Sumsel pun turun menjadi 9,85 persen. Angka itu untuk pertama kalinya dalam sejarah Sumsel berada pada level satu digit. Sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 74,76, rasio gini 0,298, dan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,35 persen.
"TPT kita menurun. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap capaian tersebut adalah Program Sultan Muda," kata Deru.
Menurut Deru, program tersebut menjadi penting karena Sumsel memiliki wilayah yang luas dengan 17 kabupaten/kota, 241 kecamatan, dan 3.258 desa dan kelurahan.
Kondisi tersebut membutuhkan lebih banyak pionir muda yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi hingga ke tingkat daerah.
Para Sultan Muda yang berasal dari generasi Z, milenial, hingga generasi alfa juga dinilai memiliki keunggulan dalam memanfaatkan teknologi dan informasi untuk mengembangkan usaha.
"Karena itu, dibutuhkan pionir-pionir muda yang mampu mengakselerasi pembangunan. Kelebihan mereka adalah berasal dari generasi Z, milenial, dan generasi alfa yang tentu lebih maju dalam pemanfaatan informasi dan teknologi," ungkapnya.
Program tersebut tidak berhenti pada pemberian pembiayaan. Pemerintah juga mendorong agar pelaku usaha masuk ke sektor hilirisasi dan pasar yang lebih luas.
Salah satunya melalui Program Sultan Muda XporA yang menghubungkan pembiayaan dengan pengembangan komoditas unggulan daerah. Ekosistem ketertelusuran ekspor juga dikembangkan untuk meningkatkan daya saing produk Sumsel di pasar global.
Dengan jumlah 10 ribu lebih pelaku usaha yang telah bergabung, pembiayaan disebut sudah mendekati Rp1 triliun. Pemprov Sumsel menargetkan ekosistem tersebut terus berkembang hingga mampu melahirkan lebih banyak wirausaha muda sekaligus menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Sumsel.
Deru menyebut sejumlah contoh hilirisasi yang mulai dilakukan anak-anak muda Sumsel, termasuk ekspor arang batok kelapa dan pengembangan bioavtur berbahan dasar kelapa di Banyuasin.
Menurutnya, penguatan pembiayaan produktif, hilirisasi, digitalisasi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar potensi ekonomi tersebut memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
"Program Sultan Muda sangat efektif dalam memperluas akses keuangan sekaligus mengakselerasi perekonomian daerah melalui pembiayaan produktif bagi masyarakat," tegas Deru.
Program 100.000 Sultan Muda sekaligus diarahkan menjadi gerakan strategis yang selaras dengan Asta Cita dan RPJMN 2025-2029, terutama dalam memperkuat kewirausahaan, memperluas akses pembiayaan, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
