Lampung

Status Anak Krakatau Siaga, Area Aman Diperluas Jadi Radius 5 Kilometer

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Sabtu, 10 Okt 2026 09:21 WIB
Foto: Ilustrasi Gunung Anak Krakatau (ANTARA/HO BRIN)
Lampung Selatan -

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda meningkat setelah rangkaian erupsi terjadi sejak Jumat (9/10/2026) sore hingga malam. Badan Geologi Kementerian ESDM pun menaikkan status gunung api tersebut dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga.

Peningkatan status itu berlaku mulai 9 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB. Keputusan tersebut tertuang dalam surat nomor 1729.Lap/GL.03/BGL/2026 yang ditandatangani Kepala Badan Geologi, Lana Saria.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan kenaikan status tersebut. Dia mengatakan keputusan diambil setelah dilakukan analisis dan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan aktivitas vulkanik GAK.

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 9 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB," kata Suwarno, Sabtu (10/10/2026).

Seiring kenaikan status tersebut, masyarakat hingga wisatawan dilarang mendekati kawasan gunung api dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.

"Iya lebih luas lagi, jadi masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung, wisatawan, pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 5 km dari pusat erupsi," jelasnya.

Selain itu, terdapat pembatasan tambahan di sekitar daratan baru yang terbentuk di kawasan GAK. Masyarakat dilarang memasuki area dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara gunung tersebut.

"Kemudian ada tambahan lagi, karena ada daratan baru maka tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 1 km dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau," lanjut Suwarno.

Berdasarkan hasil pengamatan periode 21 September hingga 9 Oktober 2026, kondisi Gunung Anak Krakatau terpantau bervariasi, mulai dari terlihat jelas hingga tertutup kabut.

Pengamatan visual dan kamera CCTV merekam asap kawah bertekanan sedang dengan warna putih hingga hitam. Tinggi asap berkisar 5-50 meter di atas kawah.

Pemantauan menggunakan satelit Sentinel pada periode 21 September-9 Oktober 2026 juga mendeteksi emisi gas sulfur dioksida (SO2) dalam kategori rendah, yakni berkisar 71-237,5 ton per hari. Anomali panas terpantau pada tingkat rendah, dengan nilai 15-25 N pixel. Titik api mulai terlihat sejak 6 Oktober 2026.

Sementara itu, data instrumental pada periode 21 September-8 Oktober 2026 mencatat sejumlah aktivitas kegempaan, antara lain lima kali gempa erupsi, delapan kali gempa hembusan, 11 kali gempa frekuensi rendah, serta 45 kali gempa hybrid atau fase banyak.

Selain itu, tercatat 17 kali gempa tremor menerus, 31 kali gempa vulkanik dangkal, sembilan kali gempa vulkanik dalam, dan delapan kali gempa tektonik jauh.

Khusus pada Jumat (9/10), hingga pukul 19.20 WIB, tercatat sembilan kali erupsi. Amplitudo maksimum tercatat 55 mm dengan durasi erupsi 32 detik, sementara tinggi kolom letusan tidak teramati.

Data pengukuran aktivitas seismik melalui Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) menunjukkan energi vulkanik yang berfluktuasi, tetapi secara umum masih berada pada tingkat rendah.

Adapun pengukuran tiltmeter di Stasiun Tanjung selama 21 September-9 Oktober 2026 menunjukkan pola fluktuatif dengan kecenderungan mendatar pada komponen Y.

Dengan peningkatan status menjadi Siaga, masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dan tidak memasuki kawasan terlarang di sekitar Gunung Anak Krakatau.



Simak Video "Video: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Jangkau Lampung hingga Jawa Barat"

(dai/dai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork