Aktivitas Erupsi GAK Terus Meningkat, PVMBG Catat 13 Kali Letusan

Lampung

Aktivitas Erupsi GAK Terus Meningkat, PVMBG Catat 13 Kali Letusan

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Sabtu, 10 Okt 2026 08:00 WIB
Gunung anak krakatau meletus
Ilustrasi Gunung Anak Krakatau (Foto: Istimewa/PVMBG)
Lampung Selatan -

Gunung Anak Krakatau (GAK) di Lampung Selatan mengalami 13 kali erupsi pada Jumat (9/10/2026) sore hingga malam. Petugas pemantauan meminta masyarakat tidak lengah dan tetap mengikuti rekomendasi keselamatan di tengah aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan aktivitas gunung api merupakan fenomena alam yang perkembangannya tidak bisa dipastikan. Dia berharap rentetan letusan tersebut segera berakhir.

"Yang diharapkan jangan besarnya, kalau bisa berhenti. Namun, itu alam, kita tidak bisa menebak," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan catatan pengamatan, erupsi mulai terjadi pukul 16.17 WIB. Letusan kemudian berulang hingga pukul 21.20 WIB. Pada erupsi pertama, kolom abu teramati setinggi sekitar 250 meter di atas puncak atau 407 meter di atas permukaan laut.

Abu letusan berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah utara serta barat laut. Adapun pada sejumlah erupsi berikutnya, tinggi kolom letusan tidak teramati secara visual.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, aktivitas Anak Krakatau tetap terekam pada peralatan seismograf. Erupsi pukul 21.17 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 57 milimeter dengan durasi 89 detik. Tiga menit berselang, gunung tersebut kembali meletus dengan amplitudo maksimum 43 milimeter dan durasi 31 detik.

Suwarno mengatakan pihaknya mengutamakan pemantauan untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas gunung api. Menurutnya, keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian utama.

"Ya, cuma bisa berharap dan sebisa mungkin menyelamatkan masyarakat banyak, dengan melalui peralatan," ujarnya.

Dia mengingatkan rentetan erupsi tidak bisa dijadikan patokan untuk memastikan akan terjadi letusan yang lebih besar. Kondisi gunung api harus terus dipantau berdasarkan rekaman instrumen dan evaluasi petugas.

Di tengah aktivitas tersebut, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Sesuai rekomendasi Badan Geologi melalui PVMBG, kawasan dalam radius 2 kilometer dari kawah harus dikosongkan dari aktivitas masyarakat.

Suwarno mengingatkan adanya potensi bahaya berupa lontaran material vulkanik dan debu dari kawah apabila masyarakat berada terlalu dekat dengan gunung api.

"Risikonya jika mendekati radius yang sudah direkomendasikan Badan Geologi PVMBG, itu harus kita indahkan karena dikhawatirkan terkena lontaran batu pijar dan debu dari kawah aktif GAK," jelasnya.

Dia meminta masyarakat tidak menjadikan tidak terlihatnya letusan sebagai alasan untuk mendekati kawasan berbahaya. Sebab, aktivitas vulkanik tetap bisa terekam alat pemantauan meski kolom erupsi tidak terlihat.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau mengikuti perkembangan informasi resmi dari Badan Geologi dan petugas pemantauan serta mematuhi seluruh rekomendasi yang berlaku.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads