Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan keriuhan merah yang penuh makna bagi masyarakat Tionghoa di penjuru dunia. Berbagai ritual khas, mulai dari pendaran lampion yang hangat, tradisi berbagi angpao, hingga pemasangan kaligrafi di setiap sudut pintu, bukanlah sekadar dekorasi belaka.
Di balik gemerlap perayaan tersebut, tersimpan untaian kisah kuno dan mitologi yang menjadi fondasi awal mula tradisi ini dilakukan. Legenda-legenda menarik ini telah hidup dan diceritakan dari mulut ke mulut selama ribuan tahun sehingga akar budaya tetap kuat.
Aneka Legenda Imlek di Tiongkok
Menyadur informasi dari laman China Highlight dan Chinese Language Institute (CLI), berikut adalah 4 legenda seputar perayaan Imlek yang berakar dari tradisi Tiongkok:
1. Pertarungan Melawan Monster Nian
Istilah Tahun Baru dalam bahasa Mandarin adalah Guo Nian yang secara harfiah bermakna 'melewati atau mengalahkan Nian'. Konon, Nian adalah sesosok monster berkepala panjang dan bertanduk runcing yang bersembunyi di dasar samudra.
Nian hanya muncul tiap malam pergantian tahun untuk memangsa penduduk dan hewan ternak di pemukiman warga. Ancaman ini membuat penduduk desa selalu diliputi ketakutan dan memilih mengungsi setiap menjelang tahun baru.
Hingga suatu ketika, muncul seorang pria tua misterius berambut putih saat malam tahun baru tiba. Dengan penuh keberanian, ia mengusir Nian dengan cara menempelkan kertas merah di pintu, membakar bambu, dan menciptakan kegaduhan yang memekakkan telinga layaknya petasan.
Keesokan harinya, warga yang kembali dari pengungsian terkejut melihat desa mereka tetap utuh. Sejak saat itu, metode kakek tua tersebut dipraktikkan secara turun-temurun hingga menjadi tradisi wajib.
2. Riwayat Pemberian Angpao Amplop Merah
Sudah menjadi pakem dalam Imlek bahwa orang dewasa memberikan angpao atau amplop merah kepada anak-anak maupun kerabat yang belum berkeluarga. Amplop ini dikenal sebagai yasui qian. Dahulu, ada setan bernama Sui yang kerap mengganggu anak-anak saat mereka tertidur lelap.
Diceritakan bahwa anak yang tersentuh oleh Sui akan jatuh sakit, menangis histeris, mengalami demam tinggi, hingga menderita trauma mental yang cukup berat.
Demi melindungi sang buah hati dari gangguan Sui, orang tua biasanya menyalakan lilin dan terjaga sepanjang malam. Agar anak-anak tidak mengantuk, orang tua mereka memberikan delapan keping koin sebagai mainan.
Anak-anak tersebut membungkus koin dengan kertas merah, lalu membongkar dan membungkusnya berkali-kali hingga akhirnya terlelap. Koin berbungkus merah itu kemudian diletakkan di bawah bantal sang anak.
Saat Sui datang untuk beraksi, delapan koin tersebut tiba-tiba memancarkan sinar benderang yang menakutkan bagi sang setan. Sejak itulah, tradisi memberikan amplop merah dilakukan sebagai simbol perlindungan dan pembawa keberuntungan bagi anak-anak.
(bai/aau)