Setiap perayaan Imlek tiba, suasana langsung berubah menjadi semarak dengan dominasi warna merah dan hiasan lampion yang menggantung di berbagai sudut. Penggunaan warna dan hiasan ini diyakini berkaitan erat dengan harapan akan keberuntungan, perlindungan, dan kebahagiaan di tahun yang baru.
Imlek tidak bisa dilepaskan dari simbol-simbol tradisional yang sarat makna, salah satunya warna merah dan ornamen lampion. Keduanya bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan bagian penting dari kepercayaan dan filosofi masyarakat Tionghoa.
Alasan Ornamen Lampion Identik dengan Imlek
Seribu lampion mulai dipasang di Jalan Suprapto Pontianak. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan |
Masyarakat Tionghoa memiliki tradisi memasang lampion sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek. Konon, lampion telah menjadi simbol kebahagiaan, keberuntungan, dan harapan sejak ribuan tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lampion dipercaya membawa pesan-pesan spiritual dan menjadi sarana untuk menghormati para dewa serta leluhur. Bentuknya yang bundar dan cahayanya yang hangat, merepresentasikan persatuan dan keharmonisan dalam keluarga, dua nilai utama yang dijunjung tinggi selama Imlek.
Dikutip dari laman Britannica, tradisi ini memiliki akar sejarah yang panjang, dimulai sejak masa Dinasti Han (206 SM-220 SM). Saat itu, Biksu Buddha akan menyalakan lentera pada hari ke 15 Imlek untuk menghormati Buddha. Ritual tersebut kemudian diadopsi oleh masyarakat umum dan menyebar ke seluruh China dan Asia.
Selalu ada saat Festival Yuan Xiao, ada sebuah legenda yang menceritakan tentang asal usul festival tersebut. Dikisahkan jika Jade Emperor (You Di) marah di sebuah kota karena angsanya mati terbunuh.
Dia berencana untuk menghancurkan kota dengan api, namun digagalkan oleh seorang peri yang menyarankan orang-orang untuk menyalakan lampion di seluruh kota. Jade yang tertipu oleh cahaya-cahaya tersebut menganggap kota sudah dilalap api.
Akhirnya, kota itu terhindar dari serangan Jade Emperor. Sebagai rasa terima kasih, orang-orang terus memperingati Imlek setiap tahun dengan membawa lampion warna-warni ke seluruh kota.
Sementara dalam laman Shen Yun Collections disebut, ada banyak kisah dan legenda dari asal mula keharusan menyalakan lampion. Tapi, konon pada 2.000 tahun yang lalu, ahli strategi militer besar Zhuge Liang membutuhkan cara untuk mengirim sinyal dalam kegelapan.
Jadi, ia mengambil selembar kertas beras yang diberi minyak, menempelkannya pada bingkai bambu berbentuk topi, lalu menyalakan lilin di dalamnya untuk menerangi dan menghasilkan udara panas. Lampion pertama pun lahir, melayang ke langit malam.
Lama-lama, menyalakan lampion jadi kebiasaan. Pada masa pemerintahan Kaisar Tang Xuanzong di Dinasti Tang (618-907 M), terdapat 50.000 jenis lentera yang dinyalakan di ibu kota Chang'an untuk perayaan Tahun Baru. Pola dan hiasan lentera tersebut menggambarkan kemegahan Dinasti Tang yang makmur, yang dikenal sebagai Zaman Keemasan Tiongkok.
Tradisi ini dengan cepat menyebar ke seluruh Tiongkok dan berkembang selama berabad-abad. Bukti paling awal dari festival lampion (atau Festival Yuanxiao) ditemukan pada masa Dinasti Tang (618-907 M), saat orang-orang mulai membuat lampion yang melambangkan perdamaian dan kekuasaan di Tiongkok.
Makna Warna Merah dan Lampion Imlek
Suasana Imlek sudah terasa di sejumlah daerah di Indonesia. Serba merah mayoritas hiasannya. Foto: Antara Foto/Dhemas Reviyanto |
Menurut laman Indonesia Kaya, lampion berasal dari bahasa Mandarin 'Denglong' yang artinya menerangi. Warna merah pada lampion melambangkan kemakmuran, kesatuan, dan rezeki. Masyarakat percaya jika lampion memberi jalan dan menerangi rezeki bagi penggunanya.
Lampion juga sering digambarkan sebagai pengusir kekuatan jahat atau raksasa bernama Nian. Memasang lampion di setiap rumah dipercaya dapat menghindarkan penghuninya dari ancaman kejahatan.
Meskipun lampion yang paling terkenal adalah berbentuk bola, para perajin mengembangkan desain lampion dengan bentuk rumit dan ukuran besar. Struktur utama lentera biasanya terbuat dari bambu, kayu, rotan, atau kawat, sedangkan kap lampunya terbuat dari sutra atau kertas, biasanya berwarna merah dengan desain emas dekoratif yang melambangkan kehangatan, kebahagiaan, dan keberuntungan.
Penggunaan lampion kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk dan warna, yang masing-masing memiliki makna tersendiri seperti harapan, kebahagiaan, dan keberuntungan. Saat ini lampion lebih banyak digunakan sebagai hiasan dibandingkan alat penerangan utama.
Selain lampion, Tahun baru Cina atau Imlek seringkali ditandai dengan hiasan berwarna merah. Termasuk ornamen lampion juga biasanya menggunakan warna merah.
Dilansir dari South China Morning Post, Tahun Baru Imlek dalam bahasa Mandarin dikenal dengan 'Guonian'. Dalam cerita rakyat asal Tiongkok, Guonian merupakan monster menakutkan yang muncul di akhir tahun untuk memakan manusia dan hewan ternak.
Namun, Guonian takut pada warna merah pekat dan suara petasan. Sejak saat itu, manusia mulai memasang dekorasi merah dari chunlian hingga jianzhi (potongan kertas Cina) dan mengenakan pakaian berwarna merah untuk menakuti monster. Hal ini lah yang membuat warna merah identik dengan Imlek.
Menurut budaya Tionghoa, warna merah melambangkan keberuntungan serta kebahagiaan/kelimpahan. Terkandungnya harapan dalam warna merah dan ornamen lampion membuat kedua unsur tersebut sering dipakai untuk hiasan dalam perayaan Imlek.


