Bukan Sekadar Penutup Imlek, Ini Makna Tradisi Cap Go Meh

ADVERTISEMENT

Bukan Sekadar Penutup Imlek, Ini Makna Tradisi Cap Go Meh

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Selasa, 03 Mar 2026 08:00 WIB
Ilustrasi Perayaan Cap Go Meh.
Ilustrasi Perayaan Cap Go Meh Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Jakarta -

Bulan baru Imlek belum benar-benar usai tanpa gemerlap Cap Go Meh atau pesta lampion yang menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Tionghoa. Tahun ini, Cap Go Meh dirayakan pada Selasa, 3 Maret 2026 atau tepat 15 hari setelah Imlek 2577 Kongzili.

Festival ini bukan sekadar pesta warna-warni lampion, melainkan wujud akulturasi budaya yang sudah hidup ratusan tahun di Indonesia. Dari legenda penyelamatan desa di langit hingga kuliner khas "Lontong Cap Go Meh," setiap daerah punya cara tersendiri menjaga semangatnya.

Sejarah Cap Go Meh

Secara harfiah, "Cap Go Meh" berasal dari dialek Hokkien. Cap berarti sepuluh, Go berarti lima, dan Meh berarti malam, yang mana merujuk pada malam ke-15 setelah Imlek. Dalam bahasa Mandarin, festival ini disebut YuÑnxiāojié atau Festival Lampion.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut catatan sejarah yang dilansir dari LBI FIB UI, perayaan ini sudah ada sejak era Dinasti Han Timur (25-220 M). Kala itu, Kaisar Han Ming Di memerintahkan seluruh rakyat menyalakan lampion sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha.

Seiring waktu, tradisi ini menyebar luas dan berubah menjadi pesta rakyat yang menandai purnama pertama di tahun baru.

ADVERTISEMENT

Namun, versi lain menyebut asal-usulnya berakar pada legenda Kaisar Giok yang murka karena burung kesayangannya terbunuh. Penduduk desa lalu menyalakan lampion untuk "menipu" sang kaisar agar mengira desa sudah terbakar. Desa selamat, dan tradisi lampion pun lahir sebagai simbol keselamatan dan pengharapan.


Cap Go Meh di Indonesia: Meriah, Sakral, dan Penuh Warna

Ketika budaya Tionghoa menyebar ke Nusantara sekitar abad ke-15, Cap Go Meh ikut bertransformasi. Saat ini, perayaan ini jadi simbol keberagaman dan keharmonisan antar-etnis, seperti dijelaskan oleh Olivia SE, MA, peneliti dari FISIP Universitas Airlangga.

"Cap Go Meh bukan hanya tradisi komunitas Tionghoa, tapi juga berkembang menjadi ajang budaya yang memperkuat toleransi dan keharmonisan antar-etnis," katanya, dikutip dari Unair News.

Setiap daerah di Indonesia punya cara unik merayakannya. Di Singkawang, atraksi Tatung (ritual tolak bala dengan aksi kebal senjata) selalu menyedot perhatian wisatawan. Di Bogor dan Yogyakarta, festival disesuaikan waktunya agar tidak mengganggu ibadah puasa umat Islam.

Sementara itu, kota seperti Glodok (Jakarta), Semarang, hingga Padang punya versinya sendiri dengan arak-arakan barongsai, liong, dan parade lampion.

Dari Lontong Cap Go Meh sampai Generasi Muda Tionghoa

Selain pertunjukan dan ibadah, Cap Go Meh di Indonesia juga punya satu ciri khas yang lezat, yaitu Lontong Cap Go Meh. Hidangan ini merupakan hasil akulturasi Tionghoa dan Jawa, berisi lontong dengan kuah kuning, opor ayam, sambal goreng, dan taburan koya. Filosofinya pun dalam, yaitu lontong panjang melambangkan umur panjang dan kuah kuning menandakan rezeki dan kemakmuran.

Kini, generasi muda Tionghoa ikut menjaga tradisi ini lewat cara yang lebih modern. Seperti disampaikan Olivia kepada UNAIR News:

"Banyak anak muda tetap mempertahankan tradisi ini dengan makan bersama Lontong Cap Go Meh, mengirim hampers, atau mempromosikan budaya ini lewat media sosial."

Lebih dari sekadar penutup perayaan Imlek, Cap Go Meh merupakan momen untuk merayakan kebersamaan. Dari cahaya lampion yang menghiasi langit, masyarakat belajar bahwa tradisi boleh berubah, tetapi semangat persaudaraan dan toleransi tetap tak tergantikan.




(rhr/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads