Lagu Mawarung belum lama ini kembali viral dipakai untuk video jedag-jedug TikTok. Mawarung ialah tradisi masyarakat Banjar untuk sarapan di warung, sambil isi perut sambil nongkrong.
Bagi masyarakat Banjar, sarapan bukan sekadar aktivitas mengisi perut di pagi hari, tetapi juga menjadi momen untuk berkumpul dan berbincang santai. Tradisi inilah yang dikenal dengan sebutan mawarung, kebiasaan makan di warung sambil menikmati suasana pagi bersama teman, keluarga, atau rekan kerja.
Aktivitas sederhana ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kalimantan Selatan. Di berbagai sudut kota maupun perkampungan, warung-warung makan kerap dipenuhi pengunjung sejak pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Mawarung
Mawarung. (laman Pemprov Kalsel/Pemkot Banjarmasin) |
Dijelaskan dalam literatur Mawarung: A Cross-Cultural Communication Bridge in Preserving the Banjar Language oleh Muhammad Rafi, Alya Nur Rizqi, dan Yanti, mawarung dalam Bahasa Indonesia memiliki arti sarapan di warung.
Mawarung jadi salah satu budaya yang secara turun temurun dari masyarakat Kalimantan selatan. Biasanya mawarung dilakukan pada pagi hari untuk sekedar minum kopi atau teh hingga makan berat untuk memulai hari.
Budaya mawarung merupakan tradisi berkumpul atau bersilaturahmi di warung sambil menikmati makanan maupun minuman. Mawarung jadi tradisi yang berkembang di tengah masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan dari kebiasaan sehari-hari.
Mawarung tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Banjar, tetapi juga diikuti oleh berbagai suku lain yang tinggal di Kalimantan Selatan. Hal ini menciptakan ruang interaksi sosial yang melibatkan beragam latar belakang budaya.
Tak jarang orang sudah mawarung sejak dini hari. Tapi kebanyakan pengunjung biasanya mawarung dari usai Shalat Subuh di masjid. Setelah hari mulai siang atau sekitar pukul sembilan pagi, warung kemudian mulai sepi ditinggal pelanggannya pulang.
Warung di pagi hari biasanya menjajakan aneka wadai orang Banjar seperti apam, sarimuka, gaguduh, jalabia, lupis, lempar, dan lainnya. Ada juga yang menyediakan aneka nasi bungkus. Warung di pagi hari yang ramai pengunjung, bisa menjadi tempat atau lokasi pusat informasi warga setempat.
Kebiasaan mawarung erat kaitannya dengan karakter masyarakat Banjar yang dikenal gemar berbincang. Warung menjadi tempat berkumpul untuk mengobrol, berbagi cerita, hingga membahas berbagai hal dalam suasana santai.
Manfaat Mawarung
Dirangkum dari publikasi berjudul Nilai-Nilai Sosial Pada Tradisi Mawarung di Kalimantan Selatan oleh Laila Madina, tradisi mawarung dilakukan dengan cara bepandiran (berbicara) sambil sarapan pagi bersama masyarakat sekitar.
Topik yang biasa dibahas selama proses mawarung ialah berupa kisah atau cerita mulai dari cerita keseharian sampai berita terkini. Tradisi mawarung ini memiliki kebiasaan seperti duduk setengah jongkok di atas meja sambil makan, minum bahkan merokok.
Karena biasa dilakukan usai salat subuh, sebagian bapak-bapak yang mawarung kerap dijumpai mengenakan kaos dan kain sarung. Ciri yang mencolok dalam tradisi mawarung adalah ringan dan sering tidak penting hanya sebatas member informasi saja.
Dari sisi kesehatan, masyarakat Kalimantan Selatan menyadari pentingnya sarapan sebelum memulai aktivitas, baik bekerja di kantor maupun di ladang. Asupan makanan di pagi hari dianggap penting untuk memberikan energi, menjaga stamina, serta membantu meningkatkan konsentrasi selama menjalani pekerjaan.
Dari segi ekonomi, keberadaan warung turut membantu menggerakkan perekonomian masyarakat setempat. Banyak pelaku usaha kecil menggantungkan penghasilan dari aktivitas jual beli di warung.
Sementara dari sisi kuliner, mawarung juga menjadi cara untuk mempertahankan makanan tradisional warisan leluhur. Menu yang umum dijumpai biasanya berupa nasi kuning, lontong atau ketupat, serta aneka wadai atau kue khas Kalimantan Selatan.

