Aparat menggagalkan upaya pembunuhan calon ratu Belanda Putri Mahkota Catharina-Amalia dan adiknya, Putri Alexia. Pria berusia 33 tahun yang diduga merancang serangan disebut berkaitan dengan ekstremisme sayap kanan.
Pelaku ditangkap pada Februari 2026 di The Hague dan dijadwalkan menjalani sidang dalam waktu dekat. Ia diduga telah menyusun rencana untuk melukai kedua putri kerajaan yang masing-masing berusia 22 dan 20 tahun.
Catharina-Amalia merupakan putri sulung dari Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima, sekaligus pewaris takhta Belanda. Sementara itu, Alexia berada di posisi kedua dalam garis suksesi kerajaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penangkapan itu, aparat menemukan dua kapak yang dibawa pelaku. Kapak tersebut diukir dengan nama 'Alexia' dan 'Mossad', serta tulisan 'Sieg Heil' (slogan propaganda yang lekat dengan rezim Nazi di bawah Adolf Hitler).
Tak hanya itu, ditemukan pula catatan tulisan tangan berisi kata 'Amalia', 'Alexia', dan 'bloodbath' (pertumpahan darah). Hingga kini, pihak kejaksaan belum mengungkap identitas pelaku maupun motif pasti di balik rencana tersebut karena aturan privasi yang berlaku di Belanda.
Kasus itu mencuat bertepatan dengan perayaan King's Day pada 27 April, ketika keluarga kerajaan tampil di hadapan publik di Kota Dokkum. Ancaman terhadap Amalia bukan kali pertama terjadi.
Sebab sebelumnya, ia juga menjadi target rencana penculikan oleh kelompok kriminal yang diduga terkait jaringan Mocro Maffia. Pada 2022, aparat menggagalkan komunikasi antaranggota geng yang membahas rencana penculikan Amalia dan Perdana Menteri Belanda saat itu, Mark Rutte, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal NATO.
Ancaman tersebut berdampak besar pada kehidupan pribadi Amalia. Demi alasan keamanan, Ratu Maxima bahkan menarik putrinya dari tempat tinggal mahasiswa dan membawanya kembali ke istana.
"Hal itu memiliki konsekuensi besar bagi hidupnya. Artinya dia tidak tinggal di Amsterdam dan tidak benar-benar bisa keluar rumah," ujar Ratu Maxima saat itu.
Kala itu, Amalia baru satu bulan menempuh studi politik dan ekonomi di Universitas Amsterdam. Ia harus meninggalkan kehidupan kampus yang lebih bebas dan jarang tampil di ruang publik.
Artikel ini sebelumnya tayang di Wolipop dengan judul Calon Ratu Belanda Jadi Target Pembunuhan, Pelaku Bawa Kapak.
(sun/des)
