Sejarah Tradisi Cap Go Meh dan Bedanya dengan Perayaan Imlek

Sejarah Tradisi Cap Go Meh dan Bedanya dengan Perayaan Imlek

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 26 Feb 2026 09:01 WIB
Ilustrasi Perayaan Cap Go Meh.
Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Samarinda -

Dalam perayaan Tahun Baru Imlek atau Tahun Baru Cina, ada satu perayaan yang ditunggu-tunggu banyak orang, yakni Cap Go Meh. Rangkaian Imlek belum benar-benar selesai tanpa Cap Go Meh.

Perayaan Cap Go Meh menjadi penutup dari seluruh rangkaian perayaan Imlek. Biasanya perayaan ini diisi dengan berbagai acara seru seperti festival lampion, barongsai, hingga pawai.

Setiap tahun, Cap Go Meh selalu ramai digelar di berbagai daerah di Indonesia. Berikut sejarah hingga tradisi unik yang ada di dalamnya, dirangkum oleh detikKalimantan dari beragam literatur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian Cap Go Meh dan Bedanya dengan Imlek

Kelompok pemain naga liong bernama Naga Borneo Nusantara menggelar latihan intensif di halaman parkir Ayani Megamal Pontianak, Kamis (5/2/2026) malam. Latihan ketiga sekaligus terakhir ini untuk memastikan penampilan berjalan maksimal saat Imlek 2577 Kongzili dan Cap Go Meh 2026.Kelompok pemain naga liong bernama Naga Borneo Nusantara menggelar latihan intensif di halaman parkir Ayani Megamal Pontianak, Kamis (5/2/2026) malam. Latihan ketiga sekaligus terakhir ini untuk memastikan penampilan berjalan maksimal saat Imlek 2577 Kongzili dan Cap Go Meh 2026. Foto: Ocsya Ade CP/detikKalimantan

Cap Go Meh adalah perayaan yang digelar pada malam ke-15 sejak perayaan Tahun Baru Imlek, bertepatan dengan bulan purnama pertama dalam kalender Tionghoa.

Nama Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien 十五冥, kata "cap go" berarti lima belas dan "meh" berarti malam, sehingga secara harfiah Cap Go Meh berarti "malam kelima belas".

Dalam bahasa Mandarin, festival ini dikenal sebagai 元宵节 (Yuánxiāojié) yang berarti Festival Lampion, dan 上元节 (Shàngyuánji) yang berarti Festival Hari Pertama.

Festival ini menandai berakhirnya rangkaian Tahun Baru Imlek dan menjadi simbol harapan, kebersamaan, serta doa untuk masa depan yang lebih baik.

Pada kalender Gregorian, Cap Go Meh biasanya jatuh antara akhir Februari atau awal Maret tergantung penanggalan Imlek di tahun yang sama. Sebagai contoh, pada tahun 2026, Cap Go Meh dirayakan pada 3 Maret.

Imlek atau tahun baru China dirayakan seperti perayaan tahun baru masehi pada umumnya, yakni pada tanggal 1 di bulan pertama kalender. Sementara Cap Go Meh merupakan penutup rangkaian Imlek, digelar 15 hari setelah Imlek.

Dua Versi Sejarah Cap Go Meh

Perayaan Cap Go Meh telah berada lebih dari 2.000 tahun, bermula sejak Dinasti Han (206 SM-220 M) di Tiongkok.

Festival ini muncul sebagai salah satu cara masyarakat kuno menghormati berbagai tradisi sekaligus merayakan bulan purnama pertama.

Dikutip dari Lembaga Bahasa FIB UI, setidaknya ada dua versi yang menjelaskan sejarah Cap Go meh, berikut penjelasannya.

Versi Pertama: Tradisi Buddhisme di Era Dinasti Han

Versi pertama menyebutkan bahwa Cap Go Meh berasal dari kebiasaan para biksu Buddha pada masa Dinasti Han Timur (25-220 Masehi). Para biksu menyalakan lampion pada malam ke-15 setelah Imlek sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha.

Kaisar Han Ming Di yang memerintah saat itu tertarik dengan tradisi tersebut. Ia kemudian memerintahkan agar seluruh kuil, rumah penduduk, hingga istana kerajaan turut menyalakan lampion pada malam tersebut.

Awalnya, tradisi ini bersifat terbatas untuk umat Buddha. Tapi seiring waktu, masyarakat Tionghoa mulai mengadopsinya hingga berkembang menjadi festival budaya yang besar dan meriah seperti sekarang.

Versi Kedua: Legenda Kaisar Giok

Versi lainnya berasal dari legenda tentang Kaisar Giok, penguasa langit dalam kepercayaan Tionghoa.

Konon, burung bangau peliharaan kesayangan Kaisar Giok erbunuh oleh penduduk di sebuah desa. Murka atas kejadian itu, Kaisar Giok memutuskan untuk menghukum desa tersebut dengan membakarnya pada malam ke-15 setelah Imlek.

Putri Kaisar Giok yang mengetahui rencana tersebut merasa sedih dan memperingatkan penduduk desa. Seorang tokoh kemudian menyarankan agar seluruh warga memasang lampion merah di rumah mereka agar terlihat seperti desa yang sudah terbakar.

Ketika Kaisar Giok melihat desa tersebut dari langit, ia mengira hukuman telah terlaksana dan membatalkan niatnya. Desa pun terselamatkan, dan sejak saat itu, tradisi menyalakan lampion terus dilakukan.

Tradisi Perayaan Cap Go Meh

Atraksi Naga saat pembukaan Festival Cap Go Meh 2026 di Kota Pontianak.Atraksi Naga saat pembukaan Festival Cap Go Meh 2026 di Kota Pontianak. Foto: (Istimewa)

Hingga kini Cap Go Meh tetap diperingati oleh etnis Tionghoa dan semakin dikenal sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Berikut rangkaian tradisi dan perayaan dalam Cap Go Meh:

1. Festival Lampion

Lampion beragam bentuk dan warna menjadi simbol utama Cap Go Meh, terutama lampion merah yang melambangkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan kemakmuran.

Penggunaan lampion yang terang di malam hari dipercaya dapat menerangi jalan kehidupan serta membawa harapan baik bagi masa depan.

2. Barongsai

Pertunjukan barongsai dan tarian naga liong menjadi atraksi yang tak pernah absen di setiap daerah. Barongsai sendiri dipercaya membawa keberuntungan sekaligus mengusir energi buruk, sedangkan tarian naga seringkali menjadi simbol kekuatan dan kesatuan.

3. Kuliner Khas

Beberapa makanan khas juga menjadi bagian tradisi Cap Go Meh, misalnya lontong Cap Go Meh yang terkenal di Indonesia.

Hidangan ini merupakan sebuah adaptasi kuliner hasil akulturasi budaya Nusantara, terutama Jawa, dan Tionghoa yang juga punya makna, lho! Siapapun yang menyangap sajian ini diharapkan bisa membawa keberuntungan dan umur panjang.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads