4 Legenda yang Konon Jadi Sejarah Tradisi Imlek

4 Legenda yang Konon Jadi Sejarah Tradisi Imlek

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Minggu, 15 Feb 2026 08:00 WIB
Suasana Festival Lampion di Jalan Jendral Sudirman, Kota Solo, Sabtu (7/2/2026).
Ilustrasi Imlek. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Balikpapan -

Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan keriuhan merah yang penuh makna bagi masyarakat Tionghoa di penjuru dunia. Berbagai ritual khas, mulai dari pendaran lampion yang hangat, tradisi berbagi angpao, hingga pemasangan kaligrafi di setiap sudut pintu, bukanlah sekadar dekorasi belaka.

Di balik gemerlap perayaan tersebut, tersimpan untaian kisah kuno dan mitologi yang menjadi fondasi awal mula tradisi ini dilakukan. Legenda-legenda menarik ini telah hidup dan diceritakan dari mulut ke mulut selama ribuan tahun sehingga akar budaya tetap kuat.

Aneka Legenda Imlek di Tiongkok

Menyadur informasi dari laman China Highlight dan Chinese Language Institute (CLI), berikut adalah 4 legenda seputar perayaan Imlek yang berakar dari tradisi Tiongkok:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Pertarungan Melawan Monster Nian

Istilah Tahun Baru dalam bahasa Mandarin adalah Guo Nian yang secara harfiah bermakna 'melewati atau mengalahkan Nian'. Konon, Nian adalah sesosok monster berkepala panjang dan bertanduk runcing yang bersembunyi di dasar samudra.

Nian hanya muncul tiap malam pergantian tahun untuk memangsa penduduk dan hewan ternak di pemukiman warga. Ancaman ini membuat penduduk desa selalu diliputi ketakutan dan memilih mengungsi setiap menjelang tahun baru.

Hingga suatu ketika, muncul seorang pria tua misterius berambut putih saat malam tahun baru tiba. Dengan penuh keberanian, ia mengusir Nian dengan cara menempelkan kertas merah di pintu, membakar bambu, dan menciptakan kegaduhan yang memekakkan telinga layaknya petasan.

Keesokan harinya, warga yang kembali dari pengungsian terkejut melihat desa mereka tetap utuh. Sejak saat itu, metode kakek tua tersebut dipraktikkan secara turun-temurun hingga menjadi tradisi wajib.

2. Riwayat Pemberian Angpao Amplop Merah

Sudah menjadi pakem dalam Imlek bahwa orang dewasa memberikan angpao atau amplop merah kepada anak-anak maupun kerabat yang belum berkeluarga. Amplop ini dikenal sebagai yasui qian. Dahulu, ada setan bernama Sui yang kerap mengganggu anak-anak saat mereka tertidur lelap.

Diceritakan bahwa anak yang tersentuh oleh Sui akan jatuh sakit, menangis histeris, mengalami demam tinggi, hingga menderita trauma mental yang cukup berat.

Demi melindungi sang buah hati dari gangguan Sui, orang tua biasanya menyalakan lilin dan terjaga sepanjang malam. Agar anak-anak tidak mengantuk, orang tua mereka memberikan delapan keping koin sebagai mainan.

Anak-anak tersebut membungkus koin dengan kertas merah, lalu membongkar dan membungkusnya berkali-kali hingga akhirnya terlelap. Koin berbungkus merah itu kemudian diletakkan di bawah bantal sang anak.

Saat Sui datang untuk beraksi, delapan koin tersebut tiba-tiba memancarkan sinar benderang yang menakutkan bagi sang setan. Sejak itulah, tradisi memberikan amplop merah dilakukan sebagai simbol perlindungan dan pembawa keberuntungan bagi anak-anak.

3. Asal-usul Lampion Merah

Kisah lainnya menceritakan cikal bakal festival lampion yang melibatkan sosok Kaisar Giok. Syahdan, burung bangau kesayangan sang kaisar dibunuh oleh warga desa, yang memicu kemarahan besar hingga ia berniat menghanguskan desa tersebut pada hari ke-15 bulan pertama.

Mengetahui niat sang ayah, putri Kaisar Giok yang berhati lembut segera memberi peringatan kepada penduduk desa agar mereka bisa bersiap diri menghadapi hukuman tersebut.

Warga kemudian mendapat ide cerdik untuk mengelabui sang kaisar dengan menggantungkan lampion merah dan menyalakan kembang api secara serentak. Dari kejauhan, desa itu tampak seperti sedang dilalap api hebat, sehingga Kaisar pun merasa misinya telah tuntas.

Di sisi lain, terdapat versi sejarah yang lebih realistis, di mana festival lampion bermula pada masa Kaisar Ming dari Dinasti Han (58-75 M). Kala itu, ajaran Buddha mulai berkembang dan kebiasaan para biksu menyalakan lentera pada hari ke-15 mulai diadopsi secara luas.

Kaisar Ming memerintahkan pihak istana dan seluruh rakyat untuk ikut menyalakan lampion. Tradisi ini kemudian meluas ke seluruh wilayah dan tetap lestari hingga zaman modern.

4. Makna di Balik Tempelan Kaligrafi

Menempelkan seni kaligrafi pada pintu atau dinding juga merupakan ciri khas Imlek. Tradisi ini berakar sekitar milenium lalu ketika orang-orang memasang taofu (jimat dari kayu pohon persik) sebagai simbol pelindung rumah.

Legenda menyebutkan adanya gerbang dunia hantu yang dijaga oleh dua sosok tangguh, Shentu dan Yulei. Dengan menuliskan nama kedua penjaga tersebut pada kayu persik, dipercaya roh jahat tidak akan berani masuk ke dalam rumah.

Memasuki zaman Dinasti Song (960-1279), warga mulai menuliskan sepasang kalimat puitis pada kayu tersebut sebagai pengganti nama penjaga. Seiring waktu, media kayu digantikan oleh kertas merah yang lebih praktis namun tetap melambangkan kebahagiaan.

Kini, memasang kaligrafi atau chun lian telah menjadi cara universal bagi masyarakat untuk menyambut tahun yang baru sembari memanjatkan doa serta harapan terbaik bagi masa depan.

Itulah empat legenda dan latar belakang sejarah perayaan Imlek yang hingga kini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Tionghoa di seluruh penjuru dunia.

Halaman 2 dari 2
(bai/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads