Selamat Jalan Maestro Seni Rupa Nasirun

Round up

Selamat Jalan Maestro Seni Rupa Nasirun

Tim detikJogja - detikJogja
Minggu, 02 Agu 2026 05:01 WIB
Perupa Nasirun
Prupa Nasirun. Foto: Courtesy of Orbital Dago/ Instagram
Jogja -

Dunia seni Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Maestro lukis Nasirun meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi para seniman, murid, kolega, dan pecinta seni di Tanah Air.

Kabar wafatnya pelukis kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, itu pertama kali menyebar melalui unggahan sejumlah sahabat dan kerabat. Penulis Agus Noor mengungkapkan rasa kehilangan atas sosok yang dikenalnya sebagai pribadi sederhana dan penuh kebaikan.

"Mendapat kabar, pelukis Nasirun (@nasirunstudio) meninggal dunia, selitar pukul 05.30 an, pagi tadi, 1 Agustus 2026. Alfatikhah buat almarhumah. Saya bersaksi ia orang yang baik," tulis Agus Noor dalam unggahannya dilihat detikJogja, Sabtu (1/8).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetangga sekaligus sahabat Nasirun, Bimo Aditya, juga membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, kepergian sang maestro begitu mendadak.

"Nggak ada riwayat (sakit), kemarin sore masih ngobrol sama aku, cuma akhir-akhir ini ngeluh dada sakit sama ada asam lambung kemarin. Jadi selama ini sehat sehat wae, dadakan aja ini," kata Bimo saat dihubungi, Sabtu (1/8/2026).

ADVERTISEMENT

Nasirun meninggal dunia pada usia 65 tahun. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Rencananya, jenazah dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul.

Seniman Besar dengan Hati yang Sederhana

Bagi banyak orang, Nasirun bukan hanya dikenal lewat karya-karya lukisnya yang telah dipamerkan hingga mancanegara. Ia juga dikenang sebagai pribadi yang rendah hati, murah senyum, dan tak pernah membeda-bedakan orang.

Pelukis Jumaldi Alfi, yang mengenal Nasirun sejak menjadi seniornya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada awal 1990-an, mengenang almarhum sebagai sosok yang telah 'selesai dengan dirinya sendiri'.

"Beliau orang yang dipuji tidak akan besar kepala, dimaki tidak akan sakit hati. Orang yang sudah los stang. Kalau dalam dunia tasawuf itu orang yang sudah selesai dengan dirinya,"

Menurutnya, Nasirun memiliki kebiasaan membantu siapa saja tanpa melihat status. Baik seniman muda maupun senior diperlakukan sama. Bahkan ketika telah menjadi nama besar di dunia seni, ia tetap bersedia menghadiri pameran kecil sekalipun.

"Kadang-kadang kan saya gojek sama dia, 'Sosok kayak kamu itu udah pameran internasional di mana-mana, tapi pameran RT antar gang aja dia tetap mau'. Tetap datang, tetap membuka, tetap ikut. Jadi kan kadang-kadang kayak saya sendiri kadang-kadang kan ada ego itu kan 'ah pilih-pilih lah' gitu kan 'masa level kita udah kayak gitu', Nasirun nggak ada kayak gitu," terangnya.

"Karena buat dia itu satu yang mungkin kita perlu belajar sama 'Undangan itu wajib dituntaskan'. Undangan pameran kah, undangan diajak pameran kah, undangan untuk menghadiri pameran kah. Jadi pameran di atas gunung pun, dia disuruh buka, dia akan datang. Kecuali kalau dia sakit atau apa gitu," lanjut Alfi.

Alfi juga menggambarkan sahabatnya sebagai sosok yang selalu memilih tersenyum dalam segala keadaan.

"Jadi orang yang dihajar setengah mati pun dimaki setengah mati cuman membalas dengan ketawa. Orang yang ketika laparnya setengah mati tapi melihat orang lapar di sebelahnya, dia mungkin roti yang di mulut dia itu sedang dia makan, dia akan kasihkan ke orang lain," ujar Alfi.

Sosok yang Menginspirasi

Kepergian Nasirun juga meninggalkan kehilangan bagi dunia pendidikan seni. Kurator seni sekaligus dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, mengaku sosok Nasirun menjadi inspirasi baginya sejak masih mahasiswa.

Saat pertama kali mengenal Nasirun pada medio 1993-1994, Mikke melihat bahwa seorang seniman ternyata mampu hidup dari karya-karyanya.

"Nasirun adalah orang yang mampu membuat saya percaya diri hidup di dunia kesenian. Pada saat itu pun hari ini, kadang-kadang ada keluarga yang masih belum yakin bahwa anaknya yang di kesenian itu bisa hidup. Nah, Pak Nasirun membuka itu semua karena sejak kuliah beliau sudah aktif sekali berpameran dan karyanya diterima oleh banyak kolektor," kata Mikke.


Kehilangan Besar

Bagi dunia seni rupa Indonesia, kepergian Nasirun bukan sekadar kehilangan seorang pelukis. Ia meninggalkan jejak panjang berupa karya, keteladanan, dan semangat berbagi yang terus hidup di hati banyak orang.

"Dan Nasirun sangat berjasa di dalam hal ini karena dia tidak hanya secara nasional tapi juga internasional membawa harum nama Indonesia dengan cara melukisnya yang khas, sangat terikat pada kebudayaan setempat, lokal, dan mempunyai daya mistik yang kuat," kata wartawan senior sekaligus sastrawan, Sindhunata di rumah duka.

"Sehingga kita pendeknya kehilangan seorang tokoh besar di dalam seni rupa dan suatu kehilangan yang luar biasa dan ini masih buat saya khususnya belum habis percaya bagaimana menyembuhkan luka kehilangan ini gitu. Saya kira itu," pungkas Romo Sindhu.

Di balik lukisan-lukisan yang telah menghiasi berbagai ruang pamer di dalam maupun luar negeri, tersimpan sosok sederhana yang tak pernah merasa lebih tinggi dari orang lain. Seorang maestro yang tetap hadir untuk pameran kecil, tetap tersenyum dalam suka maupun duka, dan selalu membuka tangan bagi siapa saja yang membutuhkan.

Selamat jalan, Nasirun. Karya-karyamu akan terus bercerita, dan ketulusanmu akan selalu dikenang.



(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads