Para kerabat mengenang sosok Maestro lukis Nasirun semasa hidup. Seniman asal Cilacap Jawa Tengah tersebut dikenal sebagai sosok yang ringan tangan tanpa pandang bulu dan haus akan eksplorasi dalam berkesenian.
Pelukis yang juga tetangga dekat Nasirun, Jumaldi Alfi mengaku sangat mengenal sosok Nasirun. Bermula saat Nasirun menjadi seniornya saat menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja tahun 1990 silam, hingga kini hidup bertetangga dengan Nasirun.
"Kalau (tinggal) satu komplek itu sekitar sudah 15 tahun. Tapi kalau yang sebagai kakak kelas saya ya saya sudah kenal dia dari tahun 90. Iya di ISI," jelas Alfi saat ditemui di rumah duka, Sabtu (1/8).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beliau orang yang dipuji tidak akan besar kepala, dimaki tidak akan sakit hati. Orang yang sudah los stang. Kalau dalam dunia tasawuf itu orang yang sudah selesai dengan dirinya," sambungnya.
Baca juga: Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia |
Nasirun, kata Alfi, adalah sosok yang sangat gemar membantu tanpa pandang bulu. Nasirun tak pernah membedakan seniman senior maupun junior. Nasirun tak pernah menolak ajakan pameran, baik menjadi peserta maupun pembuka pameran.
"Jadi orang yang dihajar setengah mati pun dimaki setengah mati cuman membalas dengan ketawa. Orang yang ketika laparnya setengah mati tapi melihat orang lapar di sebelahnya, dia mungkin roti yang di mulut dia itu sedang dia makan, dia akan kasihkan ke orang lain," ujar Alfi.
Meski sudah menjadi seniman besar yang kerap berpameran internasional, Nasirun tak pernah memilih kemana hasil karyanya akan dipamerkan. Nasirun, menurut Alfi, tak akan menolak undangan pameran apapun dari siapapun.
Bagaimanapun keadaan Nasirun, ia akan selalu tersenyum. Susah, senang, sakit, sehat, Nasirun akan selalu tertawa. Karena itu, Alfi mengatakan, kerabat-kerabat begitu terkejut atas kepergian sang Maestro.
"Kadang-kadang kan saya gojek sama dia, 'Sosok kayak kamu itu udah pameran internasional di mana-mana, tapi pameran RT antar gang aja dia tetap mau'. Tetap datang, tetap membuka, tetap ikut. Jadi kan kadang-kadang kayak saya sendiri kadang-kadang kan ada ego itu kan 'ah pilih-pilih lah' gitu kan 'masa level kita udah kayak gitu', Nasirun nggak ada kayak gitu," terangnya.
"Karena buat dia itu satu yang mungkin kita perlu belajar sama 'Undangan itu wajib dituntaskan'. Undangan pameran kah, undangan diajak pameran kah, undangan untuk menghadiri pameran kah. Jadi pameran di atas gunung pun, dia disuruh buka, dia akan datang. Kecuali kalau dia sakit atau apa gitu," lanjut Alfi.
Kurator seni dan staf pengajar FSRD ISI Yogyakarta, Mikke Susanto menambahkan, saat melihat Nasirun pertama kali di medio 1993-1994, membuat Mikke yakin untuk hidup lewat seni.
"Nasirun adalah orang yang mampu membuat saya percaya diri hidup di dunia kesenian. Pada saat itu pun hari ini, kadang-kadang ada keluarga yang masih belum yakin bahwa anaknya yang di kesenian itu bisa hidup. Nah, Pak Nasirun membuka itu semua karena sejak kuliah beliau sudah aktif sekali berpameran dan karyanya diterima oleh banyak kolektor," terangnya.
Nasirun meninggal dunia di usia 65 tahun, ia meninggalkan istri dan ketiga anaknya. Nasirun akan dimakamkan sore nanti di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul.
Baca juga: Suasana Rumah Duka Perupa Nasirun di Bantul |

Komentar Terbanyak
Ulah Oknum Fotografer 'Kuasai' Pelang Jalan Malioboro demi Cuan
Alasan di Balik Ditutupnya Belasan Dapur MBG di DIY
Alasan Mahasiswa USD Cosplay Kamen Rider Saat Ujian Proposal Tesis