Universitas Gadjah Mada (UGM) membatasi aktivitas olahraga di sejumlah area kampus. Ada pelari yang sempat kena tegur petugas karena belum mengetahui aturan tersebut.
"Iya papannya udah kelihatan di mana-mana ya. Sebelumnya nggak tahu saya, sempat ditegur petugas tadi," ujar karyawan swasta asal Tangerang yang sering jogging di area Kampus UGM, Dista, saat ditemui detikJogja di Wisdom Park, UGM, Rabu (16/8/2026).
Meski begitu, Dista enggan mengungkapkan secara detail petugas yang menegurnya. Ia pun langsung berpindah lokasi jogging ke Wisdom Park.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terus akhirnya diarahin ke Wisdom Park. Saya nggak masalah ya, cuma Wisdom Park itu kan kecil sama sempit treknya," ungkapnya.
Beberapa papan pemberitahuan terkait pembatasan tersebut sebetulnya telah terpasang di sejumlah titik di area kampus. Tertulis bahwa semua kegiatan olahraga telah dipusatkan di Wisdom Park UGM.
Pelari lainnya yakni, Mutia, mahasiswa UNY asal Jogja yang kerap joging di area UGM, menilai pembatasan tersebut dapat dipahami. Menurutnya, aktivitas jogging di jalan umum memiliki risiko karena bercampur dengan kendaraan yang melintas.
"Kalau kita kan bukan anak UGM ya, kita emang dari luar yang ke UGM tuh cuman olahraga doang. Mungkin sih ada benarnya karena kan udah disediain Wisdom Park buat olahraga ya. Kalau di luar tuh lebih bahaya keselamatan sih mungkin, karena kan itu jalan umum ya, banyak motor, mobil lalu lalang. Kayaknya lebih bagus kalau di Wisdom Park sih," ungkapnya.
Mutia sendiri menilai jalur di Wisdom Park cukup untuk digunakan jogging. Ia menyebut kawasan tersebut memiliki rute yang relatif aman karena tidak perlu melewati jalan besar.
"Kalau aku sih cukup aja ya, karena rutenya dari sini sampai ke yang di sana itu loh, yang di pinggir jalan itu kan nembus kan. Nggak lewat jalan besar juga, jadi aman. Menurutku cukup aja sih," tuturnya.
Namun, menurut Mutia, kondisi jalur jogging di luar kawasan Wisdom Park juga bergantung pada waktu. Saat pagi buta, kondisi jalan masih relatif sepi. Sementara pada sore hari, lalu lintas kendaraan lebih ramai.
"Kalau tergantung jamnya sih. Kalau misalnya pagi yang subuh-subuh gitu masih sepi, tapi kalau yang udah sore gitu ramai," katanya.
Hal serupa disampaikan Retno, karyawan swasta asal Jogja yang juga kerap jogging di kawasan UGM. Ia mengatakan jalur di sekitar kampus sebenarnya nyaman digunakan untuk berolahraga, tetapi ukuran jalannya yang relatif kecil menjadi kendala ketika ramai.
"Kalau menurut saya sih enggak masalah juga ya. Soalnya di sini juga enak juga sih. Walaupun agak minusnya cuma jalannya yang agak kecil aja gitu. Jadi gantian doang sih. Kalau pas lagi ramai jadinya enggak bisa kayak laju dikit enggak bisa. Ya udah gantian aja sih," ujarnya.
Retno juga menilai penggunaan ruas jalan umum untuk jogging memiliki risiko karena harus berbagi ruang dengan kendaraan.
"Memang di situ juga enak, tapi kadang kalau pas lagi enggak jogging terus mau pulang tuh kadang juga agak terganggu juga gitu. Kan kadang kan juga ramai-ramaian juga sih," katanya.
"Jadinya memang agak bahaya juga sebenarnya. Kayak kan mereka entah mau pulang atau gimana. Kalau pagi kan pas mau berangkat atau gimana, jadi kayak mereka laju juga. Ya sebenarnya enggak laju-laju banget sih, tapi kayak sebenarnya bahaya juga," pungkasnya.
