Apa Itu Sabtu Suci dalam Trihari Suci Paskah? Ini Penjelasan dan Maknanya

Apa Itu Sabtu Suci dalam Trihari Suci Paskah? Ini Penjelasan dan Maknanya

Mardliyyah Hidayati - detikJogja
Sabtu, 04 Apr 2026 08:48 WIB
Renungan Harian Katolik
Ilustrasi Sabtu Sunyi. (Foto: reenablack/Pixabay)
Jogja -

Dalam rangkaian perayaan Paskah, terdapat satu momen yang sering kali kurang dipahami oleh banyak orang, yakni Sabtu Suci. Hari ini menjadi bagian penting dalam Trihari Suci yang dirayakan oleh umat Kristiani di seluruh dunia. Meski tidak semeriah perayaan lainnya, Sabtu Suci justru menyimpan makna yang sangat mendalam.

Perayaan Paskah memiliki rangkaian kegiatan keagamaan yang disebut Trihari Suci Paskah. Tidak hanya hari Minggu saat perayaan Paskah diadakan, tetapi juga Jumat Agung dan Sabtu Suci. Di antara hari Minggu dan Jumat yang dipadati peribadatan mengenang kematian sekaligus kebangkitan Kristus, ada Sabtu Suci sebagai jeda istirahat yang penuh ketenangan.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Sabtu Suci dalam Trihari Suci Paskah, serta apa makna yang terkandung di dalamnya? Untuk memahami lebih jauh, mari simak uraiannya di bawah!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Sabtu Suci?

Sabtu Suci merupakan salah satu bagian penting dalam rangkaian Trihari Suci yang dilaksanakan setelah peringatan Jumat Agung. Mengacu pada buku Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja karya Rasid Rachman, hari ini hadir sebagai kelanjutan dari suasana duka atas wafatnya Yesus Kristus. Setelah kebaktian Jumat Agung berakhir, gereja tidak langsung kembali pada perayaan yang meriah, melainkan tetap menjaga suasana hening melalui ibadah di luar liturgi resmi. Oleh karena itu, sesuai dengan namanya, Sabtu Suci menjadi momen yang dipenuhi dengan keheningan yang khidmat dan penuh makna spiritual.

ADVERTISEMENT

Akan tetapi, keheningan dalam Sabtu Suci bukan sekadar suasana sepi tanpa aktivitas. Hari tersebut justru dipenuhi dengan perenungan mendalam mengenai pengorbanan Yesus Kristus bagi umat manusia. Dalam sumber yang sama dijelaskan bahwa Sabtu Suci menjadi simbol saat Yesus berada dalam kesendirian di dalam makam-Nya. Umat Kristiani diajak untuk menghayati momen tersebut melalui doa, puasa, serta pantangan yang tetap dijalankan meskipun tidak ada perayaan liturgi besar. Dengan demikian, suasana sunyi yang tercipta menjadi sarana bagi umat untuk lebih mendalami makna pengorbanan dan kasih Kristus.

Meskipun identik dengan kesunyian dan tidak diisi dengan perayaan liturgi seperti hari-hari besar lainnya, Sabtu Suci justru disebut sebagai "induk dari semua ibadah malam." Hal ini berkaitan erat dengan perenungan akan penderitaan dan kesendirian Kristus yang mencapai puncaknya sebelum kebangkitan-Nya. Dalam suasana hening tersebut, umat mulai berkumpul dengan penuh ketenangan sebagai bentuk persiapan batin menuju perayaan Paskah. Kesunyian ini menjadi tahap penting yang harus dilalui sebelum memasuki sukacita kebangkitan Kristus.

Pada malam harinya, umat mulai mengikuti rangkaian ibadah yang dikenal sebagai Malam Paskah, yang diisi dengan berbagai bacaan Kitab Suci. Bacaan tersebut meliputi tujuh bagian dari Perjanjian Lama, satu surat dari Rasul Paulus, serta Injil. Bacaan dari Perjanjian Lama umumnya berisi refleksi gereja tentang karya keselamatan Allah yang berpuncak pada diri Yesus Kristus. Sebagaimana disebutkan dalam surat Lukas ayat 26 sampai 27 sebagai berikut.

"Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya. Lalu ia menjelaskan kepada mereka apa yang telah tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi."

Makna Sabtu Suci

Sabtu Suci memiliki makna yang sangat mendalam sebagai hari penantian akan kebangkitan Kristus. Dalam buku Natal dan Paskah: Perayaan Liturgis dalam Dua Lingkaran karya C. H. Suryanugraha, OSC, dijelaskan bahwa hari ini merupakan waktu penantian yang diisi dengan doa, puasa, serta refleksi iman. Umat diajak untuk tidak hanya menunggu secara pasif, tetapi juga mempersiapkan diri secara rohani dalam menyambut peristiwa kebangkitan yang menjadi inti iman Kristiani.

Sabtu Suci atau Sabtu Suci menyimpan makna kesengsaraan dan kesendirian Kristus yang perlu direnungkan. Hari yang suci ini juga melambangkan saat istirahat Allah (sabat). Maka dari itu, alangkah baiknya momen tersebut diisi dengan peribadatan dan perenungan dengan suasana tenang. Hal yang demikian tersebut menjadi bentuk penghormatan akan pengorbanan Kristus kepada kita.

Dalam konteks tersebut, Sabtu Suci menjadi simbol perhentian sebelum dimulainya kehidupan baru melalui kebangkitan Kristus. Oleh sebab itu, suasana tenang, penuh doa, dan refleksi menjadi sangat dianjurkan sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan Kristus yang telah wafat demi keselamatan umat manusia.

Ketentuan Liturgis Sabtu Suci

Berdasarkan sumber yang sama, pelaksanaan Sabtu Suci diatur melalui beberapa ketentuan liturgis yang menegaskan suasana hening dan penuh permenungan.

1. Tidak diperbolehkan mengadakan Perayaan Ekaristi.

2. Komuni Kudus hanya diberikan bekal suci (viaticum) dalam bahaya maut sebelum misa Malam Paskah.

3. Tidak diperbolehkan merayakan Sakramen Perkawinan maupun sakramen lainnya, kecuali Sakramen Rekonsiliasi atau Tobat dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit.

4. Tetap diperbolehkan untuk mengadakan Liturgi Pemakaman dengan catatan tidak dalam bentuk Misa.

5. Altar dalam gereja dibiarkan tanpa taplak maupun hiasan yang menutupinya.

6. Pemasangan objek-objek doa devosional yang berkaitan dengan misteri wafat Kristus, seperti Salib Kristus, patung jenazah Yesus berbaring, dan lain sebagainya, untuk dihormati oleh umat.

Demikian itulah uraian mengenai apa itu Sabtu Suci, mulai dari pengertian, makna, sampai ketentuan liturgisnya. Semoga menambah wawasan keagamaan kalian ya, Dab!

Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



(sto/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads