Deal! Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik Dibangun di Piyungan Akhir Tahun

Deal! Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik Dibangun di Piyungan Akhir Tahun

Adji G Rinepta - detikJogja
Selasa, 11 Agu 2026 17:29 WIB
Penandatanganan MoU proyek PSEL di Kantor Gubernur DIY, Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Selasa (11/8)
Penandatanganan MoU proyek PSEL di Kantor Gubernur DIY, Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Selasa (11/8). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) akan dibangun di Piyungan, Bantul mulai akhir tahun 2026. Kepastian ini dicapai usai adanya kesepakatan antara Danantara Investmen Managemen (DIM) dan Pemda DIY yang ditandai dengan penandatanganan MoU.

Penandatanganan MoU dilakukan di Kantor Gubernur DIY, Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, siang ini. Selain Danantara dan Pemda DIY, tiga kabupaten/kota juga turut menandatangani MoU, Wali Kota Jogja, Bupati Bantul, dan Bupati Sleman.

Director Investment DIM sekaligus Chief Executive Officer Denera, Fadli Rahman menjelaskan nilai investasi dalam proyek ini menyentuh angka Rp 3 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nilai investasi diperkirakan sekitar Rp 2,5 sampai Rp 3 triliun, yang tentunya nanti tergantung dari hasil desain itu sendiri pada tahun ini," jelas Fadli di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Selasa (11/8/2026).

ADVERTISEMENT

"Target kita akan peletakan batu pertama (groundbreaking) di akhir tahun ini, yaitu di Desember 2026, sehingga di kuartal 3 atau kuartal 4 tahun 2028 nanti sudah bisa mengolah sampah untuk kawasan Yogyakarta ini," sambungnya.

Fadli mengatakan, PSEL ini akan dibangun di lahan dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan seluas 5,7 hektare. Dalam pembangunan fisik PSEL, Fadli bilang pihaknya akan menyerap tenaga dari warga sekitar.

Usai penandatanganan MoU, proyek ini kini masuk dalam persiapan konstruksi. Termasuk di dalamnya kajian lingkungan, lalu pembuatan detail engineering design (DED), hingga pematangan lahan.

"Di dekat TPA Piyungan, sekitar 5,7 hektare. Lokasi berbeda, tapi masih wilayah bersebelahan dengan TPA Piyungan. Kita mengharapkan ada penyerapan tenaga kerja yang signifikan pada saat proses konstruksi sendiri, ini sekitar 800 sampai 1.000 tenaga kerja yang akan kita utamakan tenaga kerja dari lokal," urainya.

"Ini salah satu dari tahap dua ya, jadi salah satu dari 11 (PSEL) yang berjalan secara beriringan. Jadi ini tidak ada pendahuluan atau tidak ada prioritisasi, memang semuanya berjalan beriringan," lanjut Fadli.

Olah 1.000 Ton Sampah/Hari

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan sampah di Kota Jogja, Sleman dan Bantul nantinya akan dikirimi ke PSEL untuk memenuhi kuota yakni 1.000 ton per hari. Pemkot/Pemkab tidak dipungut biaya apapun, namun hanya memikirkan akomodasi sampah ke PSEL.

"Ya sampah-sampah itu ya dari kabupaten/kota, yang menandatangani (MoU) baru Sleman, Bantul, sama Kota. Dua kabupaten masih bisa menanggulanginya sendiri, masih terbatas gitu. Jadi, tiga ini yang memerlukan partisipasi pihak lain untuk investasi," ujar Sultan.

Sementara, Fadil menambahkan, dalam MoU juga diatur mengenai teknis jika kuota sampah harian yang sudah disepakati tidak terpenuhi. Sebelum ada penalti, berbagai cara sudah disiapkan dan disepakati.

Salah satunya yakni langkah mitigasi yang akan dilakukan jika kuota sampah belum terpenuhi. Langkah ini diyakini akan menyelesaikan masalah itu sebelum penalti dilakukan.

"Jadi sebelum mencapai titik penalti, ada langkah-langkah mitigasi yang tentunya kita akan diskusikan dan kerjasamakan dengan Pemda terkait," papar Fadli.

"Bisa (menyerap sampah) dari kabupaten lainnya, atau kita bisa meningkatkan ritase dari sampahnya itu sendiri di kabupaten/kota terkait, atau bahkan kita bisa mempertimbangkan untuk mengambil dari TPA Piyungan, jadi timbunan, bukan dari timbulan, walau jumlahnya sedikit terbatas," imbuhnya.

Teknis PSEL

Fadli memaparkan, seribu ton sampah dari 3 kabupaten/kota akan didistribusikan ke PSEL setiap harinya. Sampah kemudian ditampung dalam bungker raksasa kedap udara untuk dikeringkan. Dalam proses ini, sampah tidak perlu dipilah.

"Sampah itu akan melalui proses pengeringan selama 5 hari di dalam bunker tersebut, air sampah akan keluar, dan kemudian sampah akan menjadi feedstock atau pasokan untuk membakar atau memanaskan air menjadi uap, yang kemudian uap tersebut akan memutar turbin dan menjadi listrik," urainya.

Residu pembakaran sampah itu, kata Fadli, akan berupa abu. Abu itu juga tidak dibuang, melainkan akan diproses dan diolah menjadi produk yang berstandar Eropa. Untuk masalah asap pembakaran, lanjutnya, akan disaring sehingga keluarannya tidak mencemari lingkungan.

"Hasil bakaran sampah akan menjadi abu, abu atas dan abu bawah yang diolah dan memenuhi standar tinggi, akan masuk standar Eropa. Ini yang akan kita dorong, jadi lebih tinggi daripada standar lingkungan SNI atau Indonesia, jauh lebih baik," papar Fadli.

"Selain itu tentunya akan melalui proses penyaringan yang ketat sehingga abu udara yang keluar itu menjadi uap air yang lebih bersih, bahkan bisa dari udara sekitar, dan air lindi tadi yang sudah keluar itu akan diproses menjadi air bersih kembali," urainya.

Hasilkan Listrik 20 Megawatt

Fadli melanjutkan, seribu ton sampah yang diolah setiap harinya mampu menghasilkan 18 sampai 20 megawatt listrik. Listrik itu nantinya akan dijual ke PLN sebesar 20 sen per kWh.

"Jadi (18-20 megawatt) itu bisa mengaliri sekitar 15 ribu rumah untuk di kawasan Yogyakarta tentunya. Di mana nanti kami akan bekerja sama dengan PLN, jadi akan ada penandatanganan atau perjanjian jual beli listrik dengan PLN, sama seperti lokasi-lokasi PSEL lainnya," paparnya.

"Sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) 109/2025, listrik akan dibeli oleh PLN dengan harga 20 sen per kWh, yang ini akan mencakup kerja sama selama 30 tahun ke depan. Jadi listrik itu akan dibayarkan langsung oleh PLN. Daerah tidak mengeluarkan biaya untuk listrik," pungkas Fadli.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Pemerintah Segera Uji Coba Sulap Sampah Jadi Energi Listrik"
[Gambas:Video 20detik] (afn/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads