Misteri Kandungan Nikel di Batang Padi Crop Circle Sleman 2011

Misteri Kandungan Nikel di Batang Padi Crop Circle Sleman 2011

Desi Rahmawati - detikJogja
Senin, 23 Mar 2026 14:43 WIB
Misteri Kandungan Nikel di Batang Padi Crop Circle Sleman 2011
Citra crop circle di Sleman 2011 dari udara. (Foto: ANTARA/UGM)
Jogja -

Penemuan crop circle di Berbah, Sleman pada tahun 2011 silam sempat menarik perhatian khalayak umum. Fenomena ini memunculkan berbagai spekulasi mengenai bagaimana pola lingkaran tersebut dapat terbentuk.

Sejak kemunculannya, banyak peneliti yang melakukan penelitian pada tanaman di area crop circle tersebut. Salah satu penelitian tersebut menemukan kandungan logam yang tidak biasa pada tanaman di area tersebut.

Dikutip dari detikNews, tim peneliti Undip menemukan adanya kandungan nikel di batang padi. Temuan ini kemudian menjadi misteri baru dalam pembahasan crop circle di Sleman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan Kandungan Nikel di Batang Padi Crop Circle Sleman

Adanya kandungan nikel di batang padi crop circle Sleman ditemukan oleh peneliti Undip saat melakukan penelitian terkait terbentuknya fenomena misterius tersebut. Dalam buku Menguak Misteri Crop Circle di Indonesia oleh Muhammad Nur & Kartono yang berisi hasil penelitian tersebut, disebutkan kandungan nikel ditemukan melalui analisis SEM EDS (Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectroscopy) pada tanaman padi di area crop circle.

ADVERTISEMENT

Ketika dilihat melalui alat tersebut, ditemukan adanya kandungan nikel sebanyak 3% pada batang padi yang mengalami pembengkokan dan perpanjangan internode. Anehnya, kandungan ini hanya terdeteksi pada tanaman yang ada di area crop circle, sedangkan di luar itu sama sekali tidak ditemukan adanya kandungan nikel. Temuan ini juga dianggap tidak biasa karena nikel bukan zat kimia yang secara umum ditemukan pada batang padi dalam jumlah yang banyak.

Lebih lanjut, mereka juga mengkaji komposisi kimia dari sekam padi yang kebanyakan terdiri dari kandungan Silika (SiO2). Secara umum, kandungan Silika dalam abu sekam sekitar 86,9-97,80%, jika nilainya mendekati atau di bawah angka tersebut maka kemungkinan karena abu sekam tersebut terkontaminasi kandungan lain.

Dalam hasil uji komposisi dari sampel batang padi pada area crop circle dan di luar area menunjukkan adanya kandungan logam lain, yakni besi dan nikel. Keberadaan kandungan nikel ini menjadi sebuah keanehan yang belum dapat dijelaskan. Meski begitu, keanehan ini menjadi alasan kuat para peneliti Undip bahwa crop circle tersebut sulit dilakukan oleh manusia.

Hipotesis Terkait Angin Ion dan Plasma Vortex

Tim peneliti Undip juga menggunakan hipotesis terkait angin ion dan plasma vortex untuk menjelaskan penyebab adanya fenomena crop circle tersebut. Plasma vortex merupakan gas yang terionisasi dalam lucutan listrik yang bergerak berputar membentuk pusaran atau bergerak spiral karena medan magnet dan listrik tinggi.

Sementara angin ion adalah aliran ion positif yang bergerak menuju bumi dan membentuk kanal dengan medan magnet di sekitarnya. Dalam perjalanannya, ion dan electron mengalami rekombinasi dan memancarkan gelombang elektromagnetik. Akibatnya, terbentuk pola-pola tertentu pada tanaman di ladang yang menjadi crop circle.

Tanaman padi yang rebah pada area tersebut juga disebabkan dorongan angin ion yang diputar oleh medan magnet yang mempengaruhi arah gerak ion. Kondisi plasma dari gas terionisasi juga akan memancarkan radiasi elektromagnetik akibat muatan listrik yang bergerak. Pada akhirnya, terjadi pembengkokan dan pemanjangan tanpa adanya patahan pada batang padi.

Adanya angin ion dan plasma vortex ini menunjukkan bahwa pembengkokan batang padi tersebut bukan ulah manusia karena tidak ditemukan patahan. Selain itu, terjadi perubahan kimia dan pemanasan atas reaksi kimia plasma pada bulir padi. Dengan begitu, peneliti menyimpulkan bahwa crop circle di Sleman ini dibentuk oleh fenomena alam, bukan manusia yang menggunakan peralatan mekanik.

Berbeda dengan dugaan fenomena alam. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menduga jika crop circle yang terjadi di Sleman tersebut adalah perbuatan manusia. Dirujuk dari detikNews, hal ini diyakinkan dari temuan lubang di tengah pola crop circle yang diduga menjadi tempat menancapkan tonggak.

Selain itu, peneliti LAPAN juga menemukan adanya bekas singkapan padi menuju lubang tersebut. Sibakan inilah yang menjadikan sebuah kesimpulan terdapat seseorang yang masuk ke lubang tersebut dan membuat crop circle.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa fenomena crop circle masih menjadi topik yang diperdebatkan dan masih menjadi misteri yang belum sepenuhnya memiliki penjelasan yang disepakati.

Penemuan Serupa di Inggris

Penemuan kandungan logam pada tanaman di area crop circle tidak hanya terjadi di crop circle Sleman. Jauh sebelum itu, di Inggris pada tahun 1993 juga pernah ditemukan kandungan logam pada crop circle berupa zat besi.

Dirujuk dari situs tim riset BLT, pernah dilakukan penelitian oleh WC Levengood dan John Burke terhadap tanaman di crop circle Cherhill, Wiltshire, Inggris. Dari penelitian tersebut, didapat lapisan glasir besi alami pada tanaman di area crop circle.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa sebagian kandungan besi tersebut seperti pernah dalam kondisi meleleh sebelum mendingin di permukaan tanah. Peneliti menduga zat besi tersebut kemungkinan berasal dari debu meteroit yang jatuh dari atmosfer.

Dari hasil penelitian tersebut, peneliti kemudian menghubungkannya dengan teori plasma vortex. Diduga pusaran plasma ini menarik debu meteor bermuatan logam yang kemudian dipanaskan oleh gelombang mikro dan jatuh ke tanah ketika crop circle itu terbentuk.

Sejak temuan tersebut, sampel-sampel tanah pada area crop circle lain menunjukkan adanya kandungan bola-bola kecil dari besi berdiameter 10-15 mikrometer. Adanya temuan perubahan kimiawi pada tanah dan tanaman ini lalu menjadi salah satu karakteristik untuk menilai keaslian sebuah crop circle tanpa campur tangan manusia.

Dalam peristiwa crop circle di Sleman pada tahun 2011, peneliti juga menemukan bukti adanya kandungan nikel di batang padi. Namun, hingga kini, asal-usul kandungan zat kimia tersebut masih belum bisa dijelaskan secara pasti. Apakah berasal dari plasma vortex seperti yang terjadi di Inggris atau berasal dari sumber lain. Oleh karena itu, temuan kandungan nikel ini masih meninggalkan sebuah misteri yang layak untuk terus dibahas.

Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(sto/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads