Duh! Between Two Gates Kotagede Sempat Ditutup gegara Ulah Wisatawan

Duh! Between Two Gates Kotagede Sempat Ditutup gegara Ulah Wisatawan

Adji G Rinepta - detikJogja
Rabu, 03 Jun 2026 21:38 WIB
Between Two Gates adalah sebuah pemukiman unik di Kotagede, Yogyakarta, yang dinobatkan sebagai Bangunan Warisan Budaya. Berada di tempat ini sangat menenangkan.
Between Two Gates adalah sebuah pemukiman unik di Kotagede, Yogyakarta, yang dinobatkan sebagai Bangunan Warisan Budaya. Foto: Lintia Elsi
Jogja -

Kawasan heritage Between Two Gates (BTG) di Kotagede, Kota Jogja, terpaksa ditutup sementara lantaran ulah para wisatawan yang berkunjung. Pengelola pun menceritakan kelakuan para wisatawan yang membuat BTG sempat ditutup dua hari.

Pengelola BTG, Joko Nugroho, menjelaskan penutupan dilakukan pada Minggu (31/5) pagi. Alasannya, di hari itu tepatnya jam 07.00 pagi, rombongan wisatawan asing sebanyak dua bus datang ke BTG tanpa pemberitahuan. Kedatangan puluhan wisatawan asing secara mendadak itu sontak membuat warga di kawasan BTG tak nyaman.

"Itu ada serombongan wisatawan manca ya, katanya dari Asia itu, dua bus. karena pagi sekali kemudian juga mereka ini banyak ya jadi ramai banget dan berisik,"jelas Joko saat dihubungi detikJogja, Rabu (3/6).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Akhirnya oleh salah satu warga kemudian ditanya kenapa kok nggak ada pemberitahuan? Kemudian karena terlalu banyak yang berkunjung akhirnya kita setop, karena di belakang kan masih banyak juga yang mau masuk, daripada nanti mengganggu," sambungnya.

Sebagai informasi, Between Two Gates berlokasi di sisi selatan dari Pasar Kotagede sekitar 350 meter dari Pasar Kotagede. Kampungnya berada di area Alun-Alun KG III/770, RT 37, RW 09 yang termasuk ke dalam Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kota Jogja.

Joko menerangkan, Between Two Gates adalah halaman belakang rumah warga yang membentuk gang. Jalan-jalan atau gang itu menjadi spot menarik untuk dikunjungi. Namun ia menegaskan, Between Two Gates masih termasuk area privat.

"Sebenarnya bukan area publik, tapi ini sebenarnya ini halaman rumah. Kita sepakat di sini untuk dibuka itu memang sejak dari dulu, mungkin ya semasa kakek saya itu sudah sudah ada kesepakatan. Sudah ini jadi jalan bantuan," papar Joko.

"Kan kalau setiap rumah Jawa itu kan terdiri dari dua bagian yang sisi utara dan selatan, di tengah-tengahnya itu kan ada halaman. Dan rumahnya itu kan selalu menghadap selatan sehingga kalau dibuka itu memang jadi desa jadi kayak gang kecil gitu kan seperti itu," imbuhnya.

Namun, kata Joko, setelah berkembangnya informasi dan media sosial, banyak orang datang untuk berfoto hingga membuat konten yang membuat between two gates viral dan digandrungi warganet.

Joko mengatakan, kejadian hari Minggu kemarin adalah puncak akumulasi kemarahan warga. Bukan kepada wisatawan yang menggunakan jasa tour guide atau agen wisata, namun wisatawan mandiri yang datang tanpa informasi yang jelas.

Pengunjung mandiri hanya datang dengan berbekal informasi dari media sosial. Saat datang ke Between Two Gates, mereka tidak menerapkan perilaku yang seharusnya dijaga.

"Itu sebenarnya kan jadi pemicu puncaknya di hari Minggu, tapi sebelum ada kejadian itu memang ada keluhan warga juga tentang para pengunjung yang memang attitude-nya kurang. Nah, itu rata-rata mereka itu yang datang bermodalkan media sosial. Jadi bukan bukan wisatawan dalam perjalanan yang betul-betul wisatawan," ujarnya.

Di Between Two Gates, kata Joko, sebenarnya sudah ada papan informasi atau imbauan untuk tetap menjaga attitude. Namun menurutnya, wisatawan mandiri ini tak mengindahkan aturan itu.

Berbeda dengan wisatawan yang datang dengan jasa tour guide yang selalu menghubungi saat akan berkunjung. Tour guide otomatis akan memberi arahan ke wisatawan untuk menjaga attitude.

"Kami itu juga sudah berusaha untuk mengantisipasinya, misalnya kita bikin aturan, bikin papan-papan informasi di sepanjang pintu itu, tata aturan himbauan pada pengunjung untuk berlaku sopan. Kita beritahu bahwa ini itu bukan area publik, private dan sebagainya. Tapi rata-rata mereka itu literasinya nuwun sewu memang rendah," terangnya.

Joko menerangkan, Between Two Gates sudah dibuka kembali kemarin. Namun menurutnya warga masih akan mengadakan rapat besok untuk menentukan langkah agar kejadian serupa tidak terulang.

"Kita baru cari formula, besok itu kita akan mau ada pertemuan, sebaiknya gimana dan solusinya gimana, misalnya di pintu utama itu kasih apa atau bagaimana," ungkap Joko.

"Nah, itu yang baru kita akan ini, karena kita memang harus sepakat dulu ini. Di satu deret ini kan ada sembilan rumah, sembilan keluarga yang kita harus sepakat dulu bahwa nanti seperti apa," pungkasnya.




(afn/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads