Tata Cara dan Niat Puasa Ramadan dari Sahur sampai Berbuka Lengkap Hikmahnya

Tata Cara dan Niat Puasa Ramadan dari Sahur sampai Berbuka Lengkap Hikmahnya

Angely Rahma - detikJogja
Selasa, 17 Feb 2026 15:22 WIB
Ilustrasi Puasa
Ilustrasi puasa. (Foto: Shutterstock)
Jogja -

Bulan Ramadan menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, salah satunya melalui puasa. Ibadah ini tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga pemahaman yang tepat agar puasa dijalankan sesuai tuntunan syariat.

Seluruh rangkaian puasa Ramadan memiliki aturan dan hikmah tersendiri. Mulai dari membaca niat, makan sahur, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, hingga berbuka di waktu yang dianjurkan. Oleh karena itu, pemahaman yang benar akan membantu umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan lebih tenang dan bermakna.

Bagi detikers yang ingin mengetahui tata cara dan niat puasa Ramadan dari sahur hingga berbuka secara runtut, lengkap dengan penjelasan dan hikmahnya, berikut ulasan selengkapnya yang bisa dijadikan panduan selama bulan suci Ramadan. Yuk, simak sampai akhir!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tata Cara Puasa Ramadan dari Sahur Hingga Berbuka

Bagi detikers yang ingin menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan tertib dan sesuai tuntunan, penting untuk memahami urutan puasa sejak sahur hingga waktu berbuka. Berikut panduan tata cara puasa Ramadan yang bisa dijadikan pegangan selama menjalankan ibadah di bulan suci.

ADVERTISEMENT

1. Membaca Niat Puasa Ramadan

Puasa Ramadan tidak sekedar menahan lapar dan haus, tetapi diawali dengan niat sebagai penentu sah atau tidaknya ibadah. Tanpa niat, puasa tidak dianggap sah, meskipun seseorang telah menahan diri seharian penuh. Hal ini dijelaskan dalam buku 125 Masalah Puasa karya Muhammad Anis Sumaji dan Muhammad Najmuddin Zuhdi, yang menegaskan bahwa niat merupakan syarat utama dalam ibadah puasa.

Dalam praktiknya, niat puasa Ramadan dilakukan sebelum terbit fajar. Ketentuan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Hafshah, Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak (terhitung) puasanya." (HR. Abu Daud)

Di Indonesia, praktik berniat puasa Ramadan sering kali dilakukan setelah sholat Tarawih berjamaah di masjid. Alasannya adalah sebagai bentuk kehati-hatian agar niat puasa sudah tertanam sejak malam hari dan tidak terlupa keesokan harinya saat sahur.

Terkait apakah niat puasa harus dilakukan setiap hari, para ulama memiliki pandangan yang berbeda. Imam Syafi'i bersepakat bahwa niat puasa Ramadan berlaku untuk satu hari saja dan tidak berkaitan dengan hari lainnya.

Namun, terdapat pula pendapat yang membolehkan, termasuk Imam Maliki, jika niat puasa Ramadan dilakukan sekali di awal bulan. Pendapat ini merujuk pada hadis dari Umar bin Khaththab, Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya sahnya amal itu bergantung pada niatnya,dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menjadi dasar bahwa niat merupakan fondasi ibadah, sehingga selama niat puasa Ramadan telah ditetapkan sejak awal bulan, puasa tetap sah. Sebagai bentuk kehati-hatian, umat Islam dianjurkan mengikuti Mazhab Syafi'i dengan berniat setiap malam. Namun, tidak ada larangan untuk mengadopsi pendapat mazhab lain, misalnya Mazhab Maliki dengan berniat puasa sebulan penuh di awal Ramadan, sebagai antisipasi jika suatu hari lupa berniat.

Berikut bacaan niat puasa Ramadan yang lazim dibaca setiap malam:

Niat Puasa Ramadan Versi Pertama

Ω†ΩŽΩˆΩŽΩŠΩ’Ψͺُ Ψ΅ΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ غَدٍ ΨΉΩŽΩ†Ω’ أَدَاِؑ ΩΩŽΨ±Ω’ΨΆΩ Ψ΄ΩŽΩ‡Ω’Ψ±Ω Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ω‡ΩŽΨ°ΩΩ‡Ω Ψ§Ω„Ψ³Ω‘ΩŽΩ†ΩŽΨ©Ω لِلّٰهِ ΨͺΩŽΨΉΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ‰

Arab Latin:
Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta'ala.

Artinya:
"Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta'ala."

Niat Puasa Ramadan Versi Kedua

Selain itu, terdapat pula bacaan niat puasa sebulan penuh yang merujuk pada pendapat Mazhab Maliki:

Ω†ΩŽΩˆΩŽΩŠΩ’Ψͺُ Ψ΅ΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ Ψ¬ΩŽΩ…ΩΩŠΩ’ΨΉΩ Ψ΄ΩŽΩ‡Ω’Ψ±Ω Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†Ω هٰذِهِ Ψ§Ω„Ψ³Ω‘ΩŽΩ†ΩŽΨ©Ω ΩΩŽΨ±Ω’ΨΆΩ‹Ψ§ لِلّٰهِ ΨͺΩŽΨΉΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ‰

Arab Latin:
Nawaitu shauma jami'i syahri Ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta'ala.

Artinya:
"Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadan tahun ini, wajib karena Allah Ta'ala."

Lalu, bagaimana jika seseorang lupa membaca niat puasa Ramadan? Pada dasarnya, niat tidak harus diucapkan dengan lisan karena niat cukup ditetapkan di dalam hati.

Seseorang yang sudah memiliki keinginan kuat untuk berpuasa, kemudian melakukan sahur dan dengan sungguh-sungguh menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa, pada dasarnya telah menunjukkan adanya niat.

Dengan demikian, selama seseorang memang berniat berpuasa sejak malam dan menjalankannya hingga waktu berbuka, maka puasanya tetap sah meskipun tidak melafalkan niat secara lisan.

2. Melaksanakan Sahur

Setelah membaca niat, tahapan berikutnya dalam menjalankan puasa Ramadan adalah makan sahur. Sahur merupakan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Selain membantu menyiapkan fisik agar kuat menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, sahur juga mengandung banyak keberkahan, baik dari sisi dunia maupun akhirat.

Mengutip buku Tuntunan Ramadhan: Antara Ritual Tahunan & Penyucian Jiwa karya Maulana La Eda serta Sunnah Ketika Puasa Ramadhan karya Ibn Ramzi, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan waktu sahur hingga mendekati terbit fajar.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Zaid bin Tsabit RA berkata:

"Kami makan sahur bersama Rasulullah SAW, lalu beliau berdiri melaksanakan sholat Subuh. Aku bertanya, berapa jeda antara sahur dan adzan? Zaid menjawab, sekitar waktu membaca 50 ayat." (HR. Bukhari: 575; Muslim: 1097).

Hadits ini menunjukkan bahwa sahur sebaiknya tidak dilakukan terlalu awal agar keberkahannya tetap terjaga. Terkait makanan sahur, Rasulullah SAW menganjurkan untuk tidak meninggalkannya meskipun hanya dengan makanan sederhana. Dalam hadits disebutkan,

"Sebaik-baik sahur orang mukmin adalah dengan buah kurma. Bersahurlah walaupun hanya dengan segelas air." (Sunan Abu Daud: 2345; Sahih Ibn Hibban: 3476).

Selain bernilai sunnah, sahur dengan kurma juga menjadi pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa ahli kitab. Waktu sahur juga dianjurkan untuk diisi dengan ibadah tambahan. Salah satunya adalah melaksanakan sholat malam atau tahajud, baik sebelum maupun setelah sahur. Nabi SAW bersabda,

"Sebaik-baik sholat setelah sholat fardhu adalah sholat malam." (Sahih Muslim: 1982).

Sholat tahajud dapat dilakukan minimal dua rakaat dan menjadi amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Ramadan. Setelah sahur, umat Islam dianjurkan untuk menunaikan sholat Subuh secara berjamaah. Rasulullah SAW bersabda,

"Barangsiapa melaksanakan sholat Subuh secara berjamaah, maka seolah-olah ia telah melaksanakan sholat sepanjang malam." (Sahih Muslim: 656).

Keutamaan ini menjadi penutup rangkaian sahur sebelum memasuki waktu puasa hingga berbuka.

3. Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Selama Puasa

Mengacu pada buku Tuntunan Ramadhan: Antara Ritual Tahunan & Penyucian Jiwa karya Maulana La Eda, Lc, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan selama menjalankan puasa Ramadan.

Hal yang Membatalkan Puasa

  • Makan dan minum dengan sengaja, atau hal lain yang dihukumi sama dengan makan dan minum, sejak terbit fajar hingga waktu berbuka.
  • Berhubungan badan (jimak) di siang hari Ramadan, baik sampai keluar mani maupun tidak. Jika dilakukan, maka:
    • Puasa batal
    • Wajib bertaubat
    • Wajib mengqadha puasa
    • Wajib membayar kaffarah, yaitu memerdekakan budak. Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika masih tidak mampu, memberi makan 60 orang miskin.
  • Keluar darah haid atau nifas, sehingga perempuan yang mengalaminya tidak sah berpuasa dan wajib mengganti di hari lain.
    Berniat membatalkan puasa sebelum waktu berbuka, meskipun belum makan atau minum. Hal ini karena niat merupakan salah satu rukun puasa.

Hal yang Dibolehkan Saat Berpuasa

Meski sering disangka membatalkan puasa, beberapa hal berikut sebenarnya dibolehkan:

  • Memakai celak, obat tetes mata atau telinga, serta menghirup uap atau obat flu.
  • Mencium atau bercumbu selama tidak menimbulkan syahwat.
  • Mengecap makanan jika diperlukan, misalnya untuk memastikan rasa.
  • Menghirup wewangian.
  • Menggunakan obat yang dimasukkan melalui dubur atau qubul.
  • Keluar mani secara tidak sengaja, seperti karena mimpi.
  • Donor darah, bekam, atau tes darah selama tidak dikhawatirkan melemahkan tubuh.
  • Bersiwak atau menggosok gigi menggunakan odol, asalkan tidak berlebihan.
  • Mandi atau berendam air untuk menyegarkan tubuh dan mengurangi rasa panas.

4. Berbuka Puasa

Agar ibadah puasa semakin sempurna, umat Islam dianjurkan mengikuti tata cara berbuka puasa sesuai sunnah serta memperhatikan waktu berbuka yang tepat. Mengutip informasi dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), berikut panduan berbuka puasa yang dianjurkan:

A. Menyegerakan Berbuka

Puasa dianjurkan untuk segera dihentikan begitu waktu Maghrib tiba. Menyegerakan berbuka merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW dan diyakini membawa keberkahan dalam ibadah puasa.

B. Membaca Doa Berbuka Puasa

Sebelum menikmati hidangan, dianjurkan membaca doa berbuka puasa berikut:

Ψ§Ω„Ω„Ω‡Ω… Ω„Ωƒ ءُمΨͺُ ΩˆΩŽΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ±ΩΨ²Ω’Ω‚ΩΩƒΩŽ Ψ£ΩŽΩΨ·ΩŽΨ±Ω’Ψͺُ

Latin: Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa 'ala rizqika afthartu.

Artinya: "Ya Allah, aku berpuasa karena-Mu, beriman kepada-Mu, dan berbuka dengan rezeki-Mu."

C. Berbuka dengan Kurma atau Air Putih

Rasulullah SAW membiasakan berbuka dengan kurma, baik ruthab maupun tamar. Jika tidak tersedia, maka berbuka dengan air putih juga dianjurkan.

D. Menunaikan Sholat Maghrib Tepat Waktu

Setelah berbuka secukupnya, umat Islam dianjurkan segera melaksanakan sholat Maghrib agar ibadah tetap terjaga dan tidak tertunda.

E. Makan Malam Setelah Sholat Maghrib

Makan besar sebaiknya dilakukan setelah sholat Maghrib. Cara ini membantu menjaga kekhusyukan ibadah dan membuat waktu berbuka lebih tertib.

Hikmah Melaksanakan Sahur Saat Bulan Ramadan

Makan sahur merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW. Selain membantu menyiapkan tubuh untuk berpuasa, sahur juga menyimpan berbagai hikmah dan keberkahan bagi orang yang menjalankannya. Mengacu pada buku Catatan Ramadhan: Kumpulan Esai karya Kholid A. Harras, berikut beberapa hikmah dan keutamaan makan sahur:

1. Mendapat Doa dan Sholawat dari Allah SWT serta Para Malaikat

Orang yang bersahur dengan niat menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW akan mendapatkan doa dan sholawat dari Allah SWT serta para malaikat-Nya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa'id Al Khudri, Rasulullah SAW bersabda:

"Makan sahur adalah aktivitas bersantap yang penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau hanya meminum seteguk air saja, karena Allah dan para malaikat akan menyampaikan sholawat kepada mereka yang makan sahur."
(HR. Ahmad 3:44)

Melalui sahur, seorang muslim tidak hanya mendapatkan kekuatan fisik, tetapi juga limpahan rahmat serta doa kebaikan dari Allah SWT dan para malaikat.

2. Membantu Menahan Lapar dan Menambah Energi

Secara fisik, makan sahur berfungsi membantu tubuh menahan rasa lapar dan haus selama berpuasa, sekaligus menambah energi untuk menjalani aktivitas harian. Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan:

"Barokah makan sahur amat jelas, yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa."
(Syarh Shahih Muslim, 7:206)

Karena itu, sahur menjadi penopang penting agar puasa dapat dijalani dengan lebih ringan dan optimal.

3. Menjadi Waktu Kebersamaan Keluarga

Berbeda dengan waktu berbuka yang terkadang sulit dilakukan bersama seluruh anggota keluarga karena aktivitas masing-masing, sahur justru sering menjadi momen berkumpul keluarga inti. Kebersamaan saat sahur dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga dan menciptakan suasana hangat yang jarang ditemui di luar bulan Ramadan.

4. Membiasakan Bangun di Sepertiga Malam

Sahur mendorong seseorang untuk bangun di sepertiga malam, waktu yang utama untuk melaksanakan sholat malam serta memperbanyak doa dan istighfar. Selain itu, kebiasaan bangun sahur juga memudahkan untuk melaksanakan sholat Subuh berjamaah.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Ibnu Abbas RA menceritakan:

"Kami bersahur bersama Rasulullah SAW, kemudian beliau pergi untuk shalat. Lalu aku bertanya, 'Berapa lama antara sahur dan adzan?' Nabi menjawab, 'Sekitar bacaan 50 ayat.'"

Hadits ini menunjukkan bahwa waktu antara sahur dan Subuh dapat dimanfaatkan untuk membaca Al-Quran dan beribadah.

5. Pembeda Puasa Umat Islam dengan Umat Lain

Sahur juga menjadi ciri khas yang membedakan puasa umat Islam dengan puasa umat lain. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari 'Amr bin Al 'Ash:

"Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah makan sahur."
(HR. Muslim no. 1096)

Melalui sahur, umat Islam tidak hanya menjaga sunnah Rasulullah SAW, tetapi juga menegaskan keistimewaan ibadah puasa Ramadan.

Hikmah Berbuka Puasa di Bulan Ramadan

Memperhatikan waktu berbuka puasa sesuai sunnah tidak hanya berdampak bagi kondisi fisik, tetapi juga membawa manfaat besar dari sisi spiritual. Mengacu pada penjelasan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), berikut beberapa hikmah berbuka puasa yang dapat dirasakan oleh umat Islam:

1. Melatih Disiplin dalam Beribadah

Menunggu waktu berbuka sesuai ketentuan syariat melatih kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan Allah SWT. Hal ini membantu menjaga konsistensi dalam menjalankan ibadah puasa dengan benar.

2. Meningkatkan Rasa Syukur

Momen berbuka menjadi waktu yang tepat untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Setelah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, makanan dan minuman yang sederhana pun terasa lebih bermakna.

3. Menguatkan Kesadaran Spiritual

Berbuka tepat waktu sesuai sunnah mengingatkan bahwa puasa bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga sarana untuk terus mengingat Allah dalam setiap aktivitas.

4. Menanamkan Kesabaran

Menahan diri hingga waktu berbuka melatih kesabaran dan pengendalian diri. Nilai ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan keteguhan iman.

5. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Berbuka dengan doa dan kesadaran penuh membuka kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku."
(QS. Al-Baqarah: 186)

Dengan memahami hikmah berbuka puasa, ibadah Ramadan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga sarana memperkuat keimanan dan ketakwaan.

Demikian penjelasan mengenai tata cara dan niat puasa Ramadan dari sahur hingga berbuka. Dengan memahami dan mengamalkannya, diharapkan ibadah puasa yang detikers jalani sah secara syariat dan memberi dampak positif bagi keimanan dan kehidupan sehari-hari.

Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(sto/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads