Rais Aam PBU KH Miftachul Akhyar mengambil alih kepemimpinan PBNU usai KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) tidak lagi menjabat sebagai Ketum PBNU. Selanjutnya akan diadakan muktamar untuk menentukan Ketum PBNU.
Dilansir detikJatim, Sabtu (29/11/2025) Kiai Miftah mengatakan, roda organisasi kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya sembari mempersiapkan digelarnya rapat pleno atau muktamar untuk menentukan ketua umum definitif.
Sebelumnya, Kiai Miftah menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah pengurus PBNU di Kantor PWNU Jatim, Sabtu (29/11). Dari hasil pertemuan itu, Kiai Miftah memastikan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) tidak lagi menjabat sebagai Ketum PBNU.
Untuk sementara, Kia Miftah menegaskan dirinya yang akan menjadi Ketua Umum PBNU untuk sementara.
"Dan sejak saat itu (Gus Yahya sudah tidak menjadi Ketum PBNU), kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sepenuhnya berada di tangan Rais Aam," ungkap Kiai Miftah di Surabaya, Sabtu (29/11/2025) sore.
Lebih lanjut Kiai Miftah mengatakan dalam waktu dekat akan digelar muktamar untuk menentukan Ketum PBNU di masa periode yang akan datang.
"Bahwa untuk memastikan berjalannya roda organisasi secara normal, maka akan dilaksanakan Rapat Pleno atau Muktamar dalam waktu segera," tandasnya.
Seperti diketahui, dalam beberapa pekan terakhir, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diguncang konflik internal setelah muncul desakan agar Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya mundur dari posisi Ketua Umum. Gus Yahya pun menolak dan menegaskan mandatnya berlaku lima tahun sesuai hasil muktamar. Ia menilai upaya pemberhentian melalui rapat internal Syuriyah bersifat inkonstitusional.
Namun, pada 26 November 2025 PBNU resmi menerbitkan surat edaran yang menyatakan bahwa Gus Yahya tidak lagi berstatus Ketua Umum PBNU dan telah kehilangan semua hak, wewenang, serta atribut jabatan. Status ini berlaku sejak pukul 00.45 WIB.
Simak Video "Video: Kecelakaan Karambol di Tol Gayamsari Semarang, 8 Orang Terluka"
(apl/apl)