Kejar Target Legok Nangka di Tengah Krisis TPA Sarimukti

Bima Bagaskara - detikJabar
Jumat, 09 Okt 2026 17:30 WIB
Penampakan kondisi TPPAS Legok Nangka, Kecamatan Nagreg (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Bandung -

Ancaman kehabisan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, semakin nyata. Lima area perluasan yang semula diharapkan menjadi penyangga penampungan sampah Bandung Raya kini berpotensi penuh lebih cepat, bahkan pada Oktober 2026.

Kondisi ini membuat percepatan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka menjadi semakin penting. Fasilitas yang berlokasi di Kabupaten Bandung itu dirancang mengolah hingga 2.131 ton sampah per hari dari enam kabupaten/kota, sekaligus mengubah sampah menjadi energi listrik.

Dengan investasi sekitar Rp7,4 triliun, Legok Nangka diproyeksikan menjadi bagian dari solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Bandung Raya terhadap sistem pembuangan sampah ke TPA. Namun, fasilitas tersebut masih dalam tahap pembangunan dan ditargetkan baru mulai beroperasi pada 2029 atau 2030.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan pembangunan PSEL Legok Nangka berlanjut setelah peletakan batu pertama atau groundbreaking dilakukan pada 29 Juli 2026 lalu. Pemprov Jabar kata Dedi terus berupaya mempercepat kelanjutan pembangunan Legok Nangka.

"Betul, kita rapat membahas persiapan lanjutan pembangunan Legok Nangka," kata Dedi, Jumat (9/10/2026).

PSEL Legok Nangka dirancang menampung sampah dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang. Sampah dari enam daerah tersebut akan diproses menggunakan teknologi waste-to-energy untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas yang ditargetkan mencapai 40,79 megawatt (MW).

"Nanti masyarakat Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Garut, Sumedang, sampahnya diproduksi menjadi listrik di Legok Nangka," ujar Dedi.

Besarnya kapasitas pengolahan membuat Legok Nangka diproyeksikan menjadi fasilitas penting dalam sistem pengelolaan sampah regional Jawa Barat. Namun, target operasional 2029-2030 menunjukkan proyek ini belum bisa menjadi jawaban langsung terhadap ancaman keterbatasan kapasitas Sarimukti pada Oktober 2026.

Pemerintah daerah masih membutuhkan langkah penanganan jangka pendek untuk memastikan sampah dari Bandung Raya tetap terkelola selama masa transisi tersebut. Tanpa pengurangan timbulan sampah dan penguatan pengelolaan di daerah, tekanan terhadap fasilitas pembuangan yang tersedia berpotensi terus meningkat.

Di sisi lain, Legok Nangka diharapkan mengubah pendekatan pengelolaan sampah. Sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi juga sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi.

Proyek ini dikembangkan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan Pemprov Jawa Barat bertindak sebagai penanggung jawab. Nilai investasinya sekitar Rp7,4 triliun, dengan pendanaan yang mencakup sekitar Rp5 triliun dari investor, Rp2 triliun hibah Pemerintah Pusat, dan Rp350 miliar hibah Pemerintah Belanda.

Konsorsium PT Jabar Environmental Solutions (JES), yang melibatkan EPN, Kanadevia, Kyuden, dan Sumitomo Corporation, terlibat dalam proyek tersebut.

Pembangunan Legok Nangka diperkirakan membutuhkan waktu konstruksi sekitar 41 bulan. Fasilitas ini ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) pada kuartal IV 2029 atau kuartal I 2030. Dedi Mulyadi menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk merealisasikan proyek tersebut.

"Ini kita sudah bertemu dengan salah satu investor yang membangun pembangkit listrik tenaga sampah di Legok Nangka. Kita sudah berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan," ungkap Dedi.



Simak Video "Video: 'Revolusi Pengelolaan Sampah' ala Walkot Solo Respati Ardi"

(bba/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork