×
Ad

Brain Rot-Popcorn Brain, Ini Bahaya Penggunaan AI Berlebih Menurut Dosen UI

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 18 Sep 2026 20:30 WIB
Ilustrasi popcorn brain. (Foto: Getty Images/vm)
Jakarta -

Artificial Intelligence (AI) sudah meresap dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari membantu belajar, mengerjakan tugas, hingga pekerjaan profesional.

Namun, penggunaan AI berlebih justru berdampak negatif pada kemandirian kognitif, kemampuan memahami konteks, serta penguasaan kompetensi individu. Menurut dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, Dr. Erwin Agustian Panigoro, M M, mengatakan salah satu bentuk penggunaan AI berlebih adalah brain rot.

Brain rot diartikan sebagai kondisi di mana seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital sehingga memengaruhi kemampuan untuk berpikir dan beraktivitas secara mandiri. Selain itu, ada juga kondisi bernama cognitive offloading yang menggambarkan ketergantungan individu pada teknologi dalam menyimpan, mengolah, dan mengingat informasi.

"Jangan buru-buru mengklaim bahwa saya mengalami ini atau itu. Kita perlu memahami konteksnya terlebih dahulu. Salah satu karakteristik manusia adalah mudah mengingat informasi yang diterimanya melalui media. Karena itu, fenomenanya perlu dipahami secara kritis sebelum seseorang memberikan label kepada dirinya sendiri," tuturnya dalam laman FISIP UI dikutip Jumat (18/9/2026).

Tantangan lain adalah fenomena popcorn brain, yaitu kebiasaan berpindah secara cepat dari satu platform ke platform lain tanpa memahami informasi secara utuh. Kebiasaan berpindah dari TikTok, Instagram, WhatsApp, X, dan berbagai aplikasi secara terus-menerus dapat membuat perhatian pengguna terpecah-pecah.

Attention Economy

Di era ketergantungan digital, Erwin menilai perhatian pengguna menjadi sumber daya yang bernilai. Kondisi ini disebut sebagai attention economy.

Waktu, perhatian, pengetahuan, dan keterampilan pengguna menjadi bagian dari ekosistem yang diperebutkan berbagai platform digital.

Penggunaan AI Tidak Perlu Dihindari

Pada pendidikan tinggi, kehadiran AI juga mengubah cara mahasiswa belajar dan menghasilkan karya. Tidak berarti penggunaan AI harus dihindari, tetapi perlu diarahkan sebagai alat bantu yang mendukung proses berpikir.

Erwin mencontohkan prompt AI yang bisa dirancang untuk membantu merumuskan pertanyaan, mengembangkan gagasan, serta mengevaluasi informasi yang dihasilkan. Dalam konteks ini, dosen tetap berperan penting untuk mengajak mahasiswa berdiskusi dan memperdalam substansi.

Oleh karena itu, mahasiswa didorong menjadi intentional user yang memiliki tujuan jelas saat menggunakan teknologi. Setiap aplikasi perlu digunakan berdasarkan kebutuhan, bukan karena tersedia atau sedang populer.

"Ketika kita memutuskan menggunakan sebuah aplikasi, harus ada tujuannya. Kita harus tahu apa yang ingin kita lakukan dan mengapa menggunakan aplikasi tersebut," jelas Erwin.



Simak Video "Pesan Jenderal Hoegeng Iman Santoso, yang Dihadirkan Melalui Teknologi A.I"

(nir/pal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork