Pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak saat bertugas meliput erupsi Gunung Anak Kraktau di Selat Sunda resmi dihentukan oleh oleh Search and Rescue (SAR). Pencarian dihentikan karena pada hari ke-10 korban masih belum ditemukan.
Atas kejadian tersebut, tim Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, melakukan pemodelan terkait kemungkinan pergerakan delapan orang hilang tersebut.
BRIN menggunakan pemodelan menggunakan ribuan partikel hipotetik. Dari sana dihasilkan peta probabilitas yang menggambarkan kemungkinan penyebaran dinamika arus, angin, dan gelombang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kajian tersebut dipimpin peneliti PRIMA BRIN Widodo Setiyo Pranowo. Ia mengatakan pemodelan dilakukan untuk memberikan informasi ilmiah tambahan dalam memahami skenario lintasan hanyut rombongan.
"Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40% dari total arus permukaan yang ada di lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran," kata Widodo dalam laman BRIN, dikutip Sabtu (19/9/2026).
Arus dan Gelombang Pengaruhi Pergerakan
Widodo mengatakan dinamika arus dan gelombang menjadi faktor penting dalam memperkirakan arah serta kecepatan hanyut. Dalam simulasi, tim BRIN menggunakan ribuan partikel hipotetik yang merepresentasikan orang dengan berat badan tertentu dan menggunakan pelampung.
Pergerakan partikel tersebut dihitung secara berkala dengan mempertimbangkan arus dan angin. Lalu, tim memperhitungkan penyimpangan arah akibat bagian tubuh yang berada di atas permukaan air (leeway).
Skenario yang digunakan antara lain berat badan 60-70 kilogram. Dari simulasi tersebut, tim kemudian melihat pola sebaran serta probabilitas pergerakan korban.
"Hasil pemodelan menunjukkan pentingnya ketepatan informasi lokasi awal, aua versi koordinat lokasi hilang kontak yang berbeda sekitar 30 kilometer menghasilkan lintasan yang sangat berbeda," kata Widodo.
Susun 8 Skenario Kemungkinan Pergerakan
Widodo mengatakan ketepatan informasi mengenai lokasi awal menjadi salah satu faktor penting dalam pemodelan. Dengan begitu, tim menyusun delapan skenario.
"Dalam satu skenario, partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung, sedangkan skenario lainnya masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat laut," jelasnya.
Hasil dari seluruh simulasi kemudian digabungkan menggunakan pendekatan ensembel untuk menghasilkan peta probabilitas. Widodo menyebut pemodelan perlu didukung data lapangan yang lengkap.
"Semua parameter atau kejadian di laut secara fisik memang harus dikumpulkan semua, mulai dari kondisi gelombang, kondisi arus, kemudian kondisi yang ada di angkasa termasuk angin dan citra satelit. Itu harus dikumpulkan untuk dianalisis dan dihubungkan dengan kondisi stabilitas kapal, kelaikan, dan muatannya," ungkapnya.
Area Kemungkinan Hanyut Makin Luas
Dari hasil pemodelan, area yang mencakup 95% kemungkinan posisi korban disebut bisa semakin luas seiring bertambahnya waktu. Dari luas 2.700 km persegi pada hari ke-6 bisa menjadi lebih luas dari 10.500 km persegi pada hari ke-14.
Widodo menegaskan hasil pemodelan tersebut bukan berarti menunjukkan lokasi pasti keberadaan korban. Model hanya memberikan gambaran kemungkinan pergerakan berdasarkan parameter kelautan.
Tim OCRG BRIN juga menyebut hasil simulasi masih memiliki keterbatasan. Salah satunya penggunaan data angin yang diperkirakan dari tinggi gelombang serta asumsi bahwa korban tetap mengapung dengan bantuan pelampung.
Namun, hasil kajian ini bisa menambah data dan informasi untuk kesiagaan jika kasus serupa terjadi kembali. Kajian ini juga bisa dipakai untuk mitigasi pertolongan pada kasus hanyut di perairan lainnya.
"Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak satelit, model hidrodinamika beresolusi tinggi. Kemudian, pencatatan koordinat kejadian secara seragam dan terverifikasi menjadi langkah yang dapat dikembangkan lebih lanjut," pungkasnya.
