India Pamer Pendeteksi Kanker Berbasis AI di Depan Pemimpin Negara BRICS, Termasuk RI

ADVERTISEMENT

Laporan dari India

India Pamer Pendeteksi Kanker Berbasis AI di Depan Pemimpin Negara BRICS, Termasuk RI

Fahri Zulfikar - detikEdu
Minggu, 13 Sep 2026 14:59 WIB
India pamerkan alat pendeteksi kanker berbasis AI di depan pimpinan negara BRICS, termasuk RI
Foto: brics.gov.in
New Delhi -

India turut memamerkan 37 inovasi dalam KTT BRICS ke-18 di Bharat Mandapam, Sabtu (12/9/2026). Salah satu inovasinya adalah alat deteksi kanker berbasis AI.

Pameran bertajuk "Bharat Innovates Exposition" menampilkan 37 inovasi startup dan perusahaan dengan teknologi canggih.

"Pameran 'Bharat Innovates' menampilkan pencapaian dan potensi India dalam bidang inovasi, kewirausahaan, teknologi, dan pembangunan," ucap Sekretaris Hubungan Ekonomi (Secretary - Economic Relations) di Kementerian Luar Negeri India (MEA), Shri Sudhakar Dalela, dalam konferensi pers di Bharat Mandapam, Sabtu (12/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teknologi Berbasis AI untuk Deteksi Kanker

Di depan para pemimpin dunia, termasuk Presiden Prabowo Subianto, India pamerkan teknologi deteksi kanker serviks dan payudara berbasis AI. Selain itu, juga ada robotika kelautan, teknologi panel surya terapung, sistem komputasi kuantum, hingga sistem penggerak listrik bebas logam tanah jarang.

ADVERTISEMENT

Bharat Innovates merupakan program nasional Kementerian Pendidikan Uni India. Program ini bertujuan untuk kolaborasi jangka panjang antara ekosistem inovasi India yang mencakup startup, Institusi Pendidikan Tinggi (HEI), laboratorium, dan taman penelitian.

Kolaborasi juga ditujukan antara pemangku kepentingan global, yang meliputi perusahaan, investor, inkubator/akselerator, universitas, lembaga penelitian, pemerintah, dan alumni luar negeri.

Poin inovasi ini juga tercantum dalam "Deklarasi New Delhi" yang dihasilkan oleh KTT BRICS ke-18. Kesepakatan ini diadopsi oleh negara anggota BRICS yang meliputi Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Iran, Mesir, Etiopia, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Indonesia.

"Kami menggarisbawahi pentingnya kerja sama dalam Sains, Teknologi, dan Inovasi (STI) sebagai penggerak utama bagi pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan," tulis poin dalam deklarasi.

"Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap pembangunan berkelanjutan, mengembangkan kekuatan produktif baru yang berkualitas, mendorong pertumbuhan yang lebih tangguh dan berkualitas tinggi, inklusivitas sosial, serta mempromosikan inovasi dan teknologi sebagai katalis untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat di seluruh negara BRICS," lanjut keterangan dalam poin tersebut.

Kementerian Pendidikan India menyebut pameran inovasi teknologi di BRICS diharapkan bisa membuka peluang kerja sama lebih luas dan pasar internasional.

"Hal ini akan memfasilitasi peluang untuk keterlibatan B2B, kemitraan teknologi, diskusi investasi, hubungan bisnis, dan akses pasar internasional," kata Kementerian Pendidikan dalam sebuah keterangan.

Sebelumnya, pameran startup teknologi canggih India lebih dulu diadakan di Nice, Prancis pada 14-16 Juni 2026.

Komitmen Negara BRICS di Bidang Inovasi dan Teknologi

Pada Agustus 2026 lalu, para menteri sains atau perwakilan dari negara anggota BRICS telah bertemu di Chennai. Pertemuan tersebut menghasilkan 'Deklarasi Chennai' untuk membangun kerja sama di bidang sains, teknologi, dan inovasi (STI).

"Luasnya diskusi, mulai dari Kecerdasan Buatan dan Komputasi Kinerja Tinggi hingga teknologi kuantum, material canggih, bioteknologi, kesehatan, iklim, dan keberlanjutan, mencerminkan peluang dan tantangan bersama yang dapat diatasi oleh negara-negara BRICS melalui tindakan kolektif," ujar Menteri Sains & Teknologi serta Ilmu Bumi, Dr Jitendra Singh dalam keterangannya.

Nantinya, bidang yang akan dibangun dalam kerja sama adalah infrastruktur penelitian bersama dan proyek-proyek mega-sains. Deklarasi Chennai juga mendorong pertukaran yang lebih besar di antara para ilmuwan muda dan menyambut kelanjutan kerja sama di bawah Forum Ilmuwan Muda BRICS dan Penghargaan Inovator Muda BRICS.

Sementara Indonesia, melalui BRIN telah membuka pintu dan menawarkan pemanfaatan infrastruktur dan fasilitas riset unggulan Indonesia kepada para periset negara anggota BRICS.

"Indonesia membuka infrastruktur dan fasilitas riset unggulan BRIN untuk dimanfaatkan bersama oleh periset, perguruan tinggi, industri, serta periset dari negara-negara anggota BRICS. Kami ingin akses terhadap fasilitas riset ini semakin memperkuat mobilitas periset dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang konkret," kata Kepala BRIN Arif Satria saat menghadiri The 14th BRICS Science, Technology and Innovation (STI) Ministerial Meeting di Chennai, India, Jumat (21/8/2026), dikutip Minggu (13/9/2026).



(faz/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads