23 September Ada Ekuinox, Matahari Tepat Berada di Atas Khatulistiwa

ADVERTISEMENT

23 September Ada Ekuinox, Matahari Tepat Berada di Atas Khatulistiwa

Cicin Yulianti - detikEdu
Sabtu, 19 Sep 2026 17:00 WIB
Bumi disinari matahari dalam posisi ekuinoks atau equinox.
Fenomena equinox. Foto: Getty Images/iStockphoto/Robin_Hoood
Jakarta -

Pada 23 September 2026 mendatang akan ada fenomena menarik yakni ekuinoks atau equinox. Apakah itu fenomena langit atau semacamnya?

Dijelaskan oleh NASA, equinox terjadi dua kali dalam setahun. Pada tahun 2026 akan terjadi pada tanggal 20 Maret, tepat pukul 14:46 UTC (atau 07:46 EDT) dan pada tanggal 23 September, pukul 00:05 UTC/07.05 WIB (atau 22 September 2026, pukul 17:05 PDT).

Fenomena ini sudah bisa diprediksi dari laman dan merupakan keterampilan paling awal dalam sejarah astronomi. Apa yang akan terjadi selama fenomena equinox?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Matahari Akan Ada di Atas Khatulistiwa

Equinox menandai momen tepat ketika pusat Matahari melintasi bidang khatulistiwa Bumi. Setelah equinox bulan Maret, Matahari terus bergerak lebih jauh ke utara setiap hari hingga titik balik Matahari Juni.

ADVERTISEMENT

Setelah itu, Matahari mulai bergerak lagi ke selatan. Pada akhirnya, Matahari akan melintasi bidang khatulistiwa pada September.

Pergerakan itulah yang kemudian menyebabkan banyak orang menyebut equinox Maret sebagai equinox utara. Sedangkan equinox September sebagai equinox selatan.

Pada saat equinox ini, Kutub Utara Kutub Selatan akan diterangi oleh sinar Matahari secara bersamaan. Selain itu, setelah ekuinoks September, durasi siang mulai berkurang di belahan Bumi utara dan bertambah di belahan Bumi selatan. Di wilayah sekitar khatulistiwa, perubahan durasi siang dan malam relatif kecil.Penyebab Terjadinya Equinox

Mengutip laman BMKG, equinox disebabkan oleh kombinasi dari kemiringan sumbu Bumi dan gerakan orbit Bumi mengelilingi Matahari. Sumbu rotasi Bumi tidak tegak lurus terhadap orbitnya melainkan miring 23,5 derajat.

Kemiringan tersebut, sinar Matahari sepanjang tahun mengenai bagian Bumi dengan sudut yang berbeda. Hal ini menyebabkan perubahan musim.

Selain itu, equinox juga erat hubungannya dengan revolusi Bumi mengelilingi Matahari. Bumi mengorbit Matahari dalam waktu 365,25 hari.

Selama revolusi tersebut, ada dua titik di mana sumbu Bumi tidak miring ke arah atau menjauhi Matahari (saat equinox). Pada saat ekuinoks, pusat Matahari berada tepat di atas bidang ekuator Bumi. Bagi pengamat di wilayah khatulistiwa, Matahari akan berada tepat di atas kepala sekitar tengah hari setempat.

Apa Dampak Fenomena Equinox?

Sebelum-sebelumnya, banyak orang mengaitkan bahwa fenomena equinox menyebabkan suhu meningkat. Namun, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena ini tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu.

Terutama di wilayah Indonesia, kondisi cuaca biasanya cenderung masih lembab/basah. BMKG menegaskan ekuinoks tidak secara otomatis menyebabkan suhu Indonesia melonjak.

Dalam penjelasan sebelumnya, BMKG menyebut suhu maksimum di Indonesia umumnya berada pada kisaran 32-36°C, tetapi kondisi aktual tetap dipengaruhi faktor cuaca dan atmosfer lainnya.

Adapun dampak dari equinox ini bisa berpengaruh pada hal-hal beriut:

- Hari tanpa bayangan: Khususnya di wilayah khatulistiwa, bayangan benda hampir menghilang dalam waktu singkat.

- Durasi siang dan malam seimbang: Durasi siang dan malam akan hampir sama di seluruh duna. Di beberapa wilayah yang jauh dari khatulistiwa, durasi siang cenderung lebih lama daripada malam.

- Perubahan musim: Pada ekuinoks Maret biasa menjadi awal musim semi di belahan Bumi utara sedangkan equinox September menjadi awal musim gugur di Bumi utara.



(cyu/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads