Gelombang panas ekstrem semakin sering terjadi di berbagai wilayah dunia. Namun, perubahan yang terjadi bukan hanya soal seberapa panas suhu yang tercatat, melainkan juga kapan panas ekstrem itu muncul.
Sebuah studi baru menganalisis data iklim global selama 45 tahun dan menemukan periode terjadinya panas ekstrem telah meluas di sekitar separuh wilayah daratan dunia. Panas ekstrem kini lebih sering muncul pada bulan-bulan sebelum atau setelah periode panas yang biasanya terjadi.
Temuan ini penting karena panas ekstrem yang datang di luar musimnya dapat memberikan tekanan lebih besar bagi tubuh manusia. Masyarakat juga bisa lebih sulit mengantisipasinya karena sistem peringatan panas dan fasilitas seperti pusat pendinginan umumnya disiapkan berdasarkan kalender musim panas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di beberapa tempat, perluasan periode panas ekstrem lebih besar terjadi pada musim semi, sebelum musim panas tradisional dimulai. Di tempat lain, perluasan periode panas berlangsung jauh lebih cepat hingga musim gugur," kata Catherine Ivanovich, penulis utama studi tersebut seperti dikutip dari laman Columbia Climate School, Sabtu (19/9/2026).
Ivanovich merupakan klimatolog di NASA Goddard Institute for Space Studies (GISS) yang berafiliasi dengan Columbia Climate School. Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal AGU Advances.
Panas Ekstrem Tidak Hanya Bergeser karena Suhu Bumi Naik
Penelitian sebelumnya lebih banyak melihat perubahan musim melalui rata-rata suhu dan pergeseran waktu datangnya musim. Sebagai contoh, kondisi cuaca musim panas di wilayah lintang menengah telah bertambah sekitar enam hari per dekade sejak 1990.
Namun, sedikit penelitian yang secara khusus melihat kapan peristiwa panas ekstrem terjadi. Padahal, waktu terjadinya panas ekstrem belum tentu berubah mengikuti pergeseran rata-rata suhu musiman.
Ivanovich bersama Benjamin Cook dari GISS dan Sonali Shukla McDermid dari New York University kemudian mencoba melihat persoalan tersebut.
Para peneliti awalnya memperkirakan kenaikan suhu global akibat perubahan iklim akan membuat ambang panas berbahaya lebih mudah terlampaui secara relatif seragam sepanjang tahun.
Namun, hasil penelitian menunjukkan pola yang lebih kompleks.
Bandingkan Kondisi 1980-an dan 2015-2024
Para peneliti menghitung kejadian panas ekstrem di enam benua yang dihuni manusia. Periode 1980-1989 digunakan sebagai kondisi dasar, kemudian dibandingkan dengan data terbaru pada 2015-2024.
Panas ekstrem didefinisikan sebagai hari-hari ketika suhu berada di 5% tertinggi dari seluruh suhu harian.
Analisis dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama, menggunakan suhu yang diukur dengan termometer untuk melihat panas kering. Kedua, menggunakan wet-bulb globe temperature, yakni ukuran yang memperhitungkan suhu udara, kelembapan, dan radiasi Matahari untuk menggambarkan tekanan panas yang dirasakan tubuh manusia.
Hasilnya menunjukkan periode panas ekstrem telah meluas secara signifikan di sedikit lebih dari separuh wilayah daratan dunia jika menggunakan ukuran panas kering. Untuk panas lembap, perluasan terjadi di sedikit kurang dari separuh wilayah daratan dunia.
Namun, perluasan tersebut tidak berlangsung secara seragam. Di sejumlah wilayah, panas ekstrem semakin sering muncul pada musim semi. Di wilayah lain, justru meluas hingga musim gugur.
Polanya Berbeda di Setiap Wilayah
Di Amerika Serikat bagian barat, China bagian timur, Afrika utara, dan Eropa timur, kejadian panas ekstrem semakin banyak terjadi dalam dua bulan setelah periode panas yang biasanya terjadi.
Sebaliknya, di Eropa barat, Afrika selatan, dan India bagian barat laut, panas ekstrem lebih banyak muncul dalam dua bulan sebelum periode panas biasanya dimulai.
Phoenix di Arizona, Amerika Serikat, menjadi salah satu contoh yang dianalisis peneliti. Dekade 1980-an, Phoenix mengalami 183 hari panas ekstrem berdasarkan suhu. Angka tersebut meningkat menjadi 338 hari pada periode 2015-2024.
Pada periode dasar 1980-an, tidak ada kejadian panas ekstrem yang tercatat setelah musim panas ekstrem berakhir. Sementara pada 2015-2024, sekitar 6% kejadian panas ekstrem terjadi setelah periode tersebut.
Tanggal median kejadian panas ekstrem kering di Phoenix juga bergeser 10 hari lebih lambat dalam kalender. Sementara itu, panas ekstrem lembap bergeser 5,5 hari lebih awal.
Pada 2024, Phoenix mengalami 113 hari berturut-turut dengan suhu di atas 100°F atau sekitar 37,8°C. Setelah itu, kota tersebut mencatat atau menyamai rekor suhu harian selama 21 hari berturut-turut dari akhir September hingga pertengahan Oktober.
Tidak Semata-mata Akibat Pemanasan Global
Untuk memastikan pola yang ditemukan bukan hasil dari satu sumber data saja, peneliti mengulangi analisis menggunakan dua dataset berbeda. Salah satunya berasal dari NASA, sementara yang lain berasal dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF).
Hasilnya secara umum menunjukkan pola yang sama. Namun, para peneliti menekankan bahwa temuan tersebut masih merupakan bukti awal.
"Terdapat ketidakseimbangan yang sangat jelas dalam bagaimana musim panas ekstrem meluas di berbagai bagian dunia," kata Ivanovich. "Panas ekstrem mulai menjadi sesuatu yang berbeda di banyak wilayah ini."
Panas ekstrem secara alami merupakan kejadian yang jarang. Ketika kejadian tersebut muncul di luar musim biasanya, jumlah datanya menjadi semakin sedikit sehingga perubahan secara statistik lebih sulit dipastikan.
Karena itu, penelitian selanjutnya akan menggunakan simulasi iklim. Model iklim memungkinkan peneliti membuat lebih banyak skenario untuk melihat apakah pola yang ditemukan dalam pengamatan juga muncul dalam simulasi.
Ketika peneliti menguji apakah pemanasan biasa saja dapat menjelaskan perubahan tersebut, kenaikan suhu mampu menjelaskan perubahan yang terjadi di tengah periode panas, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa perluasan di batas musim terjadi secara tidak seimbang.
"Kita tidak dapat memastikan berapa bagian dari sinyal tersebut yang disebabkan oleh perubahan iklim hanya dengan menggunakan data pengamatan," kata Ivanovich. Namun, menurutnya, perubahan iklim akibat aktivitas manusia "tentu merupakan komponen utama dari cerita ini."
Panas Kering dan Lembap Sama-sama Perlu Diwaspadai
Perubahan waktu terjadinya panas ekstrem juga membawa konsekuensi berbeda.
Panas kering dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap tanaman dan ekosistem. Sementara panas lembap lebih berbahaya bagi manusia karena kelembapan tinggi menghambat kemampuan tubuh mendinginkan diri melalui keringat.
Artinya, strategi menghadapi panas kering tidak selalu sama dengan strategi menghadapi panas lembap.
Selain itu, perubahan waktu panas ekstrem dapat membuatnya bertepatan dengan bahaya musiman lainnya. Di Amerika Serikat bagian barat, misalnya, panas ekstrem dapat beririsan dengan puncak musim kebakaran hutan. Di wilayah tenggara AS, panas ekstrem dapat muncul bersamaan dengan musim badai.
Ketika beberapa bahaya terjadi secara bersamaan atau berurutan dalam waktu singkat, dampaknya dapat menjadi lebih besar dibandingkan jika masing-masing bencana terjadi secara terpisah.
Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik] (pal/pal)
