Kampus Top AS Perketat Syarat Ambil Matematika Lanjut, Ada Apa?

ADVERTISEMENT

Kampus Top AS Perketat Syarat Ambil Matematika Lanjut, Ada Apa?

Kalila Untsa - detikEdu
Sabtu, 19 Sep 2026 20:01 WIB
Newtons Equations. Rear view, close-up on young man standing back against green chalkboard. He explains, solves physics tasks, retro style. Processing for retro bleached look, slight vignette added.
Ilustrasi matematika Foto: Getty Images/iStock
Jakarta -

University of Pennsylvania (Penn) mulai memperketat penerapan prasyarat untuk sejumlah mata kuliah matematika tingkat lanjut. Kebijakan ini diterapkan mulai semester ini dengan tujuan memastikan mahasiswa memiliki kemampuan dasar yang sesuai sebelum mengikuti mata kuliah dengan materi yang lebih kompleks.

Sebenarnya, prasyarat untuk mata kuliah tersebut bukan aturan baru. Persyaratan itu selama ini sudah tercantum dalam katalog akademik kampus nomor 14 dunia versi Times Higher Education World University Rankings 2026. Namun, mulai semester ini, Penn tidak lagi hanya mengandalkan mahasiswa untuk menilai sendiri apakah mereka telah memenuhi persyaratan tersebut.

Wakil Dekan Studi Sarjana College of Arts & Sciences Penn, Molly McGlone, mengatakan pihak kampus dan Departemen Matematika kini melakukan proses verifikasi saat mahasiswa mendaftar mata kuliah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semester ini, College dan Departemen Matematika bersama-sama menerapkan proses untuk memverifikasi bahwa mahasiswa memenuhi prasyarat yang sudah ada pada saat pendaftaran mata kuliah," ujar McGlone seperti dikutip detikEdu dari Inside Higher Ed.

ADVERTISEMENT

Menurut dia, kebijakan tersebut dirancang agar mahasiswa dapat mengikuti kelas matematika yang sesuai dengan tingkat kesiapan mereka.

"Perubahan ini mencerminkan pertimbangan yang matang mengenai bagaimana membantu mahasiswa belajar pada tingkat pembelajaran yang sesuai bagi mereka, yang kami yakini akan meningkatkan hasil belajar bagi semua mahasiswa," katanya.

Ketua Departemen Matematika Penn, Jonathan Block, mengatakan kebijakan tersebut setidaknya didorong oleh kebutuhan untuk memperbaiki proses bimbingan dan penempatan mahasiswa.

"Kami berupaya memberikan panduan dan penempatan yang lebih baik ke dalam kurikulum. Dalam beberapa kasus, mahasiswa mengabaikan prasyarat dan mendaftar ke kelas yang mereka pikir sudah siap diikuti, tetapi ternyata terlalu sulit bagi mereka," ujar Block pada The Daily Pennsylvanian.

Kemampuan Matematika Mahasiswa Jadi Perhatian

Penerapan aturan tersebut berlangsung ketika kemampuan matematika mahasiswa menjadi perhatian di sejumlah perguruan tinggi.

Pamela Burdman, pendiri sekaligus direktur eksekutif Just Equations, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pemerataan pendidikan matematika di California, mengatakan aturan prasyarat sebenarnya sudah umum diterapkan di perguruan tinggi.

Namun, menurut dia, bentuk dan tingkat ketat penerapannya berubah dari waktu ke waktu.

Banyak sistem perguruan tinggi, kata Burdman, mulai meninggalkan prasyarat remedial yang mengharuskan mahasiswa mengulang materi matematika tingkat sekolah menengah. Sebagai gantinya, sejumlah kampus menerapkan strategi corequisite, yakni mahasiswa mengikuti mata kuliah tingkat perguruan tinggi sambil mendapatkan dukungan tambahan.

Menurut Burdman, penelitian menunjukkan sebagian mahasiswa sebelumnya ditempatkan pada mata kuliah yang levelnya lebih rendah meskipun sebenarnya mereka memiliki kemampuan untuk berhasil di tingkat yang lebih tinggi.

Dalam konteks Penn, penerapan prasyarat tersebut merupakan bagian dari jalur pembelajaran matematika standar di perguruan tinggi, termasuk kalkulus, aljabar linear, dan persamaan diferensial.

Hanya Sebagian Siswa SMA Langsung Lanjut Kalkulus II

Burdman juga mengutip penelitian David Bressoud, profesor emeritus Macalester College sekaligus mantan presiden Mathematical Association of America.

Menurut penelitian tersebut, hanya sekitar satu dari lima siswa yang mengambil kalkulus di sekolah menengah yang kemudian langsung mengambil Calculus II di perguruan tinggi.

Sementara itu, sebagian besar siswa yang telah belajar kalkulus di SMA akan kembali mengambil materi kalkulus di perguruan tinggi, memilih mata kuliah matematika tingkat lebih rendah, atau mengambil mata kuliah yang tidak mensyaratkan kalkulus, seperti matematika bisnis.

Burdman mengatakan perguruan tinggi yang lebih selektif umumnya mengharapkan mahasiswa jurusan STEM telah mengambil kalkulus jika mata pelajaran tersebut tersedia di sekolah mereka, atau setidaknya siap mempelajarinya ketika masuk perguruan tinggi.

Namun, akses terhadap pembelajaran kalkulus di tingkat SMA tidak merata. Menurutnya, mahasiswa kulit hitam dan Latin secara umum memiliki akses yang lebih rendah terhadap mata pelajaran kalkulus.

Karena itu, sejumlah perguruan tinggi mulai menyediakan mata kuliah precalculus sebagai jalur persiapan sebelum mahasiswa mengambil kalkulus.

Burdman juga menyoroti penurunan capaian matematika secara nasional di Amerika Serikat.

Salah satu laporan University of California, San Diego, yang diterbitkan pada November 2025 menyebut jumlah mahasiswa tahun pertama dengan kemampuan matematika di bawah tingkat sekolah menengah pertama meningkat hampir 30 kali lipat dalam lima tahun.

Setelah laporan tersebut muncul, ratusan profesor matematika dalam sistem University of California juga mendorong agar persyaratan tes standar untuk masuk perguruan tinggi, seperti Scholastic Assessment Test (SAT) dan American College Testing (ACT), kembali diterapkan.

Burdman mengatakan pandemi COVID-19 memang mempercepat penurunan kemampuan matematika, tetapi tren tersebut sebenarnya sudah berlangsung sebelumnya.

Ia menyebut sejumlah faktor jangka panjang yang diduga turut berperan, seperti meningkatnya ketidakhadiran siswa di sekolah, penggunaan media sosial, serta penggunaan kecerdasan buatan (AI).



(pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads