detikBali

Kemenpar Kaji Listrik Bawah Tanah di Desa Sade hingga Bangun Museum Sementara

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kemenpar Kaji Listrik Bawah Tanah di Desa Sade hingga Bangun Museum Sementara


Ahmad Viqi - detikBali

Konferensi pers Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bersama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri di Poltekpar Lombok, Kamis malam (27/8/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali).
Foto: Konferensi pers Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bersama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri di Poltekpar Lombok, Kamis malam (27/8/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali).
Lombok Tengah -

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bakal membenahi sistem pencahayaan dan pasokan listrik di Desa Adat Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah tersebut dilakukan untuk menekan risiko kebakaran setelah insiden yang menghanguskan 75 rumah adat di kawasan tersebut.

Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah pemasangan instalasi listrik bawah tanah. Wacana ini muncul setelah kebakaran diduga dipicu korsleting listrik di salah satu rumah warga.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menegaskan pentingnya membangun infrastruktur keselamatan yang mumpuni di Desa Sade. Mulai dari pasokan air hingga instalasi kelistrikan yang aman bagi lingkungan adat di Sade.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami sudah diskusi di dalam, tentu kami akan mendengarkan usulan itu (tidak ada listrik). Tapi apabila menggunakan api, itu juga akan meninggalkan risiko juga ya, jadi tentunya infrastruktur keselamatan harus kami bangun di sana untuk pemadam kebakaran," ujar Widiyanti usai berdiskusi dengan pihak terkait di Lombok Tengah, Kamis (27/8/2026).

Menurut Widiyanti, kebutuhan listrik di kawasan adat juga perlu dikaji dengan tetap mempertimbangkan keamanan dan kelestarian lingkungan. Salah satu alternatifnya adalah menyalurkan jaringan listrik melalui instalasi bawah tanah sehingga tidak mengganggu estetika Desa Adat Sade.

ADVERTISEMENT

"Kami lihat kebutuhan di sana, butuh listrik tidak? Ada juga cara menyalurkan listrik dari bawah tanah ke atas," tegasnya.

Meski demikian, Widiyanti memastikan setiap opsi pembangunan infrastruktur tidak akan diputuskan secara sepihak. Pihaknya akan tetap mengedepankan komunikasi aktif dengan warga lokal agar solusi yang ditawarkan selaras dengan kearifan lokal.

"Itu nanti bisa didiskusikan dengan masyarakat," pungkas Widiyanti.

Menpar Bantu 15 Alat Tenun-Bangun Museum Sementara

Kemenpar menyerahkan bantuan 15 alat tenun untuk memulihkan aktivitas para perempuan di Desa Adat Sade yang kehilangan mata pencahariannya.

"Alat penenun secepatnya, tadi kami sudah mendonasikan beberapa alat tenun, ada 15 yang kami kumpulkan untuk ibu-ibu," tutur Widiyanti.

Widiyanti mengatakan kebutuhan alat tenun warga mencapai sekitar 60 unit. Untuk memenuhi kekurangan tersebut, Kemenpar akan berkoordinasi dengan kementerian dan pihak lain yang berpotensi memberikan bantuan.

"Yang dibutuhkan 60 unit dan mudah-mudahan di Kemenbud saya dengar ada juga yang akan mendonasi. Mudah-mudahan setidaknya 15 sudah ada," ujarnya.

Selain membantu memulihkan aktivitas para penenun, Kemenpar tengah menyiapkan langkah pemulihan kawasan Desa Wisata Sade pascakebakaran. Pemulihan tidak hanya menyasar bangunan fisik, tetapi juga perekonomian masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.

"Ini akan dikaji lagi untuk 75 rumah adat yang hangus dan juga ada masjid dan museum ya. Kami juga akan buat pembangunan museum sementara," ujarnya.

Langkah pembuatan museum sementara ini kata dia, dinilai krusial agar mata pencaharian warga tetap berputar lewat kunjungan wisatawan.

"Agar wisatawan bisa datang melihat historinya dan memberikan pemasukan untuk warga Desa Sade. Untuk biayanya, kami tidak bisa disclose sekarang, karena waktunya tidak akurat ya," jelasnya.

Proses perancangan teknis pun kini sedang dimatangkan oleh tim terkait sebelum anggaran rekonstruksi Desa Adat Sade resmi dirilis. Untuk mengetahui besaran dana yang disiapkan, perlu disusun detail engineering design (DED) terlebih dahulu.

"Kami harus membuat DED-nya dulu, untuk tahu perhitungannya persisnya seperti apa. Kami akan berupaya semaksimal mungkin dengan pendanaan, dan melihat dari mana yang bisa terus membantu perkembangan ini," tambahnya.

Guna mempercepat proses rekonstruksi kawasan Sade, skema pendanaan tidak hanya mengandalkan satu sumber dari APBN dan APBD. Menpar memastikan sinergi lintas sektor akan dibuka selebar-lebarnya.

"Tentunya ini tidak hanya APBN, itu akan melibatkan swasta, mitra, dan juga dari berbagai kalangan," tegasnya.

Tak hanya pembangunan fisik, Kemenpar juga menyiapkan langkah taktis untuk menjaga kepercayaan wisatawan serta memperkuat kapasitas warga lokal pasca-bencana.

"Sekarang kami ada program desa wisata, tentunya kami punya mitra-mitra yang kami bisa ajak untuk terus bersama-sama membina dan membangun desa wisata, termasuk Desa Sade, seperti pelatihan, dan pengetahuan mengenai sertifikasi dan lain sebagainya," tandasnya.



(nor/nor)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads